Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Hambar!


__ADS_3

Setelah mengantar Hafizah, Biru segera menjemput Maya, di sana, Biru mendapatkan tatapan tidak suka dari Manggala.


Lalu Gala mendekati Biru, mengancam pria itu, "Awas! Lu berani sakitin kakak gua lagi, gua nggak akan tinggal diam!"


Biru hanya tersenyum pada Gala, menganggap kalau ancaman itu adalah ancaman kaleng.


Sekarang Maya dan Ifraz sudah berada di mobil, giliran Biru mencium punggung tangan Lisna kemudian pamit dan Lisna yang keadaannya sudah semakin membaik itu bertanya dengan susah payah, menanyakan apa yang terjadi dengan Biru sampai wajahnya babak belur.


"Ini bukan masalah serius, Bu. Ibu tenang saja, jaga kesehatan. Nanti hari libur kami berkunjung lagi," kata Biru, pria itu tersenyum sumringah pada Lisna dan Gala, setelah itu Biru masuk ke mobilnya dan perlahan mulai meninggalkan rumah Lisna.


Sekarang hubungan Biru dan Maya kembali baik, keduanya menjalani mahligai rumah tangga seperti sedia kala, tetapi setelah cinta itu terbagi, Biru tidak dapat lagi seutuhnya mencintai Maya, tetap saja ada ruang dan pikiran yang sesekali teringat tentang Hafizah.


Biru juga sudah membereskan gosip yang beredar di kantornya tentang wanita hamil, sekarang semua sudah kembali normal.


Dua minggu telah berlalu, Maya mencoba melupakan sakit hatinya dan berusaha mempercayai suaminya lagi, tetapi tetap saja, selalu ada pikiran negatif dari Maya tentang Biru.

__ADS_1


Seperti sekarang ini, Biru mengatakan kalau dirinya akan lembur, tetapi Maya tidak mempercayainya. Maya harus mengeceknya sendiri ke kantor, benar saja, Maya menitipkan Ifraz pada Susi dan Maya beralasan mengantarkan makan malam untuk suaminya.


Sesampainya di sana, Maya melihat kalau Biru benar-benar sedang bekerja.


"Selamat sore, Mas," sapa Maya, wanita bermata sipit dengan rambut tebal bergelombang itu berjalan dengan anggun mendekati suaminya.


Biru meraih tangan Maya, membawanya duduk ke pangkuannya. Setelah itu, Maya membuka kotak nasi yang dibawanya.


Maya menyuapi Biru dan Biru merasa senang diperhatikan oleh istrinya.


Masih ada kekecewaan dihatinya yang entah sampai kapan akan bersarang di sana.


Sampai habis tak tersisa Maya menyuapi makan malam suaminya, lalu Maya bangun untuk membereskan peralatan makan itu dan Maya pamit untuk pergi ke kamar mandi, di sana Maya menangis, dalam hatinya bertanya, mengapa dirinya belum bisa bahagia walau akhirnya Biru memilih untuk bertahan dengannya.


Lalu, hati terdalam Maya menjawab, "Semua butuh proses, May! Bahkan mengembalikan hati yang hancur itu tidaklah mudah! Yang kamu butuhkan sekarang adalah bersabar dan kembalikan keharmonisan itu di tengah keluarga kecilmu! Semua demi Ifraz!"

__ADS_1


Sementara itu, di rumah Hafizah, gadis itu benar-benar hamil dan sekarang dirinya sedang tak berdaya karena merasa lemas dan pusing bahkan Hafizah mengalami morning sickness.


"Kita ke bidan aja, Afi!" ajak Bambang yang berdiri di pintu kamar anaknya.


"Iya," jawab Afi dan Bambang mengantar anaknya itu.


Sesampainya di sana, bidan tersebut menanyakan keberadaan ayah dari si cabang bayi.


Bambang memilih untuk diam dan Hafizah menjawab kalau suaminya masih bekerja.


Setelah memeriksakan kandungnya, Hafizah mendapat beberapa resep obat untuk mengurangi rasa mual dan vitamin.


Setelah itu, Hafizah keluar dari ruangan bidan dan di luar Hafizah melihat seorang wanita muda yang diantarkan oleh suaminya untuk memeriksakan kandungannya. Tentu saja, pemandangan itu membuat Hafizah merasa iri dan ingin merasakan rasanya diperhatikan oleh ayah dari anak yang berada di dalam kandungannya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2