
Biru memilih untuk membawa Dinara keluar dari kantor polisi, untuk menenangkan gadis kecil itu Biru membelikan es krim strawbery untuknya.
Sekarang, Biru dan Dinara sedang berbelanja es krim di minimarket lalu membawa Dinara kembali ke tokonya.
"Loh, gimana Pak? Katanya ke kantor polisi?"
"Gimana, manggil aku ayah mulu! Mana ada orang percaya anak ini bukan anak aku!" jawab Biru seraya mendudukkan Dinara di kursi plastik.
Setelah itu, Biru menanyai nama gadis itu.
"Namamu siapa?"
Dinara menjawab dengan menggelengkan kepala, sesekali menjilati eskrim yang ada di tangannya membuat Biru tidak mengerti harus memanggilnya siapa.
Sampai Biru membawa Dinara pulang ke rumahnya, Biru memanggilnya dengan sebutan ' hay, anak kecil'.
Biru memperhatikan pakaian yang dipakainya, "Dilihat dari harga pakaiannya ini sangat mahal. Tapi siap yang tega membuang anak ini?" gumam Biru seraya memperhatikan Dinara yang sedang bermain ponselnya di ranjang.
"Hay, anak kecil. Sudah malam, tidur!" perintah Biru seraya meraih ponsel yang ada di tangan Dinara tentu saja perlakuan Biru membuat Dinara menangis.
Biru menjadi pusing, selain lelah juga merasa tidak tega pada Dinara yang selalu menangis. Sekarang Biru menggendong Dinara dan mencium aroma tidak sedap dari popok Dinara.
Biru memeriksanya ternyata popok itu sudah penuh dengan ompolnya.
Biru membuka popok itu tetapi di rumahnya tidak ada popok untu ganti, mau tidak mau, Biru membawa Dinara yang tanpa popok atau celana itu keluar dari rumah, membawanya ke warung terdekat untuk membeli popok.
Di warung, Biru bertemu dengan Pak RT.
Biru merasa kebetulan untuk melaporkan keberadaan Dinara, Biru takut akan disangka telah menculik anak orang.
Setelah mendengar penjelasan Biru, Pak RT berjanji akan membantu Biru mencari orang tua anak tersebut.
Sekarang, Biru sudah kembali ke rumahnya, memakaikan popok baru untuk Dinara dan baru saja popok itu terpakai, Dinara sudah merengek meminta pup.
"Ayah, e e!'' kata Dinara seraya berusaha menarik kebawah popoknya, menatap Biru seolah meminta tolong tetapi takut pada pria yang baru sehari ini ia panggil ayah.
"Astaga, cara cebokin bocah gimana?" batin Biru dan segera Biru membopong Dinara, membawanya cepat ke kamar mandi dan Dinara langsung berjongkok di wc.
Biru menutup hidungnya seraya menyiram kotoran Dinara, setelah itu, Biru, mau tak mau harus mencebokki Dinara dan ini adalah untuk pertama kalinya bagi Biru . Setelah itu Biru mencuci tangannya menggunakan sabun, selesai dengan itu Biru menuntun Dinara untuk keluar dari kamar mandi.
Pengalaman ini, membuat Biru berandai-andai, andai yang ia rawat adalah anaknya.
__ADS_1
"Hay, anak kecil, siapa nama kamu?" sekali lagi Biru bertanya seraya memakaikan popok.
Dinara yang pendiam itu menggelengkan kepala, matanya menyapu seluruh ruangan, dalam hatinya mencari-cari ibunya yang sudah tiada.
Sekarang, Biru yang lelah itu menjatuhkan dirinya di ranjang di susul oleh Dinara yang berada di sampingnya, seolah menjadi pelipur lara, Biru tersenyum pada gadis kecil yang sedang menggigit jari-jarinya, menatap Biru yang tersenyum.
"Malaikat dari mana kamu?" kata Biru dan Dinara tersenyum lebar seraya mengusap kan tangannya yang basah pada wajah Biru, lalu, Dinara kembali menggigit jarinya.
"Jangan gigit jari, nanti sakit perut! Kamu tau? Tangan itu kotor banyak kumannya, nggak boleh kamu gigit jari, ya!" ucap Biru seraya menahan tangan Dinara supaya tidak kembali masuk ke mulut.
Hari-hari Biru lalui bersama dengan malaikat kecilnya, tanpa terasa rasa sayang untuk Dinara pun tumbuh Biru juga tidak lagi keberatan untuk menjadi ayah baginya.
Sementara Maya, wanita itu sekarang berteman baik dengan Bram.
Maya memaafkan semua kesalahan Bram di masalalu.
Sekarang, Bram mengikuti Maya ke Surabaya tanpa sembunyi-sembunyi, tetapi masih menjadi pemuja rahasia Maya.
Satu bulan setelah kelulusannya, Bram belum juga mendapatkan pekerjaan membuat Maya ingin membantunya.
Sekarang, Maya, Bram dan Ifraz sedang makan malam di sebuah kedai sederhana, Bram yang mentraktirnya.
"Makasih, kamu udah ajak aku sama Ifraz jalan-jalan," kata Maya, wanita itu tersenyum tipis pada Bram.
Tidak menunggu lama, pesanan ayam geprek pun datang dan Bram yang pengertian itu meminta pada Maya untuk makan lebih dulu dan Bram menjaga Ifraz.
"Terimakasih," ucap Maya.
"Terimakasih mulu!" protes Bram seraya menggendong Ifraz.
"Terus, masa mau terimagaji!"
"Terimasayang!" jawab Bram, pria itu sedikit menggoda Maya, membuat Maya terdiam tak bisa menjawab.
"Duh, gombalnya nggak ada obat!" gumam Maya dan terdengar oleh Bram.
"Setelah ini kita mau kemana?" tanya Bram yang sedang memangku Ifraz, memberikan cemilan Ifraz yang Maya bawa dari rumah.
"Kita mandi bola aja gimana?"
Bram menganggukkan kepala.
__ADS_1
Benar saja, selesai dengan makan sorenya. Sekarang Bram membawa Maya dan Ifraz ke sebuah mall besar di kota tersebut.
Maya memperhatikan Ifraz yang sudah mulai akrab dengan Bram. Mereka sedang bermain bersama dan Maya mengambil potret mereka, tanpa Maya tau sebenarnya Bram sedang berbisik pada Ifraz, meminta pada jagoan kecil itu untuk memanggil Daddy padanya.
"Daddy?" lirih Ifraz dan Bram merasa sangat senang dengan sebutan itu.
"Yaaaayy! Kita tos dulu!" kata Bram seraya menaikkan dua tangannya dan Ifraz yang selama ini merindukan sosok ayah pun merasa telah memiliki ayah.
****
Bukan hanya Bram dan Maya yang sedang bersenang-senang, Biru pun sedang melakukan hal yang sama dengan malaikat kecilnya.
Biru memberi nama anak itu Oktavia dan Pia adalah nama panggilan Biru untuk gadis kecil yang sekarang sedang naik bianglala bersama dengannya.
Setelah merasa lelah, sekarang Biru mengajak Pia untuk pulang, tetapi gadis kecil menolak.
"Ayah janji, nanti kapan-kapan kota berlibur lagi, sekarang kita pulang dulu!" ajak Biru dan Pia pun menangis, setelah naik bianglala, Pia yang masih menangis itu tertidur di gendongan Biru.
Biru membawa gadis kecilnya ke motor, mendudukkan Pia di depan yang sudah ia pasang kursi khusus balita.
****
Setelah lelah dan hari sudah malam, sekarang, Maya mengajak Bram untuk pulang.
Bram menggendong Ifraz di tangan kirinya dan tangan kanannya meraih tangan Maya membuat Maya merasa berdebar.
"Astaga, kenapa jadi kaya orang pacaran?" gumam Maya dalam hati.
Sementara Bram, pria itu merasa senang karena Maya tidak menolak.
Sekarang, sampai di mobil, Ifraz tidak mau lepas dari pelukan Bram, pria kecil itu meminta duduk bersama dengan Bram di bangku kemudi.
"Faz, nanti om susah nyetirnya," kata Maya dan Ifraz tetap menolak.
"Nggak mau!" ucapnya dengan tegas.
"Ifaz mau sama Daddy!" lanjut Ifraz dan ucapannya itu membuat Maya bertanya, "Daddy?"
"Nggak papa kok, May. Aku bisa mangku sambil nyetir!" jawab Bram seraya memarkirkan mobilnya.
"Maafin anak aku, ya. Dia manja!"
__ADS_1
"Nggak papa, aku suka!" jawab Bram, pria itu tersenyum manis pada Maya.
Bersambung.