Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Meminta Maaf


__ADS_3

Biru merasa di perhatikan membuat pria itu melihat sisi kanannya dan melihat Maya yang sedang memangku putranya, menatap dirinya.


Seluruh waktu seolah berhenti saat matanya saling menatap, bahkan Biru sampai tidak menyadari kalau lampu sudah berganti, suara klakson dari belakang lah yang membuyarkan lamunan Biru.


"Maya!" batin Biru, pria itu bergegas mengejar taksi yang maya tumpangi, tetapi Biru kehilangan jejak, ditambah lagi, Biru yang membawa seorang balita tidak mungkin dapat mengendarai motor dengan kecepatan tinggi.


"Aahh!" geram Biru, pria itu merasa hilang kesempatan untuk bertemu dengan putranya.


"May. Tidak adalah kesempatan untuk aku?" batin Biru, pria itu membawa Pia ke toko dan selama itu pula Biru menjadi diam.


"Aku sepi, May. Aku mengaku aku bersalah, aku sadar akan semua salah aku! Tolong beri aku kesempatan untuk melihat anak aku, May!" batin Biru, pria itu sedang duduk di ruang yang hanya karyawan diizinkan masuk.


Sedangkan Pia, gadis itu sedang memakan buah pisang yang di berikan oleh Aris.


Biru membayangkan kalau Pia adalah putranya, Biru menangis dan Pia memperhatikannya.


****


Maya sedang membujuk Ifraz agar mau meminum obat, tetapi tak semudah itu, karena itu adalah hal tersulit bagi Maya selama ini. Ya, Ifraz akan selalu menolak untuk meminum obat.


"Kamu kecapean ya sayang, jadi demam?" tanya Maya pada Ifraz yang berada di gendongannya, pipi dan hidungnya memerah.


"Gal, panasnya belum turun. Kita rawat aja?" tanya Maya, wanita itu panik karena demam Ifraz tak juga turun.


"Ya udah, ayo, Mbak." kata Gala, pria itu yang sudah pandai menyetir meminjam mobil tetangganya.


"Hati-hati, Gal!" kata Maya yang duduk di sampingnya.


Gala menganggukkan kepala dan segera membawa Ifraz ke rumah sakit terdekat.


Sesampainya di sana, Maya segera mendaftarkan Ifraz Maya juga tidak lupa menghubungi Murni.


****


"Apa? Jadi kalian di Jakarta? Kenapa nggak bilang sama mamah?" tanya Murni dari sambungan teleponnya.


"Iya, maaf, Mah. Sekarang Maya di rumah sakit," jawab Maya yang tidak lupa memberitahu alamat RS tersebut.


"Mamah segera datang!" jawab Murni, setelah itu memutuskan sambungan teleponnya.

__ADS_1


Murni yang baru saja keluar dari rumah itu tak menyadari kalau dirinya sedang diawasi oleh Biru. Ya, Biru menitipkan Pia pada Aris demi ingin mencaritahu di mana Maya dan sebenarnya Murni mengetahui itu tetapi ia dengan sengaja mengabaikan itu, Murni ingin Biru bertemu dengan anaknya.


Sesampainya di rumah sakit, Biru semakin penasaran.


"Siapa sakit?" batin Biru seraya secepat kilat memarkirkan motornya.


Biru mengikuti Murni dan terlihat Murni masuk ke ruang rawat. Biru segera bersembunyi saat melihat Gala keluar dari ruangan tersebut.


"Atau Maya sakit? Atau Ifraz?" gumam Biru dan setelah Gala benar-benar pergi sekarang Biru memberanikan diri untuk mendekati ruangan tersebut.


"Mah, maafin Maya, ya. Maya udah nggak betah di sana, Maya ingin kembali tinggal di Jakarta," lirih Maya dan Biru yang berdiri di balik pintu itu mendengarnya.


Tidak lama kemudian, Biru mendengar suara bariton dari belakangnya, pemilik suara itu adalah Gala.


"Lu ngapain di sini?"


Biru melihat ke belakang dan Biru yang sekarang seolah tak memiliki kekuatan, pria itu diam tak tau harus menjawab apa, tetapi, tanpa di duga, Gala memberitahu kalau Ifraz sedang sakit.


"Anak lu sakit!"


Lalu, pintu itu terbuka dari dalam, terlihat Murni menatap Biru.


"Biru memang bodoh, tolong maafkan kebodohan ini," kata Biru seraya berlutut di kaki Murni.


"Bangun!" perintah Murni, wanita itu merasa sebal karena anaknya hanya bisa mengikuti, tidak pernah pulang walau sudah berada di luar rumah.


Sementara Maya, wanita itu berdebar, takut Biru masih seperti yang dulu, wanita itu berdiri menghalangi Biru, membuat pria itu tak dapat melihat putranya.


"Mau apa kamu datang?" sergah Maya, sementara Murni mengajak Gala untuk keluar. Memberikan ruang untuk Maya dan Biru.


"A-aku!" lirih Biru terbata. Pria itu berjalan mendekat dan Maya memundurkan langkahnya.


Menyadari itu membuat Biru berlutut, memohon pada Maya dan Maya berdecak.


"Hahh! Ini pasti akal-akalan dia aja!" gerutu Maya seraya bersedekap dada.


"Aku memang bodoh, May. Aku mau minta maaf, aku hanya ingin melihat anakku!"


"Dia anakku, Mas. Kamu sudah bahagia dengan pilihan mu, jadi tolong jangan ganggu aku sama anakku!"

__ADS_1


Biru meraih tangan Maya dan Maya menyingkirkan tangan Biru dari tangannya. "Jangan sentuh aku, kita sudah bukan suami, istri lagi!"


"May, aku minta maaf!" kata Biru seraya bangun dari berlututnya, lalu terdengar suara Ifraz yang terus memanggil Daddy.


"Daddy!"


"Iya, papah di sini, Nak!" kata Biru, pria itu merasa senang karena mengira Ifraz telah memanggil namanya.


Namun, seorang pria yang tak lain adalah Bram datang dan berjalan melewati Biru, Bram mendekati Ifraz.


"Iya, Daddy di sini, sama Ifaz!"


Mendengar itu membuat hati Biru merasa teriris, anaknya memanggil Daddy pada pria lain.


Biru mematung melihat itu, melihat Bram yang begitu perhatian pada anaknya, terlihat kasih sayang yang tulus dari Bram.


"Daddy?" tanya Biru dalam hati, "apa mereka sudah menikah?" lanjut Biru?" Pria itu memilih untuk keluar dari ruangan putranya, tak kuasa melihat kedekatan Ifraz dan Bram.


Sekarang, Biru memilih untuk menjemput Pia di toko dan hari sudah malam, Biru memerintahkan Aris untuk menutup tokonya.


Selama perjalanan, Biru hanya diam sedangkan Pia tertidur dengan menyandarkan kepalanya ke stang motor.


Sesampainya di rumah, Biru membopong Pia, menidurkannya di kamar, Biru yang tak dapat berhenti memikirkan Ifraz itu menitikkan air mata.


"Papah di sini, Ifraz, aku papah kamu bukan dia!" kata Biru dalam hati.


Pria itu memilih untuk tidur di sofa panjang, menatap langit-langit ruangan tersebut.


"Apa kmu nggak akan berjuang, Biru?" tanyanya dalam hati.


Lalu Biru teringat dengan tatapan mata Maya yang masih membenci dirinya.


"Dia masih membenciku!" jawabnya.


"Kamu harus berusaha lebih keras lagi!" kata hati Biru.


"Ya, aku harus berusaha, bagaimana hasilnya itu urusan belakangan. Yang terpenting adalah aku harus mendapatkan maaf Maya!"


Bersambung.

__ADS_1


Dapatkah Maya memaafkan Biru dan meluruskan kesalahpahaman yang mengira kalau Biru sudah bahagia dengan pilihannya?


__ADS_2