
Kania yang berlari itu segera menyetop taksi dan mengatakan alamat tujuannya.
Sesampainya di rumah, Kania melihat Daniel sedang berada di ruang kerja, duduk dengan membelakangi pintu ruang kerjanya yang terbuka.
Daniel sedang menangis, menangisi semua kenangan indah bersama Maya di rumah itu.
Daniel tak habis pikir, ia mengira kalau diamnya Maya selama ini baik-baik saja.
Kania pun mendekat, ia melihat punggung Daniel bergetar dengan kepala menunduk.
Kania mengerti apa yang sedang dirasakan oleh ayahnya.
"Papah," lirih Kania seraya berjalan mendekat.
Daniel segera menghapus air matanya dan tersenyum yang dipaksakan.
Kania pun segera masuk ke dalam pelukannya.
"Papah, jangan sedih, ada Ken di sini," ucap Ken berusaha menghibur ayahnya.
"Iya, sayang. Jangan pernah tinggalkan papah," jawab Daniel seraya mengusap rambut Kania.
Setelah itu, Kania mengajak Daniel untuk makan, walau tak bisa menelan, Daniel memaksakan, tidak ingin putrinya melihat dirinya yang rapuh.
Keduanya makan tanpa suara dan tak terasa air mata lolos begitu saja dari dari mata dua manusia yang sedang menahan sakit di hatinya itu.
Tak sanggup membuat Kania berlari, gadis yang masih mengenakan seragam itu masuk kamar dan Daniel segera bangun dari duduknya, ia berjalan pelan dan sekarang ia masuk ke kamarnya, di kamar, lelaki menyedihkan itu melihat banyak kenangan yang terputar seolah dirinya sedang menonton kaset.
Daniel berpikir untuk menyimpan semua foto Maya yang terpajang di kamar, berharap dapat mengurangi kesedihan hatinya.
Sekarang, Daniel mulai menurunkan satu persatu foto itu, sebenarnya Daniel ingin membakar tetapi tak tega.
"Bi!" seru Daniel dari pintu kamarnya, ia berdiri dengan dua tangan dimasukkannya ke dalam saku celana.
"Iya, saya Den," sahut bibi yang tergopoh.
"Simpan ini di gudang dan saya mau semua foto Maya di rumah ini dibersihkan!" perintah Daniel dan bibi yang mendengar itu segera melaksanakan perintah.
__ADS_1
****
Di kamar Kania, ia sedang duduk di tepi ranjang, menatap foto keluarganya yang terpajang di dinding.
"Mah, kenapa mamah tega melakukan ini, Ken sedih, Mah. Ken benci, Ken sakit, Ken nggak suka mamah!" lirih Kania seraya menundukkan kepala.
Ia kembali teringat kejadian beberapa hari lalu saat dirinya mencoba membujuk Maya dan jawaban yang Maya berikan adalah, "Ken, bersabarlah. Mamah yakin suatu saat kamu akan mengerti."
"Mengerti apa, Mah? Mengerti kalau mamah meninggalkan Ken? Iya?" teriak Ken pada dirinya sendiri.
Kania menangis sesenggukan, masih tak mengerti, masih tak percaya dengan apa yang terjadi.
Sekarang, Kania meringkuk dengan hati yang terus memanggil Maya, ia ingin Maya selalu ada bersama dirinya dan Daniel.
Kania berpikir, mungkin dirinya harus sakit lebih dulu supaya Maya mau mendengarkannya.
****
Di kamar Maya, ia juga menangis, teringat dengan Ken dan juga Daniel, bahkan Maya tidak meminta sepeserpun harta gono-gini dari Daniel tetapi Daniel diam-diam menolak permintaan Maya, bagi Daniel itu adalah kesempatan terakhirnya untuk memberi pada Maya.
"Maafkan aku, Dan. Aku merasa ini lebih baik untuk kita, kamu bisa menjadi dirimu setelah ini, begitupun dengan aku!"
Malam itu di taman kota, saat Maya mengatakan perceraian dan tak dapat ditahan oleh siapapun, ia mengatakan sesuatu pada Daniel, sesuatu yang membuat Daniel akhirnya menyetujui permintaan Maya.
"Dan, aku tau kamu, aku mengenal kamu dari sebelum menikah dan setelah menikah. Aku merasa kalau kamu juga sebenarnya selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk mengambil hati aku, tapi yang harus kamu tau, penting bagiku untuk menjadi diri sendiri dan kita sama-sama tidak menjadi diri sendiri. Aku berusaha menjadi menantu yang baik, istri yang baik walaupun selalu di curigai, lebih sakit lagi saat aku tidak boleh dekat dengan anak dan cucuku! Selama belasan tahun aku menanti saat kita bisa kembali seperti dulu, tetapi aku seperti tidak menemukan apa yang ku cari. Aku yakin kamu juga lelah kalau harus curiga dan selalu berpikir takut aku akan meninggalkan kamu demi yang lain, padahal aku sudah mengatakan kalau aku akan ada di sisimu, tetapi kamu tidak mempercayai aku, demi kita, mari kita sudahi ini semua."
Mendengar itu Daniel membenarkan ucapan Maya kalau selama ini dirinya selalu hidup dalam ketakutan, takut tidak bisa membahagiakan Maya, Maya akan meninggalkannya lagi, takut Maya tidak mencintai, takut dirinya akan membuat Maya marah sehingga dirinya tidak bebas dalam mengekspresikan rasa cintanya untuk Maya.
"May, apakah tidak ada kesempatan untuk kita memulai lagi?" lirih Daniel, pria itu menatap Maya dengan penuh harap.
"Kesempatan apa? Apakah pernikahan untuk coba-coba?" tanya Maya dan Daniel pun tertunduk, ia menahan air matanya di depan wanita yang ia cintai.
"Lima belas tahun bukan waktu yang singkat! Aku beruntung bisa lepas dari obat-obatan itu karena Ifraz selalu menjagaku," ucap Maya dan ternyata Daniel tidak mengetahui itu.
"Obat?" tanya Daniel.
"Ya, aku tertekan, aku pergi ke dokter dan mendapatkan obat itu dari dokter."
__ADS_1
"Apa, bahkan istriku sakit saja aku tidak tau!" batin Daniel, pria itu masih menatap Maya.
Lalu, Maya menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya, waktu menunjukkan pukul delapan malam, Maya pamit pada Daniel.
Namun, langkah Maya terhenti saat Daniel mencoba menyalahkan Maya untuk semua yang terjadi.
"Kenapa kamu tidak pernah jujur sama aku, Maya? Kenapa kamu selalu memendam semua sendiri?" Daniel menundukkan kepala, menatap rerumputan yang ada di depannya.
"Iya itu salahku, aku selalu menahan semua sendiri, sama seperti kamu!" jawab Maya, setelah itu Maya berjalan perlahan meninggalkan area taman kota.
Daniel hanya bisa menatap kepergiannya.
"Ya benar, aku pun selalu menahan segala yang kurasakan!" batin Daniel.
Pria itu bangun dari duduknya, mulai pergi meninggalkan taman, berjalan ke arah yang berlawanan dengan Maya.
"Langkah kita tidak lagi sama, kamu ingin bebas dari semua rasa yang ada, bukan menyerah, tetapi, mungkin ini adalah yang terbaik untuk kita, untuk kamu, tepatnya!" batin Daniel, pria itu berjalan seraya mengusap air matanya, tak menghiraukan orang-orang yang melihatnya.
Flashback off.
****
Sepulang dari kantor, Biru menelepon Ifraz, menanyakan, kenapa dirinya tidak ke kantor.
Ifraz menjawab kalau dirinya tidak bisa berbicara dari sambungan telepon.
"Ifraz akan ke rumah."
Setelah mengatakan itu, Ifraz pamit pada Pia yang sedang membaca dongeng untuk puteranya, Ifraz juga pamit pada Maya, ia mengetuk pintu kamar Maya.
Dengan mata sembabnya, Maya membuka pintu dan menanyakan keperluan Ifraz.
"Ifraz ada keperluan kantor, harus pergi dulu!"
"Baiklah, jangan terlalu lelah, kamu juga masih harus kuliah, kan?"
Ifraz menganggukkan kepala dan meminta Maya untuk tidak khawatir.
__ADS_1
Bersambung.
Kira-kira, bagaimana reaksi Biru setelah mengetahui kalau Maya bukan lagi istri Daniel?