
Pertama, aku minta maaf dulu ya, masih banyak typo dan kurang huruf, ada juga kurang kata dan dobel kata. Maaf banyak-banyak 🙏
****
Ifraz pun segera membawa Kania pulang dan sesampainya di rumah, Ifraz dan Kania melihat keseruan Pia dan Maya yang sedang membuat cake di dapur.
Ifraz memperhatikan dua wanita yang sedang tersenyum itu, merasa bahagia dan ingin selalu seperti ini.
Kania yang berdiri di samping Ifraz itu memperhatikan Ifraz yang sedang bersender di pintu dapur dengan senyum di bibirnya.
"Kan udan pernah bilang, kalau Ken lebih suka sama teman abang yang ini dari pada pacar abang itu, nggak suka Ken!" kata Kania, setelah mengatakan itu, Kania ke kamarnya untuk mengganti seragam sekolahnya.
Tidak lama kemudian, Kania pun menyusul Maya dan Pia di dapur, ternyata cake yang dibuat itu sudah hampir matang dan Maya meminta Kania untuk membantu Pia mencuci perabotan.
Pia dan Kania pun bekerjasama untuk membereskan dapur itu.
Sementara bibi sedang menyiapkan bahan masakan yang akan di masaknya untuk makan malam nanti.
Maya menyusul Ifraz yang sedang duduk di sofa ruang tengah, senyum-senyum sendiri seraya menatap ponselnya, Maya sempat berfikir yang tidak-tidak pada putranya yang ia kira sedang menonton adegan dewasa.
Maya merasa lega setelah tahu apa yang sedang ditonton oleh anaknya itu adalah rekaman dirinya dan Pia yang sedang di dapur tadi.
"Kamu suka sama dia?" tanya Maya dari belakang Ifraz, tentunya itu sangat mengejutkan bagi Ifraz karena Maya tiba-tiba sudah berada di belakangnya.
"Mamah, bikin kaget aja," jawab Ifraz yang segera menyimpan ponselnya ke saku.
"Ada-ada aja mamah, gimana mungkin Ifraz akan suka sama Pia, gadis jelek, cupu, bisanya nangis," jawab Ifraz dan Maya pun segera menjewer telinga Ifraz.
"Aa... aa! Sakit," pekik Ifraz.
"Namanya juga wanita, hatinya lembut!" kata Maya, setelah itu segera melepaskan jeweran tersebut.
Hari ini adalah hari bahagia Maya beserta keluarga kecilnya.
Bahkan Pia sangat betah berada di sana sampai lupa pulang membuat Biru berada di meja makan seorang diri.
Memang benar Pia sudah memberi tau kalau dirinya sedang bersama Ifraz, tetapi ada rasa sepi saat Pia tidak ada di rumah.
"Aku harus terbiasa, apalagi kalau nanti Pia menikah, dia akan ikut dengan suaminya," ucap Biru dan lelaki itu semakin merasa kesepian dalam hidupnya.
Biru menahan rasa kesepian itu dengan terus menyantap makan malamnya, seolah hatinya baik-baik saja, padahal hatinya menangis, sesekali bayangan Murni datang, tersenyum padanya, Biru juga seolah melihat Maya dan Ifraz yang ikut duduk bersamanya di sana.
Belum selesai makan, Biru memilih untuk bangun dan menyibukkan dirinya dengan berkas-berkas di ruang kerjanya.
__ADS_1
****
"Zen, buka pintunya, kamu dan anak kamu harus makan," kata Bram yang berdiri di balik pintu kamar Zenia, Bram memasang telinganya di pintu dan kamar itu terdengar sangat sepi.
Bram pun terpaksa mendobrak pintu itu, ia takut kalau Zenia sudah melakukan hal buruk pada dirinya.
Pintu berhasil didobrak, Bram melihat Zenia terkulai lemas dan segera Bram dengan paniknya menghampiri, Bram meletakkan tangannya di dahi Zenia dan ternyata Zenia demam.
"Astaga, kalau sakit kenapa nggak bilang!" kata Bram yang bersiap membopong Zenia tetapi Zenia menolak, ia tidak ingin berharap lebih jauh lagi dari Bram.
"Kita harus ke rumah sakit!" kata Bram dan Zenia menggelengkan kepala.
Akhirnya Bram pun mengambilkan air hangat untuk mengompres Zenia, walau begitu Zenia masih menolak perhatian dari Bram.
Bram yang merasa khawatir itu mulai ingin memarahi Zenia.
"Kamu itu maunya apa sih?" geram Bram dan Zenia yang dibentak seperti itu pun menjadi menangis.
Bram semakin tidak tega melihat Zenia yang menangis, wajahnya terlihat pucat dan sekarang Bram bertanya dengan lembut.
"Katakan, apa yang membuatmu seperti ini?" tanya Bram seraya menatap Zenia, pria itu yang sedang duduk di tepi ranjang mulai ingin mengompres lagi dan kali ini Zenia tidak menolak, ia terlihat pasrah.
Zenia merasa malu kalau dirinya harus mengatakan semuanya sedangkan Bram masih menunggu jawaban Zenia.
"Ceritakan, apa yang mengganggu pikiran kamu? Ingat ibu hamil harus tetap bahagia supaya anak kamu juga bahagia," kata Bram dan Zenia kembali hanya menganggukkan kepala.
Setelah sudah sedikit tenang, sekarang Bram menyuapi Zenia bubur ayam.
Zenia yang selalu berfikir kalau Bram akan meninggalkannya itu kembali menangis.
Berfikir kalau ini adalah detik-detik terakhirnya bersama Bram sebelum Bram menikah.
Bram melihat air mata itu dan segera menghapus air matanya.
"Kenapa?" lirih Bram.
"Zen takut, Om. Takut akan kehilangan, setelah om menikah nanti," lirih Zenia dengan bibir yang bergetar.
"Sssstttt, jangan bicara seperti itu! Om janji tidak akan meninggalkan kamu," kata Bram dan Zenia segera memeluk pria yang usianya jauh lebih dewasa darinya.
"Kenapa bisa senyaman ini sama om?" batin Zenia.
"Aku harus bagaimana, Zen?" tanya Bram dalam hati.
__ADS_1
"Aku juga tidak akan tega kalau kamu harus mengandung tanpa suami," batin Bram.
Sekarang, Bram melepaskan pelukan itu.
"Zen," lirih Bram seraya mengangkat dagu Zenia.
CUP
Bram mengecup bibir Zenia yang basah karena terkena air mata, tanpa penolakan, bahkan Zenia merasa senang, semakin berdebar jantungnya saat Bram menatapnya.
"Zen, menikahlah dengan ku!" kata Bram dan seketika Zenia menjadi gugup.
Gadis itu tak tau harus menjawab apa, entah mau atau tidak.
Tapi dalam hatinya ia menginginkan selalu dekat dengan Bram.
"Bagaimana? Karena kita juga tidak mungkin akan terus bersama begini tanpa pernikahan, kalau kamu masih mencintai Ifraz biarkan pernikahan kita hanya sebagai status, untuk menutupi kehamilan kamu!"
"Om... om sangat memikirkan Zen, terimakasih banyak," jawab Zenia seraya menatap sendu wajah Bram.
Bram hanya menganggukkan kepala dan merasa kalau Marisa tidak akan tinggal diam selama Zenia masih mengandung anak Ifraz.
Lalu, Bram membisikkan sesuatu pada Zenia dan Zenia akan menuruti rencana Bram kalau itu memang yang terbaik untuknya.
Sekarang, Bram mengajak Zenia ke rumah sakit.
Apa yang Bram dan Zenia rencanakan?
Ya, Bram membuat rencana seolah Zenia keguguran dan membuat Marisa tidak lagi akan menggunakan Zenia dan bayinya.
Sekarang, Zenia dan Bram sudah sampai di rumah sakit, keduanya segera turun dari taksi dan Bram menuntun Zenia yang terlihat masih lemas.
Setelah dokter mau membantu rencana Bram, sekarang pria itu memberitahu Marisa kalau Zenia telah kehilangan bayinya.
Marisa yang sedang duduk di ruang kerjanya dengan meminum minuman haram itu menggelengkan kepala.
Kemudian Marisa melemparkan gelas yang ditangannya ke lantai.
"Walaupun Zenia sudah tidak memiliki bayi lagi, tetapi aku tidak akan berhenti untuk membuat Maya menderita!"
Setelah mengatakan itu, Marisa bangun dari duduknya dan entah akan kemana wanita itu sekarang, apa yang ada di otaknya, apa yang dipikirkan oleh wanita ular ini.
Bersambung.
__ADS_1
Yuk, like dan komen, bintang lima juga di favoritkan ya. Terimakasih atas segala bentuk dukungannya 😇