
Maya bangun dari duduknya saat melihat Biru pergi ke kamar mandi, lalu Maya merogoh saku celana suaminya dan menemukan apa yang sedang dicari.
Maya membuka pintu itu dan segera berlari menuruni tangga, mencari Ifraz dan ternyata Ifraz baru saja selesai dimandikan.
Maya segera membopong bayinya, membawanya keluar dari kamar dan pengawal Ifraz selalu mengikuti membuat Maya berteriak.
"Berhenti mengikuti kami!" teriakan Maya membuat Ifraz takut dan membuat Biru mendengar kalau Maya berusaha melarikan diri.
Pria itu yang masih dengan handuk melilit di pinggangnya berjalan cepat menuruni tangga dan segera merebut Ifraz dari gendongan Maya.
"Kalau kamu mau pergi silahkan pergi sendiri! Jangan bawa anakku!" bentak Biru setelah memberikan bayi itu pada suster.
Maya merasa sakit telah diusir oleh suaminya sendiri. Ya, walaupun Maya berniat kabur tetapi tetap saja wanita itu tidak ingin diusir.
Sekarang Maya keluar dari rumah itu hanya membawa tas selempang kecil yang sudah dari semalam ia bawa.
Bahkan Andy dilarang oleh Biru untuk mengantar Maya.
"Tidak ada yang boleh mengantar wanita itu dan ingat kalau kamu kembali ke rumah ini walau apapun itu alasannya berarti kamu setuju dengan semua keputusan ku!" ucap Biru dan Maya menatap tajam suaminya itu.
Setelah itu Maya segera keluar dari istananya, berdiri di depan pagar menunggu taksi.
****
Biru menggerutu karena Maya tidak bisa ancam.
"Aaaaaaaaa!" teriak Biru seraya membanting pintu kamarnya.
"Tenang Biru, dipastikan dia akan kembali karena tidak mungkin dia akan tahan berjauhan dengan anaknya!" ucapnya, pria itu segera berpakaian dan bersiap untuk bekerja, Biru juga melewatkan sarapannya.
Sekarang Biru diantar oleh Andy.
Sementara itu, setelah beberapa menit Maya sudah sampai di rumah Gala.
Maya masuk tanpa mengetuk pintu membuat Gala terkejut dan segera bertanya, "Mbak, kenapa? Mana ponakan Gala?"
"Nanti saja mbak akan bercerita, sekarang mbak merasa lelah!" Setelah mengatakan itu Maya segera masuk ke kamarnya.
"Hiks... hiks... hiks," Maya menangis dengan menyenderkan punggungnya di pintu.
****
Setelah beberapa jam Maya masih berada di kamarnya, Gala menjadi khawatir dan pria tampan itu mengetuk pintu.
"Tok... tok... tok!"
"Kenapa, Gal?"
__ADS_1
"Mbak, Gala mau kuliah, kalau mau makan semua udah Gala siapin!" kata Gala dari balik pintu.
"Iya!" jawab Maya, wanita itu memilih untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian santai lalu keluar dari kamar dan rumah itu sangat sepi.
Maya kembali teringat masa-masa indahnya dulu saat masih sekolah dan keluarganya masih lengkap.
Bahkan Maya seolah mengalami dejavu, ia melihat bayangan dirinya sedang manja dengan ayahnya yang selalu menyayanginya.
"Ayah!" tangis Maya, wanita itu duduk di bangku tempat ayahnya biasa duduk untuk membaca koran di pagi hari.
Dadanya terasa sesak karena merindukan keduanya orang tuanya, lalu Maya segera berhenti menangis saat Gala kembali masuk.
Maya segera menghapus air matanya dan segera bangun dari duduknya.
"Kenapa? Apa lelaki brengsek itu menyakiti mbak lagi?" tanya Gala yang berdiri di pintu.
Maya memalingkan wajahnya, menghapus air mata, ia tak menjawab tetapi hatinya yang teramat sakit itu membuat Maya tak dapat menutupi kesedihannya dan terus menangis.
Lalu Maya memeluk Gala, mengajak Gala untuk pergi ke makam orang tuanya.
Gala pun menganggukkan kepala.
Gala dan Maya berboncengan, pergi ke makam, sesampainya di sana, Maya dan Gala membersihkan rumput yang tumbuh liar.
****
"Wanita macam apa dia, tega-teganya meninggalkan anak!" gerutu Biru seraya membanting pulpen yang dipegangnya.
Pria itu merasa gerah lalu melepaskan jasnya dan menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi, mengusap wajahnya kasar.
****
Setelah dari makam, sekarang Gala benar-benar pergi kuliah dan Maya seorang diri.
Lalu, Maya menghubungi dua temannya kalau dirinya ada di rumah dan Dila yang tidak banyak kerjaan itu segera meluncur menemui Maya.
Sedangkan Ayana, gadis itu bekerja, ia mengatakan kalau dirinya dapat datang di jam istirahat.
Benar saja, Dilan yang sedang tidak memiliki jadwal apapun itu datang sendirian dan merasa bersalah pada Maya.
"Apa Maya berantem sama Biru gara-gara Maya dekat sama Bram, ya!" gumamnya dalam hati.
"May, udah. Lebih baik kamu tenangin diri dulu, terus kedepannya mau gimana, dah jangan nangis lagi, lagian aku yakin walaupun sekejam apapun Biru, dia tetap seorang ayah yang tidak akan tega melukai anaknya!"
"Iya, aku tau, tapi aku pengen semua ini berakhir tanpa pertengkaran! Kalau mau pisah ya pisah dengan cara baik-baik!"
kata Maya seraya menghapus air matanya menggunakan tisu, sesekali membuang ingusnya.
__ADS_1
Dilan pun mengusap punggung Maya.
Dan setelah Maya sudah sedikit tenang sekarang Dilan pamit karena harus kuliah.
"Aku pamit dulu ya, May. Aku ada kelas sebentar lagi.
"Dil. Belajar yang rajin. Biar cepat lulus," kata Maya dan Dilan menjawab dengan senyum.
Maya menggelengkan kepala melihat Dilan yang cengengesan.
****
Di villa, Hafizah baru saja pulang dari berbelanja di mini market terdekat, ia membeli kebutuhan bulanannya salah satunya ada pembalut untuk menyambut tamu bulanannya yang tidak pernah telat datang.
"Dari mana?" tanya Bambang yang sedang menyiram tamanan.
"Beli ini!" jawab Hafizah seraya menunjukkan belanjaan yang dibawanya.
"Mau sampai kapan kamu terus berbohong?" tanya Bambang, pria itu menggulung selang dan menyimpannya kembali.
"Ayah tenang saja, biar ini jadi urusan Afi! Mudah-mudahan bulan ini telat! Ayah do'ain supaya Afi bisa hamil lagi!"
Setelah mengatakan itu Hafizah masuk ke villa dan menggerutu karena Bambang selalu membuatnya was-was dengan selalu mengingatkannya tentang kebenaran.
"Aku harus cari cara, apa aku harus pergi ke dokter?" gumamnya, setelah itu Hafizah mengambil tas tangannya yang berada di atas nakas.
Hafizah pergi untuk menemui dokter kandungan di rumah sakit terdekat.
Di sana Hafizah menceritakan semua dari awal dirinya keguguran dan sampai sekarang belum juga hamil lagi.
Setelah melewati beberapa pemeriksaan ternyata semua normal dan tidak ada masalah.
Selesai dengan itu, sekarang Hafizah memilih untuk pulang dan diperjalanan Hafizah melihat seorang gadis yang sedang menangis duduk di halte depan rumah sakit, gadis itu masih mengenakan seragam sekolah.
"Kamu kenapa? Kecopetan? Kerampokan?" tanya Hafizah yang berdiri di samping gadis itu.
Sementara Hafizah matanya melihat gadis itu yang menggenggam alat tes kehamilan lalu wanita itu mengerti.
"Kamu hamil?" tanya Hafizah dan gadis itu tidak menjawab. Setelah itu Hafizah membujuk gadis itu untuk ikut pulang ke rumahnya.
"Tapi kita tidak saling mengenal!"
"Enggak apa-apa. Aku bukan orang jahat!" kata Hafizah, wanita muda itu berhasil membujuk gadis tersebut dengan mengatakan kalau dirinya akan memberikan solusi.
Bersambung.
Yuk, jangan lupa untuk dukung karya ini, setelah membaca jangan lupa like yang belum di fav yuk fav dulu 😙.
__ADS_1
Sampai jumpa lagi besok dengan episode terbarunya.