
Assalamualaiku, aku update lagi nih, yuk jangan lupa like, ya.
Mohon maaf dalam kekurangan aku menulis, ada typo, kurang kata dan kata yang double.
Selamat membaca.
****
Delapan bulan kemudian, Zenia baru saja melahirkan anaknya dan Marisa menanyakan itu.
"Katakan, anak siapa?"
Bram yang sedang berdiri di depan pintu ruangan Zenia itu menjawab, "Zenia melahirkan karena kecelakaan, bayinya prematur, dia harus melahirkan sebelumnya waktunya!"
Mendengar itu Marisa meras kalau Bram hanya berbohong.
Marisa pergi menemui dokter yang mengurus persalinan Zenia, ia menanyakan semua dan beruntung dokter itu mau bekerjasama dan jawabannya sama persis dengan apa yang Bram katakan.
Marisa pergi dari rumah sakit itu, sama sekali tak mempercayai Bram dan semua orang.
"Kalian pikir aku bodoh! Mana ada bayi prematur dengan berat badan hampir 3kg!" gerutu Marisa yang sekarang sudah berada di area parkir.
Marisa membuka pintu mobil dan duduk di bangku kemudi, menggenggam erat setir kemudinya.
"Sial, semua orang semakin terlihat bahagia dan aku semakin terpuruk dalam kebencian ini!" gerutu Marisa dan sekarang Marisa mulai meninggalkan area parkir.
****
Sepulang kuliah, Ifraz mengajak Pia untuk ke rumah Maya, di sana Maya menanyakan kehamilan Pia dan ternyata menantunya itu belum hamil.
"Nggak papa, lagian kalian masih muda, jangan terburu-buru, kalau sudah rejeki pasti ada kok!" kata Maya dan Pia yang sedang duduk di sofa ruang tengah itu menganggukkan kepala.
Kemudian Pia pun bertanya, "Mah, dulu mamah habis nikah langsung hamil?"
"Enggak, mamah nunggu lama baru bisa hamil," jawab Maya seraya membelai rambut Pia.
Baru saja membahas kehamilan, sekarang tiba-tiba Pia merasa pusing dan mual.
Pia segera bangun dari duduk, berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya.
Maya yang mengikuti Pia itu membantu dengan memijit tengkuknya.
"Kita ke rumah sakit?" tanya Maya dan Pia menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Pia masuk angin aja, Mah!" jawab Pia, gadis itu segera mengambil tisu dan mengelap mulutnya.
"Pia pusing, Pia mau pulang dulu ya, Mah?"
"Istirahat di sini aja, gimana?" tanya Maya seraya membantu Pia untuk berjalan dan keduanya keluar dari kamar mandi.
"Pia pulang aja, Mah. Pia pengen pulang!" kata Pia dan setelah itu Maya membantu Pia untuk duduk lebih dulu dan setelah itu menghubungi Ifraz yang sedang ada di kantor Biru.
Mendengar Pia sakit, sekarang Ifraz bergegas untuk pulang. Ifraz masuk ke ruangan Biru dan meminta izin untuk pulang.
"hati-hati!" kata Biru yang sedang duduk di kursi kerjanya.
Ifraz menganggukkan kepala dan setelah itu segera keluar dari ruangan Biru dan tidak lupa menutup pintu itu lagi.
Ifraz segera menjemput Pia dan sesampainya di sana, Pia sudah terlihat membaik.
"loh, tadi katanya sakit? Sekarang keliatan baik-baik aja?" tanya Ifraz yang baru saja masuk ke ruang tengah dan melihat Pia sedang memakan pizza bersama dengan Kania.
"Ketemu pizza sembuh!" jawab Pia yang sedang mengunyah pizza.
"Kalau gitu, sering-sering aja sakit, ya!" ledek Kania yang sedang mengunyah dan Ifraz yang mendengar itu langsung menjitak kepala Kania.
"Sembarangan!" gerutu Ifraz.
"Auu, Abang! Sakit tau!" gerutu Kania seraya mengerucutkan bibirnya.
"Istirahat, tadi juga omah habis dari sini,'' jawab Kania dan Ifraz hanya menganggukkan kepala.
Ifraz bangun dan segera melihat keadaan Maya di kamar, Ifraz berjalan ke arah Maya dan mengusap lengannya.
"Mah, Ifraz pamit, ya. Mau pulang," kata Ifraz dan Maya yang mendengar suara anaknya itu pun membuka mata dan mengiyakannya.
"Iya, kalian hati-hati, jaga istrimu baik-baik, kalau ada apa-apa hubungi Mamah!" kata Maya seraya mengubah posisinya menjadi duduk.
"Iya,'' jawab ifraz seraya mencium punggung tangan Maya, setelah itu Ifraz keluar diikuti Maya dibelakangnya.
"Ayo,'' ajak Ifraz dan setelah itu Pia segera mencium punggung tangan maya.
Keduanya pamit, sekarang Ifraz dan Pia sudah dalam perjalanan. Di perjalanan Pia membuka sosial medianya, di sana Pia melihat postingan bahagia dari Zenia yang baru saja melahirkan.
"Ifraz, Zen udah melahirkan, cepet banget ya udah lahir aja!" kata Pia yang tak mengetahui kalau Zenia hamil di luar nikah.
"Biarin, kita nggak usah ngurusin dia!" jawab Ifraz dengan tetap fokus menyetir.
__ADS_1
"Baiklah,'' jawab Pia seraya kembali memasukan ponselnya ke tas.
Di perjalanan Pia melihat permen kapas yang dijual bebas di tepi jalan, Pia yang merasa kalau permen itu sangat menggoda segera memintanya pada Ifraz.
"Faz. tepi dulu, aku mau beli itu!" kata Pia seraya menunjukkan penjual permen kapas.
"Apaan, nanti batuk beli gituan!" kata Ifraz yang terus melajukan mobilnya.
"Astaga, kan jarang-jarang aku makan itu, mumpung lagi kepengen Nggak setiap hari juga!" kata Pia dan Ifraz menggelengkan kepala.
Pia yang tak mendapatkan permen kapas itu mengerucutkan bibirnya, bersedekap dada dan tak mau menatap Ifraz yang sesekali mencuri pandang pada istrinya.
Setelah beberapa menit, sekarang Ifraz dan Pia sudah tiba di rumah mereka, rumah pemberian dari Biru untuk kado pernikahannya.
Biru ingin Pia dan Ifraz belajar mandiri.
Pia langsung masuk ke kamar, ia sama sekali tak mau berbicara pada Ifraz yang tak membelikan permen kapas itu.
Ifraz menyusul Pia, terlihat Pia sedang melepaskan long blazernya, segera Ifraz memeluk Pia dari belakang.
"Masa cuma gara-gara permen kapas aja ngambek, nanti cantiknya ilang, loh!" bisik Ifraz dan Pia melepaskan pelukan itu.
"Cuma permen kapas aja nggak dibeliin, padahal waktu kecil juga sering makan itu dan bak-baik saja sampai sekarang!" jawab Pia dan Ifraz terdiam.
"Ok, aku beliin, tapi satu aja dan jangan terlalu sering, aku takut kamu nanti radang, sayang!" kata Ifraz yang kemudian keluar dari kamar, pria itu kembali keluar dari rumah untuk membeli permen kapas yang berwarna pink.
Sesampainya di rumah, Ifraz diuji kesabarannya oleh Pia.
"Tapi aku nggak mau yang warna pink, aku mau yang warna biru!" rengek Pia yang sedang duduk bersantai di balkon kamarnya.
"Astaga, cuma beda warna aja, rasa sama manis juga!" gerutu Ifraz yang merasa kalau Pia tak menghargai perjuangannya yang sudah bolak-balik pergi dan sempat terkena macet.
"Aku maunya biru!" lirih Pia seraya memakan permen kapas itu dengan terpaksa.
"iya udah nanti ayah suruh kesini aja, kan sama-sama biru!" jawab Ifraz, pria itu yang lelah pun memilih segera untuk mandi.
"Anak durhakim dia, masa ayah sendiri disamain sama permen!" kata Pia seraya menatap Ifraz yang masuk ke kamar mandi.
"Ayah, maaf. Bukan maksud Ifraz membully ayah!" kata Ifraz yang sedang berada di bawah guyuran shower.
selesai dengan mandinya, sekarang Ifraz mengambil pakaiannya yang Pia lupakan untuk menyiapkan.
Ifraz melihat ke balkon dan ternyata Pia sudah tidak ada di sana, hanya terlihat permen kapas yang terlihat masih banyak itu di meja, Ifraz menggelengkan kepala, merasa dikerjai oleh Pia.
__ADS_1
"Mintanya doang ngotot, dimakan juga enggak!" gerutu Ifraz seraya mengusap kepalanya yang masih basah menggunakan handuk kecil yang dipegangganya.
Bersambung.