Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Menepati Janjiku!


__ADS_3

Daniel yang baru saja keluar dari kamar itu bertanya pada Maya yang masih berdiri di depan kamar Ifraz.


"Sayang, kenapa?"


"Ifraz, babak belur, tapi dia nggak mau cerita!" jawab Maya, wanita itu masuk ke dalam rengkuhan Daniel dan sekarang berjalan ke ruang keluarga, di sana ada Kania yang sedang belajar.


"Rajin banget anak papah," puji Daniel pada Ken.


"harus dong, Ken harus pintar seperti abang! Jadi Ken harus rajin belajar!"


"Ifraz seperti Mas Biru, pandai dan cerdas dalam belajar, dia juga selalu bercerita kalau dulu dia selalu rangking pertama tidak ada yang bisa mengalahkan, begitu juga dengan Ifraz," gumam Maya dalam hati.


"Astaga, kenapa aku mengingat lelaki itu!" Maya masih bergumam.


Sementara, Ifraz, pria muda itu mendengar suara keluarganya yang berada di ruang tengah, sekarang, pria yang sudah mandi dan mengganti pakaiannya itu menyusup masuk ke kamar orang tuanya.


"Kira-kira di mana mereka menyimpan itu?" tanya Ifraz pada dirinya sendiri seraya membuka laci dalam lemari besar.


"Nggak ketemu juga, apa di sana?" tanya Ifraz seraya melihat brangkas kecil yang berada di dalam lemari.


"Tapi, kata sandinya apa? Apa harus ku coba tanggal lahir ku?" gumamnya dalam hati.


Benar saja, brangkas itu berhasil terbuka, di sana juga tersimpan surat-surat penting lainnya.


Segera Ifraz mencari dan menemukan apa yang dicarinya.


Ifraz melihat tanggal dan tahun Maya menikah dan itu jauh sebelum Ifraz lahir.


Tanpa Ifraz ketahui, buku nikah itu adalah palsu yang sudah di siapkan oleh Maya dan Daniel, untuk berjaga-jaga kalau Ifraz akan merajuk lagi dan ternyata benar kejadian.


Setelah itu, Ifraz mengembalikan buku nikah tersebut kembali ke asalnya, Ifraz segera keluar dari kamar.


****


Di rumah Marisa, Zenia baru saja keluar dari rumah itu, ingin bersenang-senang dengan kawan lamanya sebelum akhirnya ia pindah sekolah di sekolahnya sekarang.


Baru saja Zenia menutup pintu pagar itu, tangannya sudah di seret oleh Hafizah.


"Sini kamu, anak kurang ajar! Pantas saja nggak pernah pulang! Ternyata hidup enak kamu di sini!"


"Ibu, kenapa sih ngikutin aku!" gerutu Zenia seraya melepaskan tangan hafixah dari lengannya.


"Jangan pegang-pegang! Tangan ibu kotor!" ucapnya.

__ADS_1


"Astaga, anak ini belagu sekali! Sekarang ayo cepat kita pulang!" Hafizah menyeret Zenia dan Zenia memilih kembali masuk ke rumah Marisa, Hafizah mengejarnya dan ternyata ada Marisa yang baru saja mengambil berkasnya yang tertinggal di mobil.


"Siapa kamu?" tanya Marisa dan Hafizah hanya diam.


"Tante, dia itu gembel! Lebih baik tante usir dia!" kata Zenia seraya menggoyangkan lengan Marisa.


"Gembel?" tanya Marisa.


"Hah, kamu pikir saya tidak mengetahui kalian ibu dan anak! Tapi sepertinya akan bagus kalau Ifraz mengetahui kalau kekasihnya adalah anak dari perusak rumah tangga ibu dan ayahnya," batin Marisa.


"Aku membutuhkan gembel ini! Masuk!" perintah Marisa.


"Astaga, Tante, kenapa bawa dia masuk!" protes Zenia.


"Diam kamu, memangnya siapa yang berkuasa di rumah ini?" bentak Marisa dan Zenia hanya diam.


Marisa membawa mereka masuk tetapi melarang Hafizah untuk duduk. "Yang duduk di sofa ku adalah orang yang bersih, terutama beruang!"


Mendengar itu, Hafizah hanya diam, sedangkan Zenia memilih untuk duduk, dengan gayanya, seolah rumah itu adalah miliknya.


"Siapa kamu sebenarnya, apa kamu ada hubungan dengan Zen?" tanya Marisa, wanita yang sudah lengkap dengan piyama itu bersedekap dada, menatap Hafizah.


"Saya ibunya, ibu tiri Nia!" jawab Hafizah.


Langkah Marisa terhenti saat Hafizah menahan lengannya, Marisa seolah jijik telah di sentuh oleh Hafizah.


"Jangan sembarangan menyentuhku!"


"Maaf, tapi saya tau anda siapa! Saya tidak akan ikut dalam permainan yang anda buat, saya datang kemari untuk menjemput anak dari suami saya yang sedang terbaring lemah di rumah sakit!"


Marisa diam, dia berfikir kalau ternyata mereka saling mengetahui satu sama lain. "Apa yang kamu ketahui tentang saya?"


"Anda adalah kakak dari Bram, mantan kekasih Maya!"


"Ok, kalau begitu tidak ada yang perlu ditutupi lagi, kamu sudah mengerti maksudku!"


"Dengar, aku tidak mau kamu manfaatkan!" ucap Hafizah, wanita itu menatap tajam Marisa.


"Lalu?"


"Kita harus bekerja sama, kamu menghancurkan Maya dan aku menghancurkan Biru!"


"Hahahaa, ide bagus, mereka harus menderita!" Setelah itu, Marisa meninggalkan Hafizah, ia memberitahu kepala pelayan untuk membawa Hafizah ke kamar dan memberikan pakaian yang layak.

__ADS_1


****


Di ruang kerja Biru.


"Tuan, dia sudah berhasil masuk ke dalam rumah Marisa," ucap Ran yang sedang di berdiri di depan Biru.


"Duduk!" perintah Biru dan Ran pun menuruti perintahnya.


"Bagus, biarkan mereka bermain, jadi aku tidak perlu membuka rahasia Ifraz, tapi Ifraz akan mengetahui itu dari mereka," ucap Biru, pria itu seperti sedang merencanakan sesuatu.


"Tapi... apa tidak sebaiknya anda mengatakan sendiri pada Tuan Ifraz, Tuan?"


"Yang perlu kamu lakukan hanya menjaga anak-anakku selamat, jangan sampai mereka menyakiti anak-anakku!" perintah Biru.


"Baik, Tuan," jawab Ran dengan tegas.


Setelah itu, Biru bangun dari duduknya dan keluar dari ruangan kerjanya.


"Maaf Ifraz, papah hanya ingin menepati janji pada mamah kamu, papah tidak akan mengusik kebahagiaan kalian, bisa dekat dengan kamu saja sudah bahagia untuk papah!" batin Biru, pria itu menitikkan air matanya, segera ia mengusap matanya yang basah.


Biru melihat Pia di kamarnya dan ternyata sudah tidur. "Anak baik, ayah senang kamu menjadi anak penurut!" ucapnya.


****


Malam telah berganti pagi, sekarang Biru sedang berdiri di balkon kamar, menghirup udara segar pagi hari yang menyegarkan.


Hari ini adalah hari libur. Pria itu ingin bersantai sejenak. Tetapi otaknya tidak dapat bersantai. Selalu memikirkan ucapan Ran yang menyarankan Biru untuk memberitahu Ifraz.


"Aku pernah mengkhianatinya dan sekarang aku tidak lagi ingin mengkhianati janjiku padanya," ucapnya pada diri sendiri.


****


Di rumah Daniel, keluarga itu selalu bahagia, canda, tawa selalu di dengar olehnya, tetapi ada yang aneh bagi Daniel, pria itu ingin merasakan rumah tangga selayaknya rumah tangga sungguhan, sesekali bertengkar dengan pasangan itu tidak ada salahnya, kata orang itu adalah bumbu rumah tangga. Tetapi Daniel tidak merasakan itu, ia selalu menuruti Maya dan begitu juga dengan Maya, dia tidak pernah meminta ini dan itu, tidak pernah mengajak Daniel untuk bertengkar.


Yang paling Daniel inginkan adalah kata cinta yang terucap dari bibir Maya.


Sekarang, Daniel yang baru saja selesai mandi itu melihat Maya sedang merapikan lemarinya. Daniel memeluk Maya dari belakang seraya berbisik, "I love you!"


Maya tersenyum dan menjawab, "Me too!"


Bersambung.


Jangan lupa klik like, love dan komen di kolom komentar ya, terimakasih bagi yang sudah membaca 🤗

__ADS_1


__ADS_2