Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Masih Kurang!


__ADS_3

Pembaca yang baik, Jagan lupa klik like ya🙂.


Selamat membaca


****


Subuh menjelang, Ifraz merasa kalau dirinya ingin buang air kecil dan segera ia bangun dari tidurnya.


Ia melepaskan Pia yang masih memeluknya dan sekarang Ifraz pergi ke kamar mandi.


Di sana, Ifraz merasa nyeri di anunya, karena baru saja menerobos gang sempit milik Pia.


"Aaarrggggh!" erang Ifraz yang menahan nyeri itu.


"Gila, nagih banget!" gumam Ifraz yang masih terbayang dengan pertempuran semalam.


Selesai dengan buang air kecil, sekarang Ifraz kembali ke kamar di sana Ifraz kembali merasa tergoda saat melihat selimut Pia sudah tidak lagi menutupi dadanya.


"Astaga!" gumam Ifraz seraya mengusap wajahnya.


"Mubazir kalau dianggurin!" kata Ifraz seraya berjalan mendekati Pia dan benar saja, Ifraz tak menyia-nyiakan itu.


Ifraz segera bermain lembut di sana karena tidak ingin membuat Pianya merasa tidak nyaman.


Dan Pia yang menikmati permainan Ifraz kembali menginginkan apa yang semalam baru saja mereka lakukan.


Sekarang, keduannya melanjutkan olahraga pagi dengan penuh gairah.


Selesai dengan itu, Ifraz mengajak Pia untuk mandi bersama, Ifraz melihat Pia yang kesusahan turun dari ranjang itu membantunya.


"Sakit, ya?" tanya Ifraz dan Pia menganggukkan kepala, menggigit bibir bawahnya.


Merasa tidak tega, sekarang, Ifraz membopong Pia yang berbalut selimut.


Keduanya berendam di bak mandi dan saling memberikan perhatian.


Selesai dengan itu, keduanya bersiap untuk sarapan, keduanya sarapan bersama di kamar, setelah mandi sarapan mereka sudah siap.


Setelah itu, Ifraz mengecek ponselnya dan ternyata ia mendapat pesan dari Biru yang mengatakan kalau sudah ada sopir yang menjemputnya.


"Sudah siap?" tanya Ifraz dan Pia menjawab dengan menganggukkan kepala.


Sekarang, keduanya berjalan keluar dari kamar dengan bergandengan tangan, sungguh uhuk sekali pasangan muda ini.


Author berdoa untuk kebahagiaan kalian sampai tamat!

__ADS_1


Setelah beberapa menit, sekarang mereka sudah sampai di kediaman Biru.


"Waaah, segar sekali anak-anak ayah, bagaimana semalam? Bisa istirahat?" tanya Biru yang menyambut Ifraz dan Pia.


Pia melirik pada Biru, merasa malu dengan pertanyaan itu, sedangkan Ifraz menjawab, "Lancar dan sukses!"


"Gila!" gerutu Pia dalam hati.


Setelah itu, sekarang semua bersiap untuk berangkat mengantarkan Pia dan Ifraz bulan madu.


Keduanya akan berlibur selama tiga hari di villa Biru.


"Nanti kalau libur semester kalian boleh liburan ke luar negeri!" kata Biru seraya memberikan koper yang sudah disiapkan oleh pelayan dan sekarang Ifraz menerima koper itu.


"Dimanapun bulan madunya yang penting sama Pia!" jawab Ifraz sedangkan Pia sudah berada di mobil, merasa malu dengan obrolan Ifraz dan Biru.


****


Sementara itu, di rumah Daniel, pria itu sedang bersantai di taman belakang rumahnya. Membaca koran dengan ditemani kopi hangat dan juga biskuit.


Lalu datang Maya ikut menemani Daniel, Maya datang dengan membawa teh hijau di tangannya.


"Hay, Baca apa? Serius sekali?" tanya Maya dan Daniel pun melipat koran yang ada di tangannya.


"Nggak ada yang penting!" jawab Daniel, setelah itu Daniel menyeruput kopi miliknya.


Bisa kah Maya mencintai Daniel seperti Maya mencintai Biru?


"Kamu tumben ceria?" tanya Daniel, pria itu membelai wajah Maya yang duduk di sebelahnya berbatasan dengan meja.


"Aku selalu cantik, jangan-jangan selama ini kamu yang enggak melek!" jawab Maya dengan sedikit manja.


Daniel tersenyum, tetapi bukan selama ini Daniel merem, pria itu sibuk dengan pekerjaan dan perasaannya yang bertepuk sebelah tangan.


Tidak mudah bukan, bertahan selama belasan tahun dengan perasaan yang seperti Daniel berikan untuk Maya.


Daniel masih teringat dengan jas, ingin bertanya tetapi pria itu tak ingin merusak paginya dengan perihal jas Biru.


"Maaf, sepertinya aku terlalu sibuk, sampai lupa memperhatikan istriku yang cantik ini!" kata Daniel, pria itu menatap teduh istrinya yang tersenyum manis pagi ini, senyum bahagia karena kebahagiaannya tengah bahagia hari ini.


"Tidak apa, kamu sibuk juga untuk kami, maafkan aku karena jarang tersenyum!" lirih Maya, setelah itu Maya menyeruput teh hijaunya dan sebenarnya ada sedikit rasa tak tega di hati Maya untuk Daniel.


Apakah perasaan Maya pada Daniel hanya sebatas tak tega?


Di tengah perbincangan ringan itu Maya dan Daniel kedatangan tamu, tamu itu adalah Ifraz dan Pia.

__ADS_1


Keduanya berpamitan untuk berlibur dan betapa malunya Pia saat Maya memperhatikan lehernya yang penuh tanda merah.


Pia segera menutupi tanda merah itu dengan rambutnya, Pia pun menjadi salah tingkah, apalagi Daniel juga ikut memperhatikan.


Daniel membawa Maya ke dekapan dan saling melemparkan senyum. Sedangkan Ifraz menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ya sudah, kalian hati-hati! Jaga istrimu baik-baik!" kata Maya dan Ifraz menjawab dengan semangat, "Tentu!"


"Gairah muda!" kata Daniel dan Maya pun mencubit pinggang suaminya.


"Auu!" pekik Daniel dan setelah itu pasangan pengantin baru tersebut segera pamit dan berangkat ke villa yang ada di Sukabumi.


****


Sementara itu, di apartemen ada Zenia yang sedang mual-mual dan Bram dengan penuh perhatian memijit tengkuk Zenia.


"Kenapa mual-mual lagi? Kemarin udah baikan."


"Entah lah, mungkin karena masuk angin, semalam kan kita habis jalan," jawab Zenia setelah mengelap mulutnya menggunakan tisu.


Bram pun berjongkok dan mengusap perut Zenia yang sudah semakin terlihat membuncit.


"Anak Papi jangan manja, yah. Kasian Mami, sayang," kata Bram seraya menatap perut Zenia dan Zenia menitikkan air mata.


"Loh, kok sekarang Maminya yang nangis?" tanya Bram saat tangannya terkena tetesan air mata Zenia.


"Makasih, Om. Seandainya tidak ada om, entah apa yang akan terjadi dengan Zen dan bayi ini!" lirih Zenia yang bersandar dinding dan mengusap air matanya.


Bram bangun dari berjongkok dan segera mengusap air mata itu.


Bram membawa Zenia ke pelukan.


"Berarti ini air mata bahagia, kan?"


Zenia pun menganggukkan kepala.


Setelah Zenia tenang, sekarang Bram mengajak Zenia untuk menghirup udara pagi di taman belakang apartemen.


Sambil berjalan pagi Bram mengajak Zenia mengobrol, Bram mengatakan kalau persediaan uangnya sudah menipis dan akan menggunakan uang itu untuk membuka usaha.


"Perusahaan Opa?" tanya Zen dan Bram menjawab kalau semua sudah di kuasai oleh Marisa.


"Biarlah, aku tidak ingin meributkan soal harta, aku akan berusaha keras untuk keluarga ku sendiri!" jawab Bram, pria itu menatap gadis kecilnya yang berjalan di sisi kanannya, keduanya berjalan dengan bergandengan tangan.


Sementara itu, keduanya di awasi oleh Marisa. "Kenapa semua orang bahagia sedangkan gue masih hidup dalam kebencian! Gue harus segera mengakhiri ini, Maya adalah penyebabnya, penyebab atas kerasnya hati ini!" kata Marisa yang sedang memperhatikan Bram dan Zenia dari dalam mobilnya.

__ADS_1


Setelah itu Marisa pergi dari sana, mengendarai mobilnya dengan perasaan hampa dan kosong.


Bersambung.


__ADS_2