Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Harus Bagaimana?


__ADS_3

"Maya, kenapa May? Kenapa kamu harus membalasku dengan cara seperti ini? Kenapa tidak kamu tikam saja jantungku!" batin Biru, pria itu merasa teriris hatinya saat melihat Maya berduaan dengan Bram.


Biru menangis dalam diam.


"Aku memang egois May, sampai tidak mau melepas salah satu dari kalian, satu sisi aku mencintaimu setelah tiga tahun kita hidup bersama, kamu bisa membuat ku cinta padamu, lalu? Beginikah caramu membuatku mebencimu?" batin Biru.


Lelaki itu mengusap dadanya yang terasa perih.


"Kenapa setelah semua yang ku lakukan tidak membuat kamu kembali, May?" Biru masih membatin.


"Ini semua salahku, benar kata kamu kalau kamu akan berada di sisiku apabila aku mempertahankan kamu, May!"


Biru terus memikirkan Maya dan berusaha mencari jalan keluarnya untuk hubungan semua orang, karena Biru tidak ingin kehilangan Maya dan putranya.


Biru sampai tidak menyadari kalau sekarang dirinya sudah sampai di halaman rumahnya.


"Tuan!" lirih Ran yang masih duduk di bangku kemudi.


Sementara Biru, pria itu tidak mendengar kalau Ran memanggilnya.


"Tuan!" Sekali lagi Ran memanggil majikannya itu.


Masih tidak ada pergerakan dari Biru membuat Ran menjadi khawatir, pria itu segera menaruh jari telunjuknya di hidung.


Ran menarik nafas lega saat merasakan hembusan nafas dari Tuannya.


Lalu, Ran kembali membangunkan Biru, kali ini suara agak tinggi.


"Tuan, anda sudah sampai!"


Biru pun mengerjapkan matanya setelah itu segera turun dari mobil dan meminta Ran untuk ke ruangannya.


Ran pun mengikuti Tuannya dengan membawakan tas kerja milik Biru.


"Duduk!" perintah Biru saat keduanya sudah berada di ruang kerja.


"Maaf, apa saya membuat salah?"

__ADS_1


"Tidak. Duduklah, jangan kaku seperti ayahmu! Aku bilang duduk itu harus duduk!"


"Astaga, ya jelas lah gua kaya bapak gua orang gua dididik sama beliau!" batin Ran, pria itu mengikuti perintah Biru.


"Coba katakan, harus bagaimana lagi aku membuat Maya kembali pada ku?"


Biru terlihat galau dan merana, tetapi Ran tidak mengetahui sebabnya.


"Anda tidak boleh menggunakan kekerasan untuk mendapatkan hati Nyonya," jawab Ran dan Biru kembali bertanya, "Sudah pernah, tetapi dia mengabaikan aku!"


"Maaf Tuan. Sudah jelas Nyonya hanya mau menjadi satu-satunya sedangkan anda masih menyimpan wanita itu! Di sini anda harus introspeksi diri, semua keadaan ini berubah setelah anda mengenal wanita itu!" Setelah mengatakan itu Ran segera pamit pada Biru tidak ingin meladeni kegalauannya, tentunya Ran melaporkan itu pada Murni.


"Siapa kamu berani meninggalkan aku, aku belum selesai bicara!" teriak Biru dan Ran yang masih berdiri di pintu itu menjawab, "Jam kerja sudah habis!"


"Ya, benar. Apa yang dikatakan oleh Ran. Aku tidak boleh menggunakan kekerasan pada Maya yang lembut. Dia akan semakin menjauh kalau aku semakin gila seperti ini!" geram Biru, pria itu menggulung lengan kemejanya sampai ke siku.


Setelah itu, Biru meminta pada Andy untuk mengantarkannya ke apartemen Bram, pria itu berfikir kalau Maya masih berada di sana.


"Lima belas menit!" ucap Biru yang sudah duduk di bangku samping kemudi.


Sedangkan Andy menarik nafas dalam, bagaimana mungkin dalam waktu lima belas menit dirinya bisa sampai ke apartemen yang dituju, hari sudah sore sudah pasti macet. Begitu lah pikir Andy.


"Kamu gagal dan tidak akan mendapatkan bonus!" kata Biru seraya turun dari mobil dan Andy mengusap dadanya.


"Kenapa nggak bilang kalau ada bonusnya!" protesnya dalam hati, Andy pun mengikuti Biru, berada di belakangnya. Biru menekan bel dan Marisa yang membukakan pintu.


"Cari siapa?" tanyanya, matanya tak berkedip saat melihat pria tampan itu berada di depan mata.


"Mencari istri saya!" jawab Biru seraya menerobos Marisa dan Marisa menjadi bingung dengan jawaban Biru.


Biru melihat Maya yang sedang menangis, duduk di sofa dengan tangan menutupi wajahnya.


"Maya!" Biru memanggilnya dan Maya pun menoleh, melihat kearah suara itu. Seketika Maya menjadi kaku, takut Biru akan mengamuk tetapi apa yang Maya pikirkan itu tidak terjadi karena Biru mendekatinya lalu memeluk hangat tubuhnya.


Sementara Bram yang sedang duduk di sampingnya itu berdiri, pria itu menatap tidak percaya dengan sikap Biru karena yang Bram harapkan adalah pertengkaran diantara mereka.


Biru menahan amarahnya saat melihat banyak tanda merah di leher istrinya. Pria itu mengusap punggung Maya yang bergetar.

__ADS_1


"Sudah, kita pulang. Kita harus sudahi semua ini, aku tidak sanggup kamu siksa begini, May!" lirih Biru, pria itu berlutut seraya memeluk Maya.


Maya menjadi bimbang karena Biru sangat lembut bahkan ia tidak marah saat melihat keadaannya.


Biru melepaskan pelukan itu dan menghapus air mata yang masih mengalir di pipinya, matanya sembab karena tak berhenti menangis.


Maya merasa kalau Birunya sudah kembali dan Maya tak menjawab ajakan Biru, wanita itu hanya menatap mata suaminya dan air mata masih terus mengalir, Maya berfikir telah ternoda dan tidak mempercayai ucapan Bram.


"Maafin aku, Mas!" lirih Maya, wanita itu kembali memeluk Biru.


"Sudah, aku juga banyak salah, lebih baik kita pulang, tidak baik suami istri tinggal terpisah!"


Maya masih terdiam karena dirinya selalu teringat dan tidak akan pernah lupa tentang Hafizah.


"Ta-tapi!" jawab Maya.


"Kita bicarakan di rumah!" kata Biru, pria itu menarik lembut lengan istrinya dan Maya mengikuti Biru tanpa melihat Bram dan Bram pun menjadi sangat menyesal.


Pria itu mengikuti langkah Maya.


"May, sumpah. Gua nggak lakuin yang kamu tuduhkan!"


Mendengar itu, Biru menghentikan langkah kakinya, melihat ke belakang, menatap tajam dan Bram pun menghentikan langkah kakinya dengan Marisa yang menahan Bram agar tidak ikut campur.


"Sudah Bram, terserah dia percaya atau tidak, tapi kakak tetap percaya kalau lu enggak melakukan itu!" kata Marisa seraya melihat Maya yang menundukkan kepala dengan dua tangan yang menutupi lehernya.


Biru pun mengerti kalau Maya merasa malu dengan keadaannya lalu, Biru melepaskan kemejanya menyisakan kaos dalam, lalu Biru menutupi leher Maya menggunakan kemeja berwarna putih itu.


Biru menganggukkan kepala pada Maya yang menatapnya.


"Kenapa? Kenapa harus kembali baik kalau kamu belum bisa melepaskan wanita itu!" batin Maya, matanya berkaca saat menatap netra suaminya, tidak pernah lupa dengan pengkhianatan yang dilakukannya.


Setelah itu, Biru kembali menuntun Maya untuk ikut bersamanya dan Bram hanya bisa menatap kepergian Maya dan Biru.


"Sial, kenapa jadi gini sih!" gerutu Bram seraya melepaskan tangan Marisa dari lengannya, pria itu kembali masuk ke apartemen.


"Bram, dia punya suami, kenapa lu jatuh sama istri orang!" seru Marisa setelah masuk ke apartemen dan Bram tidak menjawab, pria itu membanting pintu kamarnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2