
Keesokan harinya, di Bali. Biru dan Hafizah sudah berada di villa. Villa itu menghadap langsung ke pantai, tentunya Hafizah yang baru pertama kali melihat pemandangan seindah itu menjadi sangat bahagia dan semakin mencintai Biru.
Keduanya duduk bersantai menikmati hidangan dan pemandangan alam, lalu Biru mengajak Hafizah untuk turun ke kolam dan yang diajak pun tidak menolak.
Hafizah melepaskan piyamanya sehingga meninggalkan bikininya saja, sangat Mesra karena mereka bukan hanya berenang melainkan bercumbu di dalam air. Bahkan Biru dan Hafizah melakukan hubungan suami istri di sana.
"Terimakasih," bisik Biru di telinga Hafizah yang berada di pelukannya.
"Aku yang berterimakasih, Mas. Aku minta jangan pernah tinggalkan aku!" lirih Hafizah, ia menyandarkan kepalanya di dada bidan Biru yang sedikit berbulu, keduanya masih berada di kolam, setelah merasa dingin Biru mengajak Hafizah untuk naik ke atas, Biru khawatir dengan bayi yang berada di kandungan Hafizah.
Sementara Maya, wanita itu sedang menyiapkan berkas tanpa sepengetahuan Biru, ia menuruti permintaan Murni untuk mengganti nama bayinya, demi keamanannya.
Maya merasa tegang, takut ketahuan tetapi Maya sedikit tenang karena hanya menyiapkan saja sedangkan yang mengurus adalah Murni dan orang kepercayaannya.
Murni yang duduk didepannya itu menganggukkan kepala, meyakinkan Maya.
"Mah, kenapa melakukan ini? Sedangkan anak Mamah adalah Mas Biru?" lirih Maya, wanita itu sedikit tidak tega apabila harus mengambil semua untuk Ifraz.
Mendengar itu Murni menitikkan air mata.
Wanita bersanggul itu menjawab, "Mamah sudah kecewa dengan dia dan kamu harus tau! Kalau cucu mamah hanya Ifraz! Bukan anak dari wanita lain mana pun!" jawab Murni seraya membelai wajah Maya, setelah itu melirik Ifraz yang berada di ranjang, terlihat bayi tampan itu sangat aktiv, tangan dan kakinya terus bergerak tidak mau diam.
"May!" lirih Murni, wanita itu meraih tangan menantunya.
"Iya, Mah," jawab Maya. Wanita itu merasa beruntung karena telah memiliki mertua sebaik Murni.
"Maafkan mamah dan juga maafkan Biru!" lirih Murni, ia merasa tidak enak hati karena telah membuat hidup wanita pilihannya itu hancur karena ulah anaknya.
Lalu Maya memeluk Murni, mengusap punggungnya. "Mamah tidak bersalah, semua sudah takdir."
"Maya, satu lagi permintaan mamah!"
"Apa itu?" tanya Maya seraya melepaskan pelukannya.
"Carilah pengganti Biru yang bisa melindungi kamu dan anak kamu, May!"
"Tapi Maya tidak ingin secepat itu mencari pengganti Mas Biru, hati Maya masih terluka."
"Kalian membutuhkan seorang pelindung, karena mamah yakin kalau Biru tidak akan tinggal diam!"
Setelah mengatakan itu, Murni pergi dari rumah Maya, sementara Maya tidak bisa membicarakan hal penting seperti ini pada dua temannya.
Maya memilih untuk menemui Gala. Ya, Maya berjalan dengan perlahan dan sekarang meminta Andy untuk mengantarkannya pulang.
__ADS_1
Sementara dua pengawal Biru melaporkan kalau Maya keluar dari rumah.
"Kalau Ifraz masih berada di rumah, saya yakin dia akan pulang! Biarkan saja dia keluar mungkin bosan berada di rumah sepanjang hari," kata Biru dari sambungan teleponnya. Setelah itu Biru kembali pada Hafizah yang sedang menyiapkan makan siang di dapur.
Biru memeluk Hafizah dari belakang.
"Awas, Mas. Nanti gosong masakan aku!" protesnya dan Biru tidak menghiraukan itu.
****
Maya yang sedang duduk bersama dengan Gala merasakan ponselnya bergetar, segera Maya menerima panggilan itu yang ternyata dari Dilan.
"Halo?"
"May, kita harus ketemu! Ada yang mau ku sampaikan!" Setelah mengatakan itu Dilan memutuskan sambungan teleponnya.
"Aneh banget sih! Mau ketemu di mana juga dia enggak bilang!" gumam Maya, setelah itu Maya mendapatkan pesan dari Dilan yang meminta Maya untuk datang ke rumahnya.
"Mbak mau pergi dulu!" kata Maya seraya bangun dari duduknya, dengan sigap Gala membantu Maya, memapahnya tetapi Maya menolak karena harus belajar mandiri dan Gala pun melepaskan tangannya dari lengan Maya, berjalan mengantar Maya sampai ke mobil.
"Hati-hati, Bang!" kata Gala pada Andy dan Andy pun menganggukkan kepala.
Tidak menunggu lama sekarang Maya sudah berada di rumah Dilan, rumah yang tidak kalah mewah dari rumahnya.
Dilan yang sudah menunggu Maya itu segera menarik lengan Maya membawanya duduk di sofa ruang tengah.
"Kamu kenal sama cowok yang malam itu kasih tumpangan kan?"
"Bram?"
"Iya, cowok itu! Kamu kenal di mana sih?"
"Dia temen Gala, kenapa emang?"
"Omegat, Maya! Mendingan jangan boleh deh Gala bergaul sama cowok itu!"
"Kenapa? Dia baik kok! Udah kaya abang buat Gala!"
"Dih, kamu nggak tau aja sih, May!"
"Makanya, kasih tau dong kenapa!"
"Aduh, gimana ya aku jelasinnya!" gumam Dilan seraya menggaruk kepala menggunakan dua tangannya.
__ADS_1
Sementara Maya semakin dibuat penasaran olehnya. Lalu, Dilan berbisik pada Maya dan Maya pun terkekeh.
"Kok malah ketawa sih!" gerutu Dilan.
"Mana mungkin, nggak mungkin lah dia cowok kaya gitu," jawab Maya seraya menggelengkan kepala, masih menertawakan Dilan.
"Aku liat sendiri, Maya! Nih liat, kalau kamu masih enggak percaya kamu tanya aja sendiri sama orangnya!" ketus Dilan seraya menunjukkan foto di layar ponselnya.
"Dih, Dilan. Zaman sekarang mah udah biasa cowok cipika-cipiki kali!"
"Tapi aku tanya sama orang dan di kenal sama Bram, kamu tau apa jawabannya?" tanya Dilan seraya bergidik merinding.
"Apa?"
"Katanya, kalau aku butuh jasa pemuas nafsu di suruh datang ke dia! Hiiii kan aku geli, May!" jawab Dila seraya mengusap dia lengannya.
"Jangan ngaco kamu, masa sih adik aku berteman sama cowok kaya gitu!" Maya sedikit memikirkan hubungan pertemanan Gala dan Bram, Maya takut kalau Gala akan terbawa pergaulan Bram.
"Makanya, mendingan kamu tanyain aja sana!"
Mendengar itu, Maya sedikit berfikir.
"Berarti Bram akan melakukan apapun demi uang?" batin Maya, "astaga! Mikir apa aku ini!" lanjutnya dan Maya pun merasakan kalau Dilan menepuk bahunya membuat Maya tersadar dari lamunannya.
"Aku pulang dulu ya!" kata Maya yang segera bangun dari duduknya.
"Eh, May. Udah bisa jalan kamu!"
"Telat kamu, emang tadi aku masuk ke rumah terbang?"
"Hehe, enggak engeh aku, May!" jawab Dilan dengan sedikit cengengesan, wanita yang terlihat acak-acakan itu mengantar temannya sampai ke depan.
"Oia, om sama tante mana?"
"Mereka lagi keluar, aku malas mau ikut nanti di jodoh-jodohin sama anak teman bisnisnya.
"Kenapa? Kalau jodoh gimana?"
"Enggak ah, aku nggak mau dijodohkan! Aku maunya kenal sendiri terus menjalin pertemanan terus saling jatuh cinta!" jawab Dilan seraya mengkhayalkan hal indah tersebut, sementara Maya menggelengkan kepala, sedikit geli melihat Dilan yang senyum-senyum sendiri.
"Udah, aku pulang dulu!" kata Maya yang kemudian masuk ke mobilnya dan selama perjalanan Maya memikirkan tentang Bram.
Bersambung.
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan like, komen dan favorit ya.
Author juga minta maaf masih banyak kekurangan dalam menulis 🙏