
"Ifraz! Kamu ngapain?" tanya Biru seraya menatap tajam anaknya.
"Ikut makan, kenapa? Nggak boleh, kah?"
"Tapi kan lo enggak diundang!" kata Pia, gadis itu menatap Ifraz juga, membuat Ifraz merasa terpojokkan.
Ifraz segera bangun dan ternyata bukan bangun untuk pergi, tetapi bangun untuk meninju Miko yang duduk di sebelahnya.
BUGH!
Ifraz meninju wajah Miko yang dianggapnya sangat menyebalkan.
Biru segera bangun, melerai Ifraz dan Miko.
"Setan, lo!" gerutu Miko yang ingin membalas tinju Ifraz.
Biru menahan Miko dan Pia menahan Ifraz, seketika mereka menjadi tontonan pengunjung lainnya.
Akhirnya mereka pun membatalkan makan malam itu. Biru menyeret Ifraz dan Pia mengikuti dibelakangnya.
"Pulang!" kata Biru seraya membuka pintu mobil dan mendorong Ifraz supaya masuk. Pia pun menyusul karena tidak ingin ditinggal oleh ayahnya.
Selama perjalanan, semua orang diam.
Sesampainya di rumah, Biru meminta pada Ifraz untuk masuk ke ruangannya.
Biru menyidang anaknya.
Meminta penjelasan sejelas-jelasnya.
"Apa maksud kamu, hah?" Biru berdiri, berjalan memutari Ifraz.
"Faz nggak suka sama dia, kenapa ayah jodohkan Pia dengan dia?"
"Hahaha, kamu lucu, memangnya kenapa kalau Pia ayah jodohkan dengan Miko?"
"Faz nggak setuju!"
"Terus, kamu setujunya Pia sama siapa?"
tanya Biru seraya bersedekap dada, menatap Ifraz dan yang ditanya tak dapat menjawab.
Ingin menjawab kalau dirinya yang pantas tetapi Ifraz merasa malu dan gengsi.
"Jawab!" perintah Biru.
Bukannya menjawab tetapi Ifraz bertanya balik,
"Kenapa ayah nggak pernah bilang kalau Pia bukan adik kandung Ifraz?"
"Kamu pernah bertanya?"
Ifraz diam, memang selama ini dia yang mengira kalau Pia adalah adiknya.
Setelah lama diam, Ifraz pun menjawab, merasa kalau ia harus mengeluarkan unek-uneknya.
__ADS_1
"Faz kira kami kembar, Faz kakak Pia dan setelah kalian berpisah, kalian membawa anak kalian masing-masing satu!"
Mendengar itu, Biru tertawa.
Lalu, "Terus Pia cocoknya sama siapa? Ayah sudah cocok dengan Miko, dia anak teman Ayah, bisa diandalkan untuk menjaga Pia!"
Biru sengaja menyebut nama Miko agar Ifraz semakin cemburu.
Benar saja, Ifraz terpancing dan kembali memanas darahnya saat mendengar nama Miko.
"Biar Pia menemukan jodohnya!" kata Ifraz.
"Kamu ini, sudah mengacaukan kok makin nggak jelas!" kata Biru, padahal Biru sangat ini mendengar kata cinta dari Ifraz untuk Pia.
"Pertunangan akan tetap dilanjutkan."
Setelah mengatakan itu, Biru keluar dari ruangan itu dan Ifraz menahan lengan ayahnya.
"Faz nggak akan terima!"
"Nggak jelas!" kata Biru seraya melepaskan tangan Ifraz dari lengannya.
Biru melanjutkan langkah kakinya untuk keluar dari ruangan itu dan Ifraz merasa tak tahan lagi akhirnya berteriak kalau dirinya menyukai Pia.
"Karena Ifraz menyukai Pia, ayah!"
Biru yang masih berada di depan ruangan itu menghentikan langkah kakinya, ia kembali masuk dan ternyata Ifraz masih berdiri di tempatnya, menundukkan kepala.
"Apa? Ulangi kata-kata kamu! Ayah tidak mendengar dengan jelas!" kata Biru dan Ifraz mendengus sebal.
"Astaga, keras kepala sekali, bahkan untuk mengakui cinta pun sangat susah!" gerutu Biru dalam hati.
"Hey, anak muda! Kamu akan menyesal kalau tidak mau mengakuinya!" teriak Biru dan Ifraz tetap tidak menghiraukan. Pria muda itu sekarang berniat untuk pulang, tetapi Ifraz teringat kalau motornya masih berada di restoran.
"Aarrggghhh!" Ifraz mengacak rambutnya sendiri.
Tidak lama kemudian datang motor Ifraz yang baru saja diambil oleh orang suruhan Biru.
"Nah, itu dia!" kata Ifraz seraya berjalan kearahnya.
Setelah itu, Ifraz segera meminta motornya dan sekarang memilih untuk pulang.
Setelah kepergian Ifraz, sekarang Pia yang memprotes Biru.
"Ayah!" lirih Pia dari pintu kamarnya, memperhatikan Biru yang sedang berjalan ke arahnya. Ya, Biru merasa lelah dan sekarang ingin beristirahat di kamar.
"Iya, ada apa?" tanya Biru yang menatap Pia, terlihat wajah yang masam dari Pia.
"Kenapa Miko, Ayah!" rengek Pia dan Biru hanya menjawab dengan senyuman.
"Ayah, kenapa senyum!"
"Gimana enggak senyum, orang itu bukan Miko, dia hanya diperintahkan oleh ayahnya untuk menemui ayah, itu saja!"
"Jadi maksud ayah?"
__ADS_1
"Bukan Miko! Dia anak kolega ayah," jawab Biru yang sekarang sudah berdiri di depan pintu kamar Pia dan jawaban itu bukanlah jawaban yang cukup memuaskan bagi Pia.
"Ayah, tolong jelaskan! Ayah bilang akan menjodohkan ku? Tapi... ayah seperti main-main!" protes Pia, gadis itu merajuk dan menutup pintu kamarnya.
Tetapi, pintu itu berhasil ditahan oleh Biru.
"Kenapa? Ayah sedang berusaha untuk kamu!" kata Biru dan Pia tidak mengerti maksud Biru.
"Maksud ayah?" tanya Pia yang menolehkan kepalanya.
"Ayah ingin melihat Ifraz menunjukkan cintanya dan mengakui kalau dia cinta kamu, bisa dibilang kalau Ayah memanasi Ifraz!" kata Biru dan Pia menggelengkan kepala.
Di saat dirinya pasrah akan cintanya, Biru mulai mempersatukan mereka.
"Ayah, Pia enggak mau karena dia terpaksa!" ucap Pia, gadis itu menitikkan air mata dan Biru menghapusnya.
"Bukan terpaksa, tapi ayah membantu supaya dia menyadari perasaannya!" ucap Biru dan Pia menjawab, "Terserah ayah saja, Pia lelah untuk hari ini!"
Setelah mengatakan itu, Pia pun meminta Biru untuk beristirahat juga.
Biru menganggukkan kepala dan mengingatkan Pia untuk makan.
"Iya, ayah juga!" kata Pia dan Biru menganggukkan kepala.
Setelah itu, Biru kembali ke kamar dan di sana ia langsung duduk di sofa, mengambil ponselnya, Biru mengirim pesan pada Maya.
"Bantu aku untuk menyadarkan perasaan Ifraz untuk Pia!"
Setelah mengirim pesan itu, Biru meletakkan ponselnya di atas nakas, Biru memilih untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian santai.
Maya yang baru saja selesai meminum obat itu ponselnya menyala dan segera mengambil ponsel itu yang ada di atas nakas.
Maya membukanya dan membaca pesan itu. Lalu, Maya mengerti apa yang harus dilakukannya sebagai ibu juga sahabat anaknya.
Maya berbalik badan dan berapa terkejutnya ia saat mendapati Daniel sudah berdiri di belakangnya.
Maya bersyukur karena Biru hanya mengirim pesan seperti itu dan Maya pun tidak membalasnya.
"Kenapa?" tanya Daniel dan sebenarnya Daniel membaca pesan itu dan merasa aman karena isi pesan yang hanya biasa saja.
"Bukan apa-apa," jawab Maya yang kemudian mengembalikan ponsel itu ke atas nakas.
Setelah itu, Maya keluar dari kamar dan mencari Ifraz di kamarnya.
Benar saja, Ifraz sedang membaca komik, memang kelihatannya membaca komik tetapi siapa sangka kalau gambar yang ada di komik kesukaannya itu semua berubah menjadi Pia dan Miko.
Ifraz melempar komik itu ke pintu dan bertepatan dengan Maya yang membuka pintu, Maya terkejut karena kakinya tiba-tiba saja terkena timpukan komik.
Bersambung.
Yuhu, Ifraz galau berat nih.
Yuk, jangan lupa like dan komen ya.
Gift/votenya buat semangatin author 🥰.
__ADS_1
Makasih yang selalu ikutin cerita receh ini. Sampai jumpa di next episode. papay!