
Biru menghadang Ran di perjalanan pulangnya. Pria itu menggenggam setir kemudian sangat erat, menyimpan dendam pada orang yang telah mengkhianatinya.
Setelah melihat mobil Ran melintas dengan segera Biru mengejarnya.
Pria itu menyundul bagian belakang mobil Ran membuat pria itu terkejut dan melihat ke spion.
"Tuan, apa yang anda lakukan?" batin Ran, pria itu mempercepat laju mobilnya sehingga terjadi aksi kejar-kejaran antara mereka.
Ran menyetir mobilnya ke jalanan sepi, nampak bangunan terbengkalai di sana, pria itu sengaja karena tidak ingin membahayakan pengendara lainnya.
Setelah itu, Ran menghentikan laju mobilnya dan diikuti oleh Biru, Ran keluar dari mobil berniat ingin membicarakannya baik-baik tetapi tidak dengan Biru.
Pria itu yang sedang naik darah langsung menggunakan kekerasan, Biru meninju perut Ran dan pipinya dengan terus mengatainya pengkhianat.
"Pengkhianat! Beraninya kamu menusukku dari belakang!" geram Biru dan sekarang Biru melemparkan Ran hingga punggung Ran membentur mobilnya sendiri.
Pria itu mengusap dadanya dan berusaha kembali berdiri tegap, menatap Biru yang sedang berjalan ke arahnya.
Kali ini, Ran tidak tinggal diam.
"Jangan diam saja, Ran! Kalau enggak kamu bisa mampus di tangan Biru!" batin Ran, "ingat, dia bukan lagi Tuan kamu!" lanjutnya dan benar saja, Ran menangkis serangan dari Biru membuat Biru tidak dapat meninju wajah Ran.
Ran membalas meninju perut Biru sekali, dua kali, tiga kali lalu Ran mendorong tubuh Biru.
"Maaf, Tuan. Saya hanya menjalankan perintah!" ucapnya, Ran mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
Biru yang tersungkur itu bangun.
"Katakan, di mana anak aku?" teriak Biru, nampaknya pria itu sudah tidak dapat lagi berbicara baik-baik. Pria itu mencengkeram kerah kemeja Ran.
"Saya tidak tau, karena saya tidak mengurus bayi!" jawab Ran, pria itu mendorong Biru lalu membenarkan jasnya yang sudah tidak beraturan.
"Sial, aku berdarah. Bakalan repot ini!" gerutu Ran dalam hati.
"Seharusnya semua milikku jatuh pada anakku, kenapa jatuh pada pria asing yang bahkan namanya baru aku dengar!" protes Biru, ia sudah tidak lagi tau jalan pikiran Murni.
"Siapa Dandy P. W?" tanya Biru seraya meraih bahu Ran tetapi Ran segera menyingkirkan tangan Biru dari sana.
"Dia pemilik sahan terbesar untuk saat ini, karena Tuan Dandy sedang berada di luar negeri beliau menunjuk saya untuk sementara!" jawab Ran, setelah itu Ran pergi meninggalkan Biru yang terdiam.
__ADS_1
"Gila, ini gila!" teriak pria itu yang sekarang sudah kembali ke mobilnya.
"Mamah, bahkan bukan cucu mamah yang mewarisi semua milik mamah!" ringis Biru, "Ifraz. Dia pasti bersama dengan Maya!" lanjutnya dan sekarang Biru melajukan mobilnya ke rumah Maya.
Dengan kecepatan tinggi pria itu mengendarai mobilnya, setelah beberapa menit sekarang Biru turun dari mobil dan membuka pintu pagar itu, pria yang baru turun dari jabatannya itu langsung hilang pesonanya dan sudah tidak setampan biasanya, wajahnya langsung terlihat kusut bagaimana tidak, pria yang selalu berkecukupan bahkan selalu lebih itu mendadak dimiskinkan oleh ibunya sendiri.
"Maya!" teriak Biru seraya menggedor pintu.
Maya yang sedang berada di rumah seorang diri itu merasa takut, takut mendengar teriakan dari Biru.
"Ya Tuhan, Mas Biru datang kemari," gumam Maya, wanita yang sedang duduk di kamar itu, memandangi foto anaknya segera menghubungi Gala yang sedang berada di toko.
"Gal! Kamu pulang cepat, mbak takut!" kata Maya, setelah mengatakan itu Maya segera memutuskan sambungan teleponnya.
BRAK!
Biru berhasil mendobrak pintu rumah itu, ia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke kamar Maya yang terkunci.
"Aku tau, kalian di dalam kan? Cepat keluar kamu, May!" teriak Biru seraya menggedor pintu kamar Maya.
"Untuk apa kamu ke sini?" tanya Maya dari balik pintu, wanita itu berdiri di balik pintu, menahannya.
"Yang kamu cari tidak ada di sini! Percuma. Pergilah!" sahut Maya.
Lalu, Biru menendang pintu itu sekuat tenaga sampai hampir berhasil mendobrak pintu.
Seperti kesetanan, Biru mengerahkan semua sisa tenaganya untuk menggertak Maya. "Aku tidak akan pernah menyerah, camkan itu!"
"Ya, aku juga tidak akan pernah menyerah, lebih baik kamu pergi dari sini, gunakan sisa tenaga mu untuk menghadapi hari esok!" jawab Maya dan jawaban itu terdengar mengejek bagi Biru.
Biru kembali menendang pintu itu kali ini berhasil mendobraknya dan Maya tersungkur, Biru mengangkat tangan bersiap untuk menampar Maya tetapi tangan itu tertahan karena Gala datang tepat waktu.
Gala menyeret Biru membawanya keluar dari kamar Maya dan Maya mengikuti Gala, wanita itu takut kalau Gala akan menghabisi Biru.
Kali ini, Biru tidak seperti biasa, pria itu tidak mengalah pada Gala. Sekarang terjadi perkelahian diantara mereka.
"Tolong!" teriak Maya seraya keluar dari pagar dan berhasil mengundang para tetangga.
Mereka melerai Biru dan Gala.
__ADS_1
"Bajingan, jangan datang lagi lo ke sini!" teriak Gala seraya meronta, meminta tangan dan kakinya di lepaskan tetapi para tetangga itu berhasil menahan Biru dan Gala.
"Lepas!" teriak Biru seraya meronta.
Setelah terlepas, Biru meninggalkan kediaman Maya dan Gala. Pria itu melewati Maya yang masih berdiri di pagar, menatap tajam penuh kebencian dan dendam.
Setelah kepergian Biru semua warga pun mulai meninggalkan rumah Maya. Tentunya kejadian ini akan menjadi gosip hangat di lingkungannya.
"Kamu nggak papa, Gal?" tanya Maya seraya membantu Gala berdiri.
"Bajingan, bisa-bisanya kita berurusan dengan pria bajingan seperti itu!" gerutu Gala seraya bangun dari duduk.
"Sudah, lebih baik kita obati lukamu!" kata Maya seraya menuntun adiknya masuk ke rumah.
Sedangkan Biru, pria itu masih berada di mobilnya, terlalu sibuk dengan pikirannya sampai pria itu lupa untuk mengisi perut.
Sekarang, Biru mengendarai mobilnya dan memarkirkan mobilnya di rumah makan padang.
****
Sedangkan Ran, pria itu yang takut pada popi sedang dimarahinya.
"Kenapa kamu tidak melawan, kenapa sampai begini. Ini lihat, dahimu sampai berdarah, wajah babak belur, perut kesakitan! Kalau kamu sakit siapa yang akan menjaga aku, siapa yang akan memanjakan aku?" gerutu Popy seraya mengompres dan memberi salep pada luka suaminya.
"Tapi, dengan begini, kamu jadi mengurus ku kan?" lirih Ran, pria itu tidak berani menatap istrinya.
"Kalau begitu setiap hari saja kamu begini, nanti aku akan mengurusmu!" jawab Popy seraya menekan kapas berisi alkohol pada dahi Ran.
"Aau, sakit!" pekik Ran, setelah itu Ran menjadi diam, merasa kesal pada Popy yang memarahinya.
Popy pun menyadari itu, merasa kalau sudah keterlaluan.
"Sayang, maaf. Bukan aku nggak mau mengurus kamu, tapi aku nggak tega lihat kamu seperti ini!" lirih Popy, setelah itu Popy bangun dari duduknya, membereskan semua isi kotak p3knya.
Ran menahan tangan Popy.
"Terimakasih sudah menghawatirkan aku."
Bersambung.
__ADS_1