
"Halo ponakan om yang tampan, gimana kabar kamu, boy!" Gala membopong keponakannya itu setelah selesai selesai membersihkan diri.
"Aku baik, om. Om gimana kabarnya?" jawab Maya dibuat seimut mungkin, mengikuti suara anak kecil.
"Om juga baik," jawab Gala, setelah itu Gala membawa Ifraz keluar dari kamar, membawanya berkeliling rumahnya yang besar dan Maya mengikutinya.
"Gal, gimana kabar orang-orang di Jakarta?"
"Siapa? Maksud Mbak, Mas Biru kah?"
"Bukan hanya dia, tapi semua, teman-teman Mbak gimana kabarnya?"
"Semua baik, kok. Mereka sempat mencari, tapi Gala bilang 'nggak usah cari lagi, kabar Mbak baik-baik saja'," jawab Gala.
"Syukurlah, Mbak kangen Jakarta, Gal."
"Mau pulang? Mbak yakin pria itu nggak bakal ganggu Mbak?"
Mendengar itu Maya pun terdiam. Menarik nafas dalam.
****
Sementara Biru, lelaki itu sedang mengemasi barang-barangnya dari toko, membawanya pulang ke rumah kontrakan.
Biru mengusap peluhnya yang terus mengalir dari dahinya menggunakan sapu tangan.
"Nikmatnya," gumam Biru dalam hati.
Sampai sore menjelang, Biru sudah mengosongkan toko tersebut dan Biru mendapatkan pesan dari pemilik toko kalau uangnya sudah di transfer.
"Menyebalkan! Kalau begitu kenapa aku nggak beli kios aja?"
Setelah itu, Biru membawa sisa barangnya itu ke kontrakan, di kontrakannya itu menjadi penuh dengan barang dagangan.
"Kalau beli kios nggak cukup uang aku, villa belum laku," gumam Biru, pria itu berdiri berkacak pinggang melihat dagangannya.
"Barang sebanyak ini, aku bisa rugi kalau enggak secepatnya dapat kios baru!" masih bergumam dan seraya menunggu mendapat tempat baru, Biru membuat toko online tetapi toko onlinenya masih sepi karena toko Biru masih baru dan belum mendapatkan ulasan.
"Susahnya nyari duit!" ucap pria itu yang sekarang sedang mencari toko melalui ponselnya.
Dua hari berlalu.
Setelah mendapatkan beberapa toko, Biru segera melihat tempatnya langsung dan Biru merasa tidak cocok karena tempat itu tidak terlalu ramai dan juga jauh dari sekolah.
__ADS_1
Lalu, Biru melihat toko selanjutnya.
Lokasinya bagus, tapi harganya juga bagus. Biru yang sudah berpengalaman itu membuat surat perjanjian tertulis dengan pemilik toko supaya tidak diusir sewaktu-waktu.
"Baik, Pak. Kalau begitu nanti saya rapikan dulu tokonya, terimakasih," kata pemilik toko dan Biru mengajaknya berjabat tangan.
"Alhamdulillah, semoga tempat baru membawa berkah," ucapnya dalam hati, sekarang Biru kembali pulang ke kontrakannya.
****
Sementara Maya, Ifraz dan Gala sedang jalan-jalan di Batu-Malang dengan Bram yang selalu mengikutinya dengan sembunyi-sembunyi.
Pria itu merasa tidak percaya diri kalau harus mendekati Maya secara tiba-tiba.
"Kenapa gua jadi cemen gini!" gumamnya dalam hati.
"Gua harus menjadi lebih baik dari sebelumnya lebih dulu, memantaskan diri untuk mendekati Maya!" lanjutnya dan diam-diam Bram mengambil foto Maya dan Ifraz.
Setelah semua orang merasa lelah, sekarang Maya mengajak pulang.
Selama perjalanan, Gala menunjukkan hasil jepretannya pada Maya.
"Bagus ini, Gal. Nanti jangan lupa kamu cetak ya!" kata Maya.
"Iya, om bercanda aja kok, ponakan om sama mamahnya adalah segalanya buat om!" kata Gala dan Ifraz seolah mengerti, bayi yang berusia hampir empat bulan itu tertawa mengundang tawa Maya dan Gala.
"Mas, lihat anakmu, anakmu sangat lucu!" batin Maya dalam hati, tak terasa air matanya menetes, air mata bahagia kah? Bahagia melihat Ifraz dan sedih ketika mengingat ayah dari anaknya.
"Semoga kamu bahagia dengan gadis pilihan mu, Mas. Semoga Hafizah bisa menjaga hati kamu dan kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama," batin Maya, lagi-lagi Maya mendoakan yang terbaik untuk Biru.
****
Sementara Hafizah, wanita itu sudah membaik, sekarang sedang mencari pekerjaan dan dirinya mendapat pekerjaan sebagai kasir di sebuah mini market, Hafizah mendapatkan pekerjaan itu karena Dewi yang membantunya.
Sekembalinya Gala ke Jakarta, pria itu langsung pergi untuk mencetak foto dan tanpa Gala tau ternyata tempat yang didatanginya itu adalah milik Biru.
"Gala," lirih Biru dari balik etalase.
Gala hanya diam, tidak mungkin dia akan mencetak foto itu di tempat Biru karena selama ini Gala selalu mengatakan tidak tau di mana Maya.
"Maaf, gua salah tempat!" kata Gala yang kemudian keluar dari toko Biru dan Biru mengejar Gala.
"Gal, aku tau, kamu tau di mana Maya berada kan? Gal, aku udah-"
__ADS_1
Belum sempat melanjutkan apa yang ingin dikatakannya Gala sudah memotong ucapan Biru.
"Sampai kapanpun gua nggak akan bagi tau! Dia udah bahagia sama anaknya, hanya berdua!" jawab Gala, setelah itu Gala pergi mengendarai motornya.
"Ck!" decak Gala.
*****
Dua tahun berlalu dan selama itu pula Bram masih menjadi pemuja rahasia Maya. Sedangkan Biru, dirinya fokus membenahi diri, fokus dengan pekerjaannya tanpa berhenti berharap, suatu saat akan bertemu kembali dengan Maya dan anaknya.
Sekarang, Biru sudah membeli rumah kecil dan kios sendiri dari hasil menjual villanya.
Perlahan kehidupannya membaik, tetapi hatinya hampa. Bukan hanya Biru, Murni juga merasa hampa tanpa cucu dan anaknya.
Sekarang, Murni sedang meminta pendapat pada asistennya.
"Bagaimana kalau aku mengambil anak, untuk ku jadikan cucu adopsi?"
"Saya ikut dengan keputusan anda, Nyonya."
"Baiklah, kalau begitu bawa saya ke panti asuhan. Saya mau cucu perempuan supaya sepasang!"
"Baik, Nyonya," jawab asisten Murni, setelah itu pergi menyiapkan mobil untuk Tuannya.
Sesampainya di panti asuhan, tidak ada anak yang dapat menarik perhatian Murni dan Murni hanya menyantuni anak-anak yatim tersebut, Murni juga menjadi donatur tetap di beberapa panti asuhan.
Di perjalanan, Murni meminta pada sopirnya untuk melihat keadaan Biru terlihat dari luar tokonya Biru sedang sibuk melayani pelanggan.
"Kamu memang terbaik, Nak. Walaupun sudah mamah hukum tapi kamu tidak bodoh dan tidak membenci mamah. Mamah juga tau kalau kamu diam-diam sering mendatangi rumah mamah, kenapa tidak menemui mamah? Apa kamu pikir mamah masih marah? Mamah sudah tidak marah, tetapi hukuman tetaplah hukuman!" ucapnya dalam hati.
Setelah melihat keadaan anaknya baik-baik saja, Murni meminta pada sopirnya untuk pulang.
****
Sementara Maya, wanita itu sedang menyiapkan kado untuk teman Ifraz yang akan merayakan ulang tahunnya.
Sekarang, Ifraz sudah tumbuh menjadi pria kecil yang tampan, calon mantu idaman para ibu-ibu komplek.
Tetapi, tak semua menyukai keberadaan Maya, mereka yang tidak mengetahui siapa Maya sebenarnya merasa heran dengan Maya yang tidak bekerja tetapi sangat kaya raya.
Bersambung.
Jangan lupa klik like ya kak semua 🤗 Terima sudah membaca ☺
__ADS_1