Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Bertarung Sampai Mati!


__ADS_3

Halo selamat pagi, aku up lagi nih, jangan lupa buat klik ya, kak.


Difavoritkan juga, ya.


Selamat membaca....


****


Maya memperhatikan taksi itu sampai tak terlihat, tidak lama kemudian Maya merasakan getaran di ponselnya, ia mendapat pesan dan segera membuka pesan itu yang ternyata dari Marisa.


Ternyata, sopir taksi itu adalah suruhan Marisa. Sekarang, bukannya ke sekolah tetapi mereka membawa Kania ke rumah kosong.


Terlihat ada tiga anak-anak berandalan yang akan berbuat tak senonoh pada Kania yang pingsan.


"Aaaaaaaa, jangan!" teriak Maya dan Maya menjadi panik, sangat panik.


Maya mencoba menghubungi Daniel tetapi nomer itu tak dapat dihubungi.


Lalu, Maya kembali menerima pesan kalau dirinya tidak boleh melaporkan ke polisi.


Maya menghubungi nomor itu dan menanyakan apa yang ia mau.


"Yang aku mau cuma satu, kamu harus menderita!" jawab Marisa yang sedang duduk memperhatikan Kania yang terlihat cantik dan imut.


Marisa berniat akan menjual Kania untuk dijadikan budak sek*s.


"Bajingan, kalau masalahmu dengan aku, kamu harusnya melawan aku!" teriak Maya dari sambungan telepon.


Teriakan Maya di dengar oleh asisten rumah tangganya.


Asisten itu segera mengikuti suara teriakan Maya, tidak lama kemudian Maya jatuh pingsan.


"Ibu!" teriak asisten itu yang segera mengangkat kepala Maya dan membawanya ke pangkuan.


"Aduh, ada apa ini?" tanyanya, ia panik dan segera mengambil ponsel Maya yang masih menyala, ia segera menghubungi Ifraz.


"Aden, Ibu pingsan, Den!" ucapnya, tidak berlama-lama asisten itu segera mematikan ponselnya.


Ifraz yang sedang memijit punggung Pia itu segera bangun, ia mendengar suara panik dari bibi membuat Ifraz mengerti kalau Maya tidak baik-baik saja.


"Sayang, aku pergi dulu!" kata Ifraz yang segera loncat dari ranjang.


Ifraz berteriak memanggil asisten rumah tangganya.


"Tolong jaga Pia, dia sedang tidak sehat, panggilkan dokter juga untuknya, saya pergi dulu!" kata Ifraz yang berdiri di bawah tangga dan bibi pun menganggukkan kepala.

__ADS_1


Ifraz segera mengendarai motornya supaya terbebas dari macet, Ifraz melesat cepat dan tidak membutuhkan waktu lama sekarang Ifraz sudah tiba di rumah Maya.


"Mah," teriak Ifraz yang baru membuka pintu utama, Ifraz berjalan cepat mencoba mencari Maya dan Maya tengah berbaring di sofa ruang tengah.


"Kenapa, bi?" tanya Ifraz dan segera mendekati Maya.


"Nggak tau, Den. Tadi Ibu menjerit terus pingsan!" jawab bibi yang sedang menggosok tangan dan kaki Maya menggunakan minyak angin.


"Mah, bangun mah," kata Ifraz seraya menepuk pipi Maya.


"Ken, Ken!" lirih Maya seraya menggelengkan kepala.


"Mah, kenapa sama Ken?" tanya Ifraz yang sedang berjongkok dan sekarang Maya membuka mata dan segera duduk.


"Marisa menculik adik kamu!" ucap Maya seraya sesenggukkan.


"Apa?" seru Ifraz, ia ikut panik juga apalagi mengetahui kalau wanita berbisa itu memiliki dendam pada Maya.


"Kita harus lapor polisi," kata Ifraz seraya bangun dari jongkoknya.


Maya menahan tangan Ifraz dan melarang untuk menghubungi polisi.


"Telepon ayah kamu!" perintah Maya, wanita itu yakin kalau Biru bisa diandalkan, ia memilih menelepon Biru karena tidak ingin mengganggu pekerjaan Daniel dan juga tadi tidak bisa dihubungi, Maya tidak ingin membuang waktu untuk menunggu Daniel sampai ke rumah.


Setelah itu, Biru memanggil Ran, Biru meminta Ran untuk membereskan masalah ini.


Seperti biasa, Ran menemui anak buahnya dan meminta untuk segera mencari Marisa.


Pertama, Ran meminta kerja sama lebih dulu dengan Maya, Ran mengusulkan kalau Maya akan berduel untuk melawan Marisa dan menyelesaikan masalah ini hingga tuntas tanpa adanya lagi dendam.


"Apa? Berduel? Tapi aku nggak bisa berkelahi!" kata Maya dan Biru yang sekarang sudah sampai di rumah Maya itu mengatakan kalau itu adalah pura-pura.


"Cepat, sekarang hubungi Marisa dan tanyakan dimana alamat dia sekarang berada, kamu bilang kalau akan menemuinya sendiri dan menyelesaikan masalah ini tanpa menyakiti anak-anak!" perintah Biru.


Maya segera menghubungi Marisa dan wanita itu menertawakan Maya, bagaimana tidak tertawa, Marisa menganggap Maya adalah wanita yang sangat lemah, lalu, bagaimana Maya akan melawannya, begitulah pikir Marisa.


"Kita berduel sampai mati, aku atau kamu, ini adalah masalah kita, bukan masalah anak-anak, jangan jadi pengecut kamu!" kata Maya dari sambungan telepon.


"Baiklah, kita bertarung samai mati, temui aku di alamat yang sebentar lagi akan ku kirim!" kata Marisa, setelah itu, Marisa memutuskan sambungan teleponnya, Marisa segera mengirim alamat itu dan Marisa yang merasa tidak bodoh itu sudah pasti menyembunyikan Kania.


"Black!" seru Marisa dan yang dipanggil pun mendekat.


"Saya, Madam!" jawab Black yang sekarang sudah berdiri di depan Marisa.


"Dengar, saya akan pergi, kalau saya tidak kembali, kamu boleh jual gadis kecil itu dan ambil semua uangnya untukmu dan anak buah mu!, anggap saja itu bonus untuk kalian!" ucap Marisa, sekarang Marisa bangun dari duduknya.

__ADS_1


Ia mengambil belati dan diselipkan di pahanya, berniat belati itu untuk melukai Maya.


"Kita bertempur sampai mati!" gumam Marisa, Marisa mulai melangkahkan kakinya dan langkah itu tertahan oleh Black.


"Madam. saya yakin kalau wanita itu tidak sendiri! Maka, ijinkan beberapa anak buah saya untuk mengawasi Madam!" usul Black dan marisa pun sangat setuju, wanita yang memakai dress ketat hitam itu merasa harus menang dan mengakhiri ini semua dengan kematian Maya.


Sekarang, Marisa mengemudikan mobilnya dan menuju ke lokasi yang sudah dijanjikan.


Marisa sampai lebih dulu di bangunan tua yang terbengkalai dan anak buahnya itu mengawasi dari jarak yang cukup aman.


Marisa berdiri dan bersandar di mobilnya dengan bersedekap dada, ia menyeringai saat melihat Maya turun dari motor tukang ojek.


Maya membayar ojek itu supaya terlihat benar naik ojek, padahal pengendara motor itu adalah suruhan Ran.


Setelah itu, pengendara itu mengatakan pada Ran kalau Marisa tidak sendiri, ia sempat melihat orang yang bersembunyi.


"Sudah ku duga, sekarang kita serang orang Marisa dan kita jemput Kania!" perintah Ran.


Kembali ke Maya.


Wanita itu sangat ingin menjambak Marisa yang telah berani menyentuh anaknya


Maya berjalan mendekati Marisa dan menodongkan pistol.


"Dimana anakku?" tanya Maya. ia menatap tajam Marisa yang terlihat mengejek.


"Bertarung dengan tangan kosong!" jawab Marisa dan maya pun meletakkan pistol itu di tanah, setelah itu Maya diam-diam mengambil tanah kering di genggamannya.


Maya yang menggunakan dress itu menyembunyikan tangannya disela-sela roknya.


Sekarang Marisa memasang kuda-kuda dan meminta Maya untuk maju. Maya berlari ke arahnya dan segera melempar tanah kering itu ke wajah Marisa membuat Marisa merasakan perih di matanya, dengan penuh nafsu Maya meninju hidung Marisa hingga wanita itu jatuh.


"Kurang ajar!" gerutu Marisa.


Wanita itu mengambil belati yang tersimpan di kakinya, lalu seseorang melemparkan sebuah bambu pada Maya.


Orang itu adalah Biru, Biru ingin melihat Maya mengeluarkan kekuatannya supaya tidak dianggap remeh lagi.


Marisa pun segera memanggil anak buah yang ternyata sudah berhasil dilumpuhkan oleh Ran dan orangnya.


"Sial!" gerutu Marisa. Wanita itu berlari kearah Maya berdiri seraya mengacungkan belati itu dan Maya mengayunkan bambu yang ada di tanganya.


Maya mengayunkan bambu itu ke tangan Marisa dan membuat belati itu terlepas dari tangan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2