
Sesampainya di rumah Maya, Bram membopong Ifraz yang tertidur di pangkuannya.
"Makasih ya, Bram," ucap Maya seraya memperhatikan Bram yang sedang meletakkan Ifraz di ranjang.
"Sama-sama, oia, Maya. Gua mau tanya sesuatu boleh?"
"Tanya apa?"
"Kita bicara di luar boleh?" ucap Bram seraya menunjuk balkon kamar Maya.
Maya menganggukkan kepala dan keduanya berjalan beriringan ke sana.
"Ada apa, Bram?" tanya Maya yang merasa sangat penasaran.
"Gua naksir lu, May!" batin Bram.
"Bram!" lirih Maya ketika melihat Bram terdiam.
"Ah... iya, itu, gua mau tanya, lu nggak mau balikan lagi sama mantan laki lu?"
"Hah?"
"Salah ya, pertanyaan gua?" tanya Bram seraya menatap Maya.
"Ya nggak salah sih, gimana ya, kan dia udah bahagia sama kehidupannya yang sekarang, kenapa aku harus masih berharap sama dia?" jawab Maya seraya melihat Bram, lalu kembali melihat ke jalanan dari tempatnya berdiri.
"Lu nggak mau cari tau tentang dia, May?"
"Aku nggak mau ganggu siapapun, Bram. Oh iya, gimana soal kerjaan? Gimana kalau aku bantu kamu cari kerja?" jawab Maya, ia sengaja mengalihkan pembicaraan supaya tidak membicarakan Biru lagi.
Sementara Biru, lelaki yang semakin tebal brewoknya itu sedang memakan nasi bungkusnya harus tersedak dan segera mengambil air minum yang berada di depannya.
"Uhuk! Siapa yang gosipin aku!" gerutu Biru dalam hati.
Setelah menghabiskan minumnya, sekarang Biru kembali memakan nasi bungkusnya sedangkan Pia sudah tertidur pulas di kamar.
****
"Nggak usah, May. Gua mau usaha sendiri aja, lu cukup do'ain gue ya, biar cepat dapat kerja!" jawab Bram, kemudian Bram melihat jam tangan.
"Udah malam, May. Gua balik ya. Oia besok gua mau balik ke Jakarta, ada info lowongan pekerjaan di sana."
"Ya udah, kamu hati-hati, ya! Semangat, aku bantu doa dari sini."
"Makasih, May!" jawab Bram.
"Aku yang makasih kamu, Bram!"
"Makasih apa lagi?" tanya Bram menyelidik.
"Kamu udah berubah, jauh lebih baik!"
Mendengar itu Bram tersenyum dan akhirnya Maya menyadari perubahannya itu yang demi dirinya.
"Harusnya gua yang makasih, May!"
"Hahaha." Bram dan Maya tertawa bersama karena sedari hanya 'MAKASIH' yang mereka bahas.
__ADS_1
"Udah malam, Bram. Lebih baik kamu pulang sana!"
"Tapi, gua masih kangen. Besok juga udah harus balik ke Jakarta, kan," protes Bram.
"Besok sebelum balik Jakarta harus ke sini dulu!" kata Maya seraya bersedekap dada.
"Iya, bawel. Ternyata lu bawel, ya!" kata Bram seraya mencubit pipi Maya gemas.
****
Malam telah menjadi pagi, sekarang Biru sedang memandikan Pia di bak mandi seraya bermain dan bercerita menggunakan mainan dari tokonya, ada ikan hiu, bebek, gajah dan bola-bola kecil.
Biru sudah tidak memikirkan lagi tentang orang tua Pia, karena sampai sekarang tidak ada satupun yang datang mencarinya, padahal Biru sudah memasang iklan untuk Pia.
"Pia, ayah ingin bercerita, Pia mau mendengar?" tanya Biru seraya menyiram-nyiram tubuh Pia menggunakan tangannya.
"Dongeng?" tanya Pia.
"Bukan, ayah mau kasih tau kamu kalau kamu punya saudara."
Belum sempat Biru bercerita Pia-nya sudah melempar anak bebek dan mengenai hidung Biru.
"Aduh!" pekik Biru seraya mengerjap.
"Udah mandinya, jangan lama-lama. Nanti masuk angin!" kata Biru seraya membereskan mainan, setelah itu mengangkat Pia dari dalam bak.
Dengan telaten Biru mengelap Pia menggunakan Handuk, memberikan minyak telon di perut.
Biru juga mengikat dua rambut ikal Pia yang ia biarkan memanjang.
"Cantiknya, anak ayah!" puji Biru setelah mengusapkan bedak di tangannya ke wajah Pia.
****
"Daddy janji, kalau libur Daddy datang lagi!" bisik Bram di telinga Ifraz tetapi itu tak membuat Ifraz melepaskan Bram.
"Gimana, May?"
"Seharusnya tadi kamu nggak usah pamit sama dia aja, Bram!" jawab Maya terdengar lesu, merasa tidak tega melihat Ifraz yang menangis.
"Ya udah, kita terbang bareng aja," ajak Bram.
"Tapi, Bram. Di sana, aku takut...." Maya menggantungkan ujung kalimatnya.
"Takut apa, May?"
"Aku takut, Iftaz bertemu dengan dia, sedangkan aku selama ini sudah payah menyembunyikan itu dari Ifraz.
"Ada gua, May. Lu denger sendiri kan, kalau gua Daddynya!" kata Bram berusaha menyakinkan Maya.
Sekali lagi, Bram menganggukkan kepala dan akhirnya Maya mengiyakan ajakan Bram.
Kedatangan Ifraz di Jakarta menjadi kejutan untuk Gala.
Sekarang, Gala yang sedang berada di toko itu menjadi sangat senang.
"Kok nggak ngabarin?" protes Gala yang sekarang sudah menggendong Ifraz.
__ADS_1
"Dadakan!" jawab Maya, segera Maya mendaratkan bokong di sofa toko Gala disusul oleh Bram.
"Kalian makin dekat aja? Ada sesuatu yang gua nggak tau kah?" tanya Gala, Maya dan Bram menjadi saling menatap.
"Kalian lapar nggak? Biar aku pesan makanan dulu!" kata Maya, ia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Biar gua aja!" kata Bram seraya mencegah Maya yang sedang mengambil ponsel di tas tangannya.
Bram pun bangun dari duduknya, meminjam motor Gala untuk pergi mencari makan.
****
Seraya menunggu, Maya bercerita pada Gala kalau dirinya ingin kembali tinggal di Jakarta.
"Yakin, Mbak?" tanya Gala.
"Iya, lagi pula sudah dua tahun, mbak yakin mbak udah move on, walaupun mbak tidak bisa melupakan semua tetapi mbak sudah ikhlas menerima, mbak juga sudah memaafkan semua!"
"Apapun keputusan mbak, Gala selalu dukung!" jawab Gala yang masih menggendong Ifraz.
Selesai dengan itu, Maya menghubungi dua temannya.
Mengatakan kalau dirinya berada di Jakarta.
Dilan dan Ayana sepakat untuk mengabaikan Maya.
"Biarin aja, Ay. Siapa suruh dia pergi nggak bilang-bilang!" kata Dilan dari sambungan teleponnya.
"Tapi, emangnya kamu nggak kangen sama Maya?"
"Kangen sih, tapi biarin aja, buat pelajaran dia! Kita jangan semudah itu luluh sama dia!"
Ayana menarik nafas dalam.
"Tapi aku kangen sama Ifraz!"
"Kamu tuh susah banget kalau diajak kerjasama!" protes Dilan.
"Bukan begitu, dulu kan Maya pergi juga ada alasannya, masa kita nggak bisa ngertiin, kalau dia nggak perduli sama kita pasti lah dia nggak bakal hubungi kita lagi!"
"Iya udah, tapi aku belum bisa nemuin dia, lagi banyak kerjaan!" ucap Dilan. Setelah mengatakan itu Dilan memutuskan sambungan teleponnya.
Sementara Ayana, ia membalas pesan Maya dan mengatakan kalau dirinya sangat merindukan Maya.
Lalu di tengah keseruan Maya berbalas chat dengan Ayana, tiba-tiba Gala membuat Maya terkejut.
"Mbak, Ifraz demam!"
Segera Maya meletakkan ponselnya dan meminta Ifraz dari gendongan Gala.
"Iya, anak mamah demam!"
"Kita ke rumah sakit, Gal!" ajak Maya dan Gala segera memesan taksi,
Di perjalanan, taksi itu berhenti karena bertemu lampu merah dan tanpa sengaja Maya melihat Biru dengan balita yang berada di depannya, tetapi Maya tidak dapat melihat wajah balita itu karena tertutup oleh topi yang digunakan. Mereka berada di sebelah kiri taksi Maya.
"Sudah ku duga, kalau kamu bahagia tanpa aku, Mas!" batin Maya.
__ADS_1
Bersambung.