
"Akh!" pekik Maya dengan tangan berada di pipi kirinya.
"Jangan egois lu, May!" geram Marisa, ia menatap tajam Maya seraya jari telunjuk menunjuk wajah Maya.
Buliran bening lolos begitu saja dari pelupuk matanya.
"Hapus! Jangan sampai dia melihat air mata buaya lu!"
Maya memalingkan wajahnya, tidak ingin menatap Marisa yang dianggapnya sangat galak.
Sekarang, Maya dan Marisa melanjutkan langkah kakinya.
Marisa mengantarkan Maya sampai depan pintu.
"Dengar, Maya. Adik gua udah berjuang, gua nggak mau melihat dia menderita lagi!"
"Kak, aku sudah menikah, tolong kakak ngertiin aku, biarkan aku menjelaskan semua pada Bram," lirih Maya.
"Kalau lu berani sakitin adik gua, liat aja lu!" kata Marisa, setelah mengatakan itu, Marisa pergi meninggalkan Maya, tetapi tak benar-benar pergi, Marisa memastikan Maya masuk ke ruang rawat Bram.
Maya membuka pintu itu, terlihat Bram sedang berbaring, membelakangi pintu.
Maya yang berdiri di pintu itu meremas jari-jarinya.
"Aku harus segera mengatakan yang sebenarnya," gumam Maya.
Lalu, Maya sedikit terkejut saat Bram sudah berbalik badan dan memanggilnya.
"Maya, kenapa berdiri di pintu, sini!" kata Bram seraya menepuk brangkar, meminta Maya untuk duduk di sebelahnya.
"Bram, aku-" ucap Maya terpotong.
"Sini dulu, kemana aja, gua udah nunggu dari pagi!" kata Bram.
Maya berjalan mendekat seraya menatap Bram, tatapan yang sulit diartikan, Bram merasakan itu, mengerti ada yang di sembunyikan oleh Maya.
Bram juga sempat berfikir, kalau Maya akan meninggalkannya yang sudah tidak dapat berjalan itu, tetapi Bram yakin kalau dirinya bisa sembuh dan kembali berjalan.
Maya yang tidak dapat berkata itu menangis, tidak tau harus seperti apa menyampaikannya pada Bram.
Sekarang, Maya berjalan, meraih makanan Bram yang tak tersentuh.
Dengan berderai air mata, Maya menyuapi Bram.
Bram menahan tangan Maya, menghapus air matanya. "Gua udah bangun, May. Tolong jangan menangis lagi!" ucap Bram.
Mendengar ucapannya itu membuat Maya semakin merasa bersalah, semakin menangis, sekarang Maya berjongkok, menangis sesenggukan, menyembunyikan wajahnya diantara lutut.
Melihat itu, Bram menjadi bingung, dirinya ingin bangun, ingin memeluk Maya tetapi tidak bisa.
__ADS_1
"Maya, bangun May!" lirih Bram, pria itu berusaha keras menggerakkan kakinya.
Maya mendengar pekik dari Bram, membuat wanita itu mendongakkan kepala, tak tega melihat wajah Bram yang sedang kesulitan.
"Bram, jangan dipaksakan, aku yakin kamu bisa sembuh," lirih Maya.
"May, lu bisa bersabar nunggu gua? Nunggu gua sampai bisa jalan lagi, gua nggak mau ngerepotin lu, gua nggak mau lu menikahi pria cacat kaya gua," lirih Bram, pria itu merangkum wajah Maya yang tepat berada di depan matanya.
"Liat mata gua, May!" lirih Bram dan Maya pun menatap mata itu, masih terlihat cinta yang besar dari Bram, masih terlihat tatapan cinta itu.
Bram memajukan wajahnya, bersiap untuk mencium Maya.
Bram sadar telah memaksa Maya, Maya yang berada di depannya itu tidak membalas apa yang Bram lakukan, tetapi semakin menangis.
Bram melepaskan itu dan menghapus air mata Maya.
"Gua lapar, May. Gua nggak bisa makan tanpa lu!" ucapnya.
Diam...
Masih terdiam...
Maya mulai membuka mulutnya.
"Bram," lirih Maya tanpa menatap mata lawan bicaranya.
"Iya," jawab Bram, pria itu memperhatikan Maya yang sedari tadi diam, menunggu dengan sabar apa yang ingin Maya katakan.
"Aaaa!" kata Maya seraya menyendokkan makanan Bram, dengan senang hati Bram membuka mulut.
"Daniel, maafkan aku, maaf!" batin Maya, ia merasa telah mengkhianati suaminya.
****
Di sebuah minimarket, Daniel membeli eskrim dan jajanan lainnya untuk Ifraz dan lagi, Ifraz mendengar kalau dirinya tidak mirip dengan Daniel yang berwajah asia, karena dirinya sangat mirip dengan Biru yaitu berwajah bule.
"Papah, kenapa Ifraz enggak mirip papah?" tanya pria kecil yang di gendongnya.
"Jangan dengarkan ucapan orang lain, kamu sangat mirip dengan mamah," kata Daniel, pria itu sadar telah membohongi Ifraz.
"Tapi... kata orang Ifraz nggak mirip sama mamah juga," lirih Ifraz.
Daniel menurunkan Ifraz yang berada di gendongan belakang. Mendudukkan pria kecil itu di bagian depan mobil.
Daniel menunjukkan foto-foto masa lalunya saat bersama dengan Maya.
"Lihat, ini waktu itu papah ngajak mamah kamu kabur, waktu itu papah belum punya mobil, jadi naiknya motor," jelas Daniel, ia memotret Maya yang berada di atas motor, duduk dengan pose dua jari yang acungkan dan Daniel memotretnya.
"Kabur itu apa, pah?" tanya Ifraz.
__ADS_1
"Emmm, semacam pergi tidak bilang, itu namanya kabur," jawab Daniel seraya membukakan bungkus eskrim untuk Ifraz.
"Kenapa kabur?"' tanya Ifraz seraya menerima eskrim cup itu.
"Nenek kamu tidak setuju," jawab Daniel dari dalam hati.
"Karena papah nakal, selalu mengajak mamah kamu main! Wajar dong anak muda kan taunya main, iya kan?"
Itulah obrolan Ifraz siang ini bersama dengan Daniel, setelah habis eskrimnya, sekarang Daniel membawa Ifraz ke kantor, di sana Ifraz menjadi pusat perhatian, bule kecil yang tampan, kharismanya dapat menarik perhatian cewek-cewek.
Ifraz yang penurut, ia tidak merepotkan Daniel untuk bekerja, mungkin merasa lelah, sekarang Ifraz tertidur di sofa, Daniel yang merasa khawatir Ifraz akan jatuh itu merapatkan antara Sofa dan meja.
Setelah itu ia kembali duduk di kursi kebesarannya.
"Kemana mamah kamu, kenapa belum kembali?" tanya Daniel dalam hati.
Maya yang sedang berada di rumah sakit itu tengah menuruti permintaan Bram, mencukur bulu yang tumbuh di rahangnya.
Selesai dengan itu, Bram yang sangat merindukan Maya selalu menatap Maya.
"May, kenapa? Ada yang salah sama gua?" tanya Bram dalam hati, pria itu merasakan sesuatu yang berbeda dari Maya.
Lalu, Bram dengan sengaja menyinggung soal pernikahan.
"May, kapan kita akan menikah? Aku siap untuk itu dan juga, mana anak gua, May. Gua rindu Ifraz."
"Cepat, May. Katakan, sebelum Bram semakin berharap!" ucapnya dalam hati.
Bram menunggu jawaban sampai Maya selesai mencukur tipis berewok nya.
"Kamu sudah tampan, cepat keluar dari sini! Jalani hari kamu dengan bahagia," lirih Maya seraya menyimpan alat cukur milik Bram.
"May!" lirih Bram, pria itu meraih lengan Maya.
Maya masih tak mau menatap matanya.
"Katakan, ada apa? Apa yang tidak gua tau?"
"Katakan, May. Ini waktu yang tepat!" batin Maya. wanita itu segera menatap Bram.
"Bram, mulai sekarang kita tidak akan sering bertemu!" lirih Maya.
"Ya aku tau itu, kata Marisa, lu udah kerja, pasti lu sibuk kan!"
"Kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi, bukan? Setelah dua tahun, aku sudah mengakhiri hubungan kita, Bram!"
"Gua udah bangun, kita bisa memulainya lagi dari awal!" kata Bram, pria itu mulai gusar dengan perasaannya.
Bersambung.
__ADS_1
Dapatkah Bram menerima kenyataan pahit setelah dirinya bangun dari koma?"