Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Menikah


__ADS_3

Pembaca yang baik, tinggalkan like setelah membaca, ya.


Terimakasih bagi yang setia membaca cerita ini.


****


Ifraz mengiyakan apa yang Maya katakan.


Maya berharap kalau Ifraz akan dapat menjaga kekasih hatinya, selamanya.


"Iya, Ifraz janji. Ifraz akan menjaga Pia dengan baik!" kaya Ifraz dan sekarang Ifraz sedang berada di ruang tengah, di sana semua hantaran sudah siap akan dibawa besok.


Ifraz merasa berdebar dan Daniel mengajari Ifraz untuk ijab kabul.


Ifraz semakin gugup ketika membayangkan dirinya duduk bersanding dengan Pia.


Ifraz berharap besok saat ijab kabul dirinya tidak menjadi bodoh.


Lalu, Ifraz meminta sesuatu pada Maya dan Daniel.


"Mah, Pah. Boleh nggak Ifraz meminta sesuatu?" tanya Ifraz, Maya dan Daniel pun yang sedang duduk di sofa itu menatap anaknya yang terlihat gugup berdiri di belakangnya.


"Apa itu, katakan!" kata Maya yang mendongakkan kepala.


"Besok Ifraz minta, Pia keluarnya setelah Ifraz udah ijab kabul, Ifraz nggak mau terlihat bodoh di hari yang bahagia ini!" kata Ifraz yang berhasil membuat dua orang tuanya itu terkekeh.


"Bucin banget sih anak mamah, astaga!" kekeh Maya dan Maya segera mengambil ponselnya, ia segera mengirim pesan pada Biru, menyampaikan apa yang Ifraz inginkan.


Biru yang menerima pesan itu pun menyetujui permintaan anaknya.


Hari telah berlalu, sekarang malam telah tiba, Ifraz yang sedang berkumpul dengan teman-temannya itu semakin tak dapat tidur.


Ifraz mendapat ejekan dan pujian yang akan menikah diusia sangat muda itu.


"Gila, 20 tahun aja belum lo udah merid aja!" kata salah satu temannya yang sedang memegang stik game.


Lima anak muda itu sedang berkumpul dan bermain ps di rumah Ifraz.


Ifraz yang sedang duduk di sofa sambil nyemil itu pun menjawab.


"Nikah enak tau!"


"Nikah itu jangan cuma bobo barengnya aja yang di pikirin!" kata teman Ifraz yang lain, teman itu adalah yang biasa mengirim link anu pada Ifraz dan Ifraz melemparkan bantal sofa pada pria itu yang sedang duduk di atas karpet bermain ps.

__ADS_1


"Emangnya lo!" jawab Ifraz, "dasar oncom!" lanjut Ifraz dan semua tertawa karena semua teman Ifraz sudah tau betul seperti apa temannya yang satu itu.


"Keren sih, nikah muda. Dari pada berbuat yang enggak-enggak! Tapi harus lo ingat nikah itu tanggung jawabnya besar!" kata teman Ifraz yang lain, pria itu sedang duduk di sofa bersama Ifraz.


"Iya, bro. Siap gue tanggung jawab, lo tau kan gue bukan cowok yang suka main-main!" jawab Ifraz dan sekarang setelah lewat tengah malam semua anak muda itu memilih tidur dan mereka tidur ada yang di sofa, di karpet dan di mana pun asalkan mereka sudah nyaman dan dapat memejamkan mata maka tidak perlu kasur yang empuk.


Subuh datang dan Maya melihat anak dan temannya itu masih terlelap.


Maya merasa senang ketika semua kebahagiaannya itu ada di depan mata.


Lalu, Maya berfikir kalau Ifraz dan Pia setelah menikah akan tinggal mandiri, Maya pun teringat dengan masa lalunya, saat Biru membawanya ke rumah yang penuh kenangan itu, di mana Maya berjuang mendapatkan cinta Biru.


Maya segera menepiskan apa yang sedang ia pikirkan.


Sekarang Maya memilih untuk mandi dan membangunkan anak muda itu untuk segera mandi karena ijab kabul di laksanakan pagi dan siangnya adalah resepsi di hotel.


Ifraz yang sedang bermimpi itu harus bangun dan sekarang pindah ke kamarnya, ia mengambil ponsel yang tersimpan di nakas.


Ifraz membuka ponsel itu dan ternyata ada pesan dari Pia.


"Ifraz, gue deg-degan!"


Ifraz pun membalas, "Sama, gue juga:v"


Ifraz tertawa dan tak menyangka kalau dirinya akan menikah dengan sahabatnya sendiri.


"Kalau Pia ada rasa sama gue juga berarti selama ini dia nahan perasaan bahkan selalu cemburu juga dong kalau gue deket sama cewek lain, secara kan gue dulu selalu punya pacar, tapi Pia sampai sekarang enggak punya pacar malah langsung calon suami!" ucap Ifraz dengan bangganya.


Berkali-kali Ifraz melihat jam di layar ponselnya dan waktu seolah berjalan sangat lambat.


"Lama banget sih! Biasanya juga cepet!" gerutu Ifraz.


Ifraz pun segera menjatuhkan dirinya di ranjang, kembali memeluk guling yang dianggapnya itu adalah Pia.


Ifraz memilih untuk tidur dan berharap semoga waktu yang ditunggu cepat datang.


Benar saja, saat sarapan Maya dan yang lain tak melihat Ifraz, Maya segera menyusul Ifraz ke kamarnya dan ternyata Ifraz masih terlelap dengan memeluk guling.


"Astaga, ada calon manten gitu ya, bukannya siap-siap ini masih tidur!" kata Maya yang masih berdiri di pintu kamar Ifraz.


Maya pun segera mendekat dan membangunkan anaknya.


"Bangun, udah jam 10!" kata Maya yang sengaja ingin mengerjai anaknya.

__ADS_1


Seketika Ifraz sangat terkejut dan menyalahkan Maya karena tidak membangunkannya.


"Maah, kenapa nggak bangunin aku!" kata Ifraz seraya mengusap wajahnya, ia mengira kalau sekarang sudah jam 10.


Maya terkekeh dan mengatakan kalau sekarang masih jam 7 pagi.


"Astaga, lama banget jamnya!" kata Ifraz, ia berharap kalau sekarang seharusnya sudah jam 8.


"Bangun, sarapan, mandi terus siap-siap!" kata Maya dan Ifraz segera bangun dari tidurnya.


Singkat cerita, sekarang sudah pukul delapan pagi dan semua sudah siap.


Ifraz ikut bersama dengan mobil Daniel dengan Daniel yang mengemudi.


Mobil itu sudah terhias cantik dengan pita-pita yang menempel di sana.


Beruntung jalanan Ibu Kota pagi ini tidak macet seperti biasanya.


Setelah beberapa menit, Ifraz dan rombongan sudah tiba di kediaman Biru.


Sesuai permintaan Ifraz, Pia masih berada di kamar sampai janji suci itu terucap dari bibirnya.


Ifraz merasa lebih baik menunggu Pia keluar dari pada harus menjadi bodoh di hari yang ditunggunya ini.


Deg-degan, itu sudah pasti Ifraz dan Pia rasakan. Pia yang sudah cantik dan manglingi itu duduk di kamar, menatap layar monitor yang sudah Biru siapkan, layar itu untuk melihat Ifraz yang akan ijab kabul.


Sementara itu, ada sedikit pertanyaan di hati Pia. Pertanyaan itu adalah dimana ayah kandungnya. Padahal selama ini Pia hanya mengerti makam ibunya saja, apakah ayah kandung Pia masih ada?


Kembali teringat dengan pernyataan Biru, kalau Pia sudah menjadi anak Biru sah di mata hukum, jadi kalaupun ayah kandung Pia datang dia tidak akan memiliki hak atas Pia.


Pia menarik nafas dalam dan Karena yang sudah ada di samping Pia itu juga tidak kalah cantik.


Karena datang bersama dengan Faza, tetapi Faza berada di depan bersama dengan tamu.


"Ren, gue deg-degan!" kata Pia seraya menggenggam tangan sahabatnya itu.


"Gue juga, sahabat yang mau nikah tapi gue ikut deg-degan, apa karena lo nikah muda ya?"


"Nikah muda atau dewasa gue rasa akan tetep deg-degan, kan setelah ini kita bakal jalani kehidupan baru!"


"Iya juga sih, gue nyangka akhirnya lo nikah juga sama Ifraz, cowok yang selama ini lo puja dalam hati!"


Pia tersenyum dan segera memeluk Karena.

__ADS_1


"Gue juga berdoa, semoga lo berjodoh sama Faza!" kata Pia dan Karena semakin mengeratkan pelukannya.


Bersambung.


__ADS_2