
Bram masih berada di atas motornya, menatap ke depan dan saat itu juga Bram mengetahui dalang di balik semua ini.
"Pasti ulah suami Maya!" gumam Bram, pria itu menggerungkan suara motornya dan para preman yang mengendarai motor itu segera mengepung Bram.
Bram menggelengkan kepala.
"Bisa mampus gua di keroyok!" batin Bram, pria itu memperhatikan motor yang terus memutarinya.
Lalu, salah satu dari mereka melemparkan tongkat baseball pada Bram dan Bram menangkap itu.
Sementara Biru, ia sedang memperhatikan dari dalam mobil, menyeringai, seolah puas melihat Bram yang sebentar lagi akan babak belur.
Bram membuka kaca helmnya.
"Pengecut! Beraninya keroyokan!" geram Bram, matanya menatap tajam memperhatikan lawannya.
Lalu, seorang pemimpin dari preman itu memerintahkan untuk menyerang.
"Seraaaaang!" serunya.
Bram pun tidak tinggal diam, pria itu turun dari motor dengan tangan kanan sudah memegang tongkat.
Lalu, Bram melihat satu motor dengan yang membonceng itu memegang tongkat, mereka mendekat ke arah Bram dan Bram pun membungkukkan badannya menghindari pukulan dari lawan, setelah berhasil menghindari itu Bram langsung berdiri dan memukul punggung lawannya dengan keras membuat mereka tersungkur dan mengenai pot beton di tepi jalan.
Melihat itu, membuat semua teman preman turun dari motor, masing-masing dari mereka membawa tongkat.
Bram pun memasang kuda-kuda dan pertempuran sengit tak dapat dihindari, beruntung Bram dapat membela diri walau kewalahan. Bahkan Bram sempat terpukul di punggungnya dan kaki kanan yang menjadi kelemahannya.
"Aahh!" pekik Bram seraya menjadikan tongkat itu sebagai tumpuan, Bram berlutut dan sekarang menatap tajam mobil mewah berwarna hitam yang sedang terparkir.
"Ayo Bram, lu harus bangkit!" gumamnya dalam hati dan Bram pun menjadi kembali semangat saat mengingat Maya.
Ya, pria itu akan membalas dendam pada Biru yang sudah bermain keroyokan dengan cara merebut Maya dari sisinya.
Setelah itu Bram bangun dari berlututnya melemparkan tongkat yang ada ditangannya, melihat lima preman yang masih tersisa. Pria itu pun melepaskan jaket kulit dan helmnya melemparkan ke sembarang arah.
"Kalau berani lawan tangan kosong!" ucap Bram seraya menjentikkan dua jarinya.
Lima preman itu pun melakukan hal yang sama yaitu melemparkan tongkatnya.
__ADS_1
"Serang!" serunya seraya berlari ke arah Bram yang masih berdiri.
Bram mengepalkan tangannya dan mengeluarkan semua sisa tenaganya, pria itu meninju perut preman yang pertama menghampirinya lalu beranjut dengan meninju rahang preman yang menyusul di belakangnya.
Bram melumpuhkan mereka dengan satu pukulan bahkan pria itu terlihat seperti hulk yang berotot di seluruh tubuhnya.
Sekarang tersisa tiga orang, mereka maju bersamaan dan Bram pun sempat mendapat tinju di rahangnya, tetapi Bram menolak untuk tumbang, pria itu dapat dengan mudah mengalahkan preman cemen seperti mereka, Bram meninju balik preman tersebut lalu menendang daerah terlarangnya dan sekarang Bram berdiri seraya mengusap darah yang mengalir dari bibirnya.
Bram menatap pria angkuh yang baru saja turun dari mobil, terlihat Biru melepaskan jasnya dan melemparkannya pada Ran yang berdiri di sampingnya.
Ran menggelengkan kepala dan mendengus sebal.
Sekarang Biru menggulung lengan kemejanya dan meremehkan Bram yang terlihat sudah sempoyongan.
Bram maju mendekati Biru dan berbisik di telinganya. "Siap-siap lu kehilangan Maya!" setelah itu Bram merasakan tinju di perutnya. Ya, Biru lah yang meninjunya.
Bram pun tidak tinggal diam, pria yang sudah berdarah-darah itu meninju Biru, perkelahian tidak dapat dihindari dan Bram yang darahnya sedang mendidih itu berhasil berada di atas Biru memberinya pelajaran.
Setelah itu Bram merasakan seseorang menendang punggungnya dari belakang membuat Bram tersungkur dan terpaksa melepaskan Biru.
"Berhenti, aku tidak menyuruhmu untuk ikut campur!" perintah Bram dan Ran pun kembali mundur, menundukkan kepala.
"Gua lepasin lu malam ini buat melihat istri lu jatuh ke pelukan gua!" ledek Bram, pria itu bangun dan memunguti jaket juga helmnya.
"Banci! Cih!" geram Bram, pria itu mengendarai motornya melewati Biru dan menyempatkan untuk meludah di depan Biru.
"Aaaaaaargh!" teriak Biru saat mendapatkan ancaman, pria itu sampai kapanpun tidak akan merelakan istrinya jatuh ke pelukan pria lain.
Sekarang Biru memerintahkan Ran untuk mengantarkannya pulang.
"Dia sendiri yang main keroyokan dia sendiri yang kalah!" batin Ran seraya memikirkan mobilnya, terlihat para preman itu sedang kesakitan dan semuanya duduk di trotoar.
"Lo bisa cari preman yang berkelas nggak sih! Masa lawan satu aja kalah!" gerutu Biru dan Ran hanya menarik nafas.
Tidak dapat dipungkiri kalau Ran memuji Bram dalam berkelahi, bahkan pria itu dapat melawan Biru yang memang jago dalam ilmu beladiri.
****
Bram berjalan dengan menyeret kakinya yang cedera dan ternyata di depan pintu apartemennya sudah ada Marisa yang sedang membuka pintu, betapa terkejutnya Marisa melihat Bram yang babak belur.
__ADS_1
"Astaga! Apa lagi ini Bram!" seru Marisa seraya berlari kearah adiknya, wanita itu memapah Bram dan membawanya masuk ke apartemen.
"Bram, kaki lu!" teriak Marisa teringat kalau adiknya pernah cedera saat dulu sekolah menengah.
"Gua tau kaki gua luka, cepat panggil dokter!" perintah Bram dan Marisa pun segera keluar dari apartemen Bram.
Sedangkan Bram, pria itu melepaskan kaosnya yang berwarna putih dan sekarang kaos itu sudah berganti warna karena bercampur darah.
"Aaarrgh! Awas lu Biru!" geram Bram, pria itu mengepalkan tangannya, menyimpan dendam untuk pria itu.
****
Biru melakukan vidio call dengan Hafizah yang selalu meneleponnya.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Hafizah, wanita itu sangat khawatir melihat wajah Biru yang sudah babak belur.
"Bukan apa-apa! Kamu tenang saja," kata Biru seraya mengompres lukanya menggunakan es batu.
"Loh kok kamu mengompres sendiri, memangnya kemana Mbak Maya?"
tanya Hafizah dan sebenarnya wanita itu ingin mengetahui hubungan Biru dan Maya apakah berjalan dengan baik atau sebaliknya.
"Tidak usah kamu tanyakan dia!" jawab Biru, "sudah dulu, aku mau istirahat!" lanjutnya, setelah itu ia mematikan ponsel karena tidak ingin diganggu oleh siapapun.
Sementara Hafizah mencium aroma pertengkaran antara Maya dan Biru, wanita itu juga bertanya-tanya mengapa Biru berkelahi.
Lalu suara ketukan pintu membuat Hafizah berhenti memikirkan Maya dan Biru.
Hafizah pun bangun dari duduknya, ia membuka pintu dan ternyata gadis yang ikut bersamanya itu menginginkan nasi goreng kambing.
"Tunggu, biar aku pesankan!" kata Hafizah yang kemudian mengusap layarnya dan mencari menu nasi goreng untuk dipesan.
"Kamu tinggal tunggu saja, semua sudah ku bayar dan ingat kalau kamu menginginkan sesuatu bilang aja karena aku nggak mau anak yang kamu kandung itu ileran!" kata Hafizah, setelah itu wanita yang sudah lengkap dengan piyama nya itu kembali menutup pintu dan kembali mendaratkan badannya di ranjang empuk.
Bersambung.
Setelah baca, jangan lupa di like ya, tinggalkan juga komentar kalian.
Tau nggak, jempol dan komentar kalian adalah semangat ku 🤗
__ADS_1