
"Mau ngapain lo?" tanya Pia dengan ketusnya dan setelah bertanya Pia kembali menatap laptopnya.
"Suka-suka gue lah," jawab Ifraz.
"Nggak mungkin nggak ada maksud!" kata Pia dengan terus fokus dengan laptopnya.
Ifraz pun menanyakan apa yang ingin ditanyakan, "Lo tau kan masalalu ayah?"
"Kenapa?" tanya Pia tanpa melihat Ifraz.
"Gue juga butuh penjelasan, tapi gue masih berat sama mereka, bertanya pun gue males!" kata Ifraz yang duduk di sebelah Pia, bersedekap dada menatap Pia dan tatapan itu membuat Pia merasa grogi.
Pia menjawab, "Ya udah, nggak usah tau, lo gedein aja ambeknya, nggak usah pikirin kebahagiaan orang, pikirin aja kebahagiaan lo!" ketus Pia dan gadis itu mulai berkemas dan sekarang masuk ke ruangan yang hanya boleh dirinya dan karyawan yang masuk.
"Pia, gue ditinggal!" seru Ifraz, pria itu berniat untuk ikut masuk dan Pia menunjukkan tulisan yang menempel di pintu dan Ifraz mencopot tulisan itu dengan paksa lalu mendorong pintu itu terbuka dan memaksa masuk, tidak lupa Ifraz menutup pintu itu dan segera mengunci Pia dengan kedua tangannya.
Kedua mata itu salin menatap dan sekarang jantung Pia seolah berdisko, berdegup sangat cepat.
Tersadar, Pia segera menurunkan tangan Ifraz dan sekarang Pia segera duduk di kursinya.
"Gue ceritain, ya. Denger!" kata Pia seraya menatap tajam Ifraz.
Setelah itu Ifraz pun segera mendekat, ikut duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu.
"Gue dengar!" jawab Ifraz seraya menatap Pia.
"Ayah pernah melakukan kesalahan di masalalu dan itu yang membuat Ayah, Tante bercerai!" kata Pia dan Ifraz mengira kalau Pia seperti dirinya yang memanggil Maya sebagai tante dan Ifraz memanggil Biru dengan sebutan om.
"Jadi yang salah, Om?"
"Ayah, dia ayah kamu!" kata Pia yang kesal pada Ifraz.
"Mamah, dia mamah kamu, bukan tante!" jawab Ifraz dan Pia menggelengkan kepala, baru saja Pia akan mengatakan apa yang sebenarnya tentang asal usulnya, Ifraz sudah keluar dari ruangan itu.
"Dasar batu!" gerutu Pia seraya ingin melempar laptop itu pada Ifraz.
__ADS_1
"Untung gue sayang laptop!" kata Pia seraya mengusap laptopnya.
Sementara itu Ifraz keluar dari toko dan segera mengendarai motornya untuk pulang ke rumah Biru, di perjalanan, Ifraz melihat seorang anak kecil yang sedang memberikan memberikan setangkai bunga untuk seorang wanita yang sepertinya itu adalah ibunya.
Ifraz jadi mendapatkan ide dan sekarang Ifraz mencari bunga untuk Maya, Ifraz pergi ke toko bunga dan memesan buket bunga mawar merah muda untuk Maya.
Setelah mendapatkan apa yang dicari, sekarang Ifraz segera melajukan motornya ke rumah Maya, sesampainya di sana Ifraz samar-samar mendengar suara Imelda yang sedang memarahi Maya.
"Sudah aku duga, kamu cuma mencari alasan, kan. Supaya kamu bisa dekat dengan Biru lagi dan menyakiti hati anak saya lagi!"
Mendengar itu sekarang Ifraz mengerti kenapa Maya menjauhkan dirinya dari Biru, Ifraz menjadi berfikir kalau Maya selama ini cukup tertekan dan seperti sekarang ini, Maya hanya bisa diam, karena walaupun Maya menjelaskan Imelda tidak akan mempercayainya.
Ifraz yang menyadari kalau dirinya sudah berbuat tega pada Maya itu menjatuhkan bunga yang ada di tangannya.
"Mamah," lirih Ifraz dan Maya yang sedang menundukkan kepala itu melihat kearah Ifraz berdiri.
"Ifraz!" Maya semakin menangis dan sekaran bangun dari duduknya, pertama ia mengambil bunga yang jatuh itu lalu memeluk Ifraz.
"mah, kenapa mamah tidak pernah cerita?" tanya Ifraz seraya mengusap lengan Maya.
Ifraz merasa geram pada Imelda dan setelah mengetahui kalau dirinya bukanlah cucu kandung Imelda itu mulai memberanikan diri untuk melawan, tetapi Ifraz ditahan oleh Maya.
Maya meminta pada Ifraz untuk tetap menjaga tatakramanya pada orang yang lebih tua.
Tidak lama kemudian Daniel yang baru pulang bekerja itu mengucap salam dan sedikit bertanya-tanya apa yang terjadi.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Daniel dan Maya pun dibawanya ke pelukan.
Imelda memilih untuk pulang dan memaksa Daniel untuk mengantarnya, Daniel pun menurut, merasa harus berbicara empat mata juga dengan mamahnya.
Selama perjalanan, Daniel berdebat dengan Imelda.
"Mah, tolonglah, jangan terus mencurigai Maya, empat belas tahu sudah berlalu dan apa masih kurang pengabdian Maya untuk kita?"
"hah, kamu jangan mau ditipu olehnya, mungkin di depan kamu iya dia menjadi penurut, tapi siapa yang tau di belakang kamu!" ketus Imelda yang tak mau menatap wajah anaknya yang terlihat sangat lelah.
__ADS_1
Daniel diam dan dalam hatinya selalu mempercayai Maya, tetapi percuma juga kalau harus mencoba membuat orang yang tidak suka menjadi suka.
Sedangkan Imelda masih membayangkan betapa salah tingkahnya Maya saat bertemu dengan Biru, Imelda menyimpulkan kalau Maya masih mencintai mantan suaminya.
Imelda yang sesama sebagai seorang perempuan itu dapat mengerti tatapan Maya untuk Biru semalam, tatapan rindu dan Imelda tidak ingin anaknya akan terluka untuk yang kedua kalinya.
"Terserah kalau kamu tidak percaya sama mamah!" kata Imelda dan sekarang Imelda meminta untuk berhenti di tengah jalan, tetapi Daniel tak menurutinya, Daniel terus mengemudikan mobilnya dan mengantar Imelda sampai ke rumah.
Daniel tidak masuk ke rumah itu dan memilih untuk segera pulang, karena yang ada dihatinya itu adalah Maya, yang ada dipikirannya adalah Maya. Maya adalah hidupnya.
Sementara itu, di rumah, Maya senang karena Ifraz telah kembali menyayanginya.
Ifraz juga meminta maaf pada Maya dan berjanji akan menjadi kebahagiaannya lagi, Maya dan Ifraz yang ada di kamar Maya itu berpelukan dan ternyata ada Kania yang memperhatikan mereka di pintu.
Maya meminta Kania untuk ikut berpelukan dan sekarang Maya bahagia karena anaknya sudah kembali.
Setelah berselang beberapa menit, sekarang Ifraz dan Kania dimintai untuk belajar oleh Maya dan Ifraz sekarang mau mengajari Kania.
Ifraz berjanji akan menjadi Ifraz yang lebih baik lagi untuk keluarganya.
Daniel yang baru sampai itu melihat anak-anaknya sedang belajar pun tersenyum, ia mengulurkan tangan pada Kania dan Kania mencium punggung tangan Daniel bergantian dengan Ifraz, Daniel merasa senang karena Ifraz mau menerima uluran tangannya.
Setelah itu Daniel segera mencari Maya dan ternyata Maya masih menangis, wanita itu selalu merasa difitnah oleh Imelda.
Daniel yang melihat itu segera memeluk Maya dan meminta maaf.
"Bukan salah kamu, Mas!" kata Maya dan maya semakin merasa tak tega pada Daniel yang terlalu baik padanya.
Sekarang, Maya meminta Daniel untuk mandi.
"Asem, mandi sana!" kata Maya dan daniel pun menurut.
Bersambung.
Hmmm, kasian ya jadi Maya, yuk terus dukung Maya dan semoga kebahagiaan segera datang.
__ADS_1
Pembaca yang baik, jangan lupa tinggalkan like, komen, bintang lima dan gift/votenya, ya. Dukungan dari kalian adalah semangat ku. Ummmaaah cium jauh dari author, hahaa. Sampai jumpa di episode selanjutnya.