
Setelah semua sudah jelas, sekarang Maya mengajak keluarganya untuk pulang, mereka pulang dengan perasaan senang, bahagia, tetapi tidak dengan Daniel, pria itu terlihat diam saja dan Maya mengira kalau Daniel sedang kelelahan.
Sementara itu, Pia berdiri di pintu kamar Biru, sedang bertanya pada Biru soal perjodohannya.
"Siapa yang mau menjodohkan kamu? Ayah sengaja melakukan itu supaya Ifraz segera sadar dan semakin takut kehilangan kamu, benar kan. Sekarang kalian sudah bertunangan! Kalau jodoh tidak akan kemana, Pia," kata Biru dan Pia segera memeluk Biru yang baru saja melepaskan jasnya.
"Terimakasih, Ayah. Ayah terbaik di dunia ini?" kata Pia dan Biru mengusap rambut Pia, merasa kalau dirinya tidak sebaik yang Pia katakan.
"Sudah, jangan menangis, ayah bahagia kalau kamu bahagia!" kata Biru dan Pia menghapus air matanya.
"Air mata bahagia, ayah!" lirih Pia dan Biru tersenyum, segera mengusir Pia dari kamarnya, walau bagaimanapun, di tengah kebahagiaannya ada luka tersendiri di hati Biru, luka itu ketika melihat Maya dan Daniel bersama.
Biru tersenyum saat menutup pintu kamarnya.
"Setelah kamu menikah, ayah semakin kesepian, Pia!" batin Biru.
Biru berfikir kalau Pia akan meninggalkannya sendiri di rumah itu.
Biru menarik nafas dalam dan sekarang menjatuhkan dirinya di ranjang.
Biru ingin segera berganti hari, berharap sesaknya dada segera pergi dengan seiring berlalunya waktu.
Sementara itu, di rumah Daniel, pria itu menggendong Kania yang tertidur di pangkuan Maya.
Daniel membopong putrinya itu dengan penuh rasa kasih sayang dan segera membawanya ke kamar, di sana Daniel mengusap rambut Kania dengan perasaan yang hancur.
Setelah itu, Daniel kembali ke kamar dan ternyata Maya sedang membersihkan dirinya di kamar mandi, Daniel segera mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur.
Daniel tidur lebih dulu tanpa menunggu Maya. Pria itu tidur dalam sepinya walaupun ada Maya di rumah.
Daniel menarik nafas, ingin bertanya perihal jas saja ia urungkan, ia tak berani untuk bertanya apalagi mendengar jawaban Maya.
Maya yang baru saja keluar dari kamar mandi itu melihat Daniel sudah berbaring di ranjang dengan posisi membelakanginya.
Maya pun segera menyusul dan menarik selimut, Maya juga menyelimuti Daniel, padahal yang Daniel harapkan adalah malam ini Maya yang memeluknya.
****
Di kamar, Ifraz yang sedang bahagia itu terus menatap layar ponselnya.
Membuka aplikasi chat WA dan melihat kalau Pia masih online, Ifraz ingin mengirim chat tetapi masih banyak mikir, berfikir kalau Pia sedang chat dengan teman-temannya, padahal Pia juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Pia yang melihat Ifraz sedang online itu menunggu prianya mengirim pesan lebih dulu.
"Apa nggak ada yang mau dia sampein ke aku gitu?" tanyanya pada diri sendiri, Pia yang sedang berbaring ranjang itu mendengus sebal.
Sementara Ifraz, ia hanya memantau Pia, mau sampai jam berapa dia masih online bermain ponsel.
Pia yang sudah terlalu lama menunggu itupun akhirnya merasa sebal, Pia segera mematikan ponselnya meletakkan ponsel itu di atas nakas.
Pia memilih untuk menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya dengan kaki yang terus dihentak-hentakkan ke ranjang.
Setelah melihat Pia sudah tidak online, sekarang Ifraz pun melakukan hal yang sama, ia merasa bodoh kalau harus berhadapan dengan Pia.
Bahkan untuk mengirimkan chat selamat malam pun seperti jarinya tak dapat di gerakkan.
Sekarang Ifraz memilih untuk tidur, tetapi ia selalu terbayang wajah Pia.
Ifraz semakin tidak sabar untuk menunggu hari yang ditunggu, Ifraz yang sedang bahagia itu memeluk guling dan seketika guling itu menjadi berwajah Pia dan seketika Ifraz melemparkan gulingkan itu.
"Astaga, bikin kaget aja. Kok bisa sih dia datang tiba-tiba gitu!" gerutu Ifraz dan sekarang Ifraz kembali mengambil bantal yang sudah tergeletak di lantai itu.
"Kalau datang jangan tiba-tiba dong, jadi gue nggak kaget!" kata Ifraz seraya memeluk bantal tersebut.
****
Selesai sarapan, Maya meminta izin pada Daniel untuk mengantarkan anak-anak untuk mencari baju pengantin.
Daniel menjawab dengan menganggukkan kepala setelah itu memberikan punggung tangannya pada Maya dan Ifraz.
Setelah itu Daniel pergi untuk bekerja dan sebelum itu, ia harus mengantarkan Kania lebih dulu ke sekolah.
Selama perjalanan Kania dan Daniel hanya saling diam, Daniel hanya memikirkan Maya. Ingin menanyakan tetapi tak punya nyali.
Sekarang Daniel dan Kania sudah sampai di sekolah, Kania pun segera turun dari mobil Daniel.
Daniel melambaikan tangan pada Kania dan setelah itu segera pergi untuk ke kantor.
Daniel selalu memikirkan Maya, dapatkah Daniel menjalani hari ini dengan baik?
Sementara Maya dan Ifraz sedang bersiap untuk menjemput Pia. Sekarang, Ifraz sudah menunggu Maya di mobil.
Tidak lama kemudian Maya pun datang, ia segera duduk di bangku depan.
__ADS_1
Ifraz segera mengendarai mobilnya dan setelah beberapa menit sekarang Ifraz dan Maya sudah sampai di kediaman Biru.
Tidak menunggu lama karena Pia sudah siap dan sekarang Maya pindah duduk di bangku belakang.
Pia menolak karena merasa tidak enak kalau Maya harus duduk di belakang, tetapi Maya mengalah untuk dua insan yang sedang bahagia itu.
"Nggak papa, kok. Santai aja sayang!" kata Maya yang sudah duduk manis di bangku di belakang.
Setelah itu Ifraz mengendarai mobilnya segera ke butik yang Maya pilihkan.
Sesampainya di sana Pia langsung di ukur badannya dan memilih salah satu model kebaya untuk acara nanti.
Maya menyukai pilihan Pia yang dianggapnya satu selera dengan dirinya. Simpel, anggun dan mewah.
Setelah itu, Ifraz segera mengantarkan Pia ke kampus. Di sana Miko melihat Pia yang baru saja turun dari mobil Ifraz.
Miko yang tak ingin terluka dalam itu semakin mencoba untuk menghindar dari Pia.
Sedangkan Pia hanya menarik nafas dalam, sekarang Pia melihat Silvi dan ingin memberitahu kalau dirinya akan menikah dengan Ifraz, tetapi Pia mengurungkan itu, tidak jadi berbagi kebahagiaan dengan Silvi karena Pia tau kalau Silvi pernah menyukai Ifraz.
Kemudian, Pia memilih untuk segera ke kelas dan di sana segera mengirim pesan untuk Karena dan meminta Karena untuk hadir di hari bahagianya.
Pia merasa senang saat Karena membalas pesannya yang mengatakan kalau ia akan datang.
****
Layaknya seorang ibu yang akan menyambut hari bahagia putranya.
Hari-hari Maya lalui dengan semangat demi Ifraz yang akan menikah dan menjalani kehidupan barunya.
Selain menyiapkan keperluan nikah,
Maya juga memberikan nasehat pada Ifraz, tepat sehari sebelum menikah.
Maya meminta pada Ifraz untuk tetap menjaga Pia, Ifraz sudah melamarnya dan itu berarti Ifraz harus bertanggung jawab untuk menjaganya.
Bersambung.
Nanti sebentar lagi kita kondangan yaðŸ¤
Jangan lupa like dan komen.
__ADS_1
Gift/Vote gratisnya. Terimakasih banyak 😇