
Setelah menerima pesan itu, Biru menggelengkan kepala, ia tau kalau Ifraz juga pasti marah padanya.
Biru yang sedang berdiri di tepi jendela itu menundukkan kepala.
"Kalian harus tau, kalau kami juga berat menjalani ini!" kata Biru.
****
Keesokannya, Ifraz memilih tidak sekolah, ia malas bertemu dengan Maya yang sudah pasti mencarinya ke sana dan benar saja, Maya sudah menunggu dari subuh di depan gerbang, setelah agak siang datang Biru yang mengantar Pia, pria itu menepikan mobilnya dan menyuruh Pia untuk segera masuk ke kelas dan Pia pun menurut.
Sekarang, Biru menghampiri Maya berdiri.
"May!" lirih Biru dan Maya pun sedikit terkejut.
Maya takut akan menjadi fitnah dan Maya sudah tidak terkejut lagi bertemu di tempat yang sama karena Biru sudah menceritakan semua dari awal dia selalu menjaga Ifraz tanpa sepengetahuan Maya, Biru juga mengatakan kalau Pia dan Ifraz bersahabat dari kecil.
"Kamu," jawab Maya, ia melihat ke sekelilingnya takut Daniel akan melihat dan benar saja, sebenarnya Daniel yang baru saja mengantarkan Ken itu melihat Maya dan Biru berdiri di tepi jalan.
Daniel menggelengkan kepala, setelah itu menutup kaca mobilnya, melanjutkan perjalanannya ke kantor.
"Sudah ku duga, setelah mengatakan semua pasti mereka akan bertemu, mungkin, setelah ini mereka akan lebih sering bertemu lagi!" batin Daniel, pria itu berfikir Maya meminta izin untuk keluar rumah pagi hari untuk menemui mantannya.
****
Sementara Maya, ia mulai memesan taksi karena tidak mau diantar oleh Biru.
"Aku pergi sendiri! Terimakasih," kata Maya.
Biru memperhatikan Maya dan menunggu sampai taksi itu datang.
Tidak menunggu lama, sekarang taksi itu sudah datang dan Maya pun permisi pada Biru.
"Hati-hati," kata Biru dan Maya hanya menganggukkan kepala.
Pikir Maya, Biru akan segera berangkat ke kantor, padahal, Biru mengikuti karena merasa khawatir, khawatir karena Maya akan mendatangi rumah wanita rubah.
Sesampainya di sana, Maya melihat Marisa yang sedang masuk ke mobilnya begitu juga dengan Ifraz.
Maya menahan lengan Ifraz.
"Mau kemana kamu? Taukah kamu siapa wanita ini? Tidak seharusnya kamu bersama dia!" kata Maya dan Marisa hanya menunggu.
__ADS_1
"Kenapa? Dia lebih baik dari mamah, mengatakan semuanya dan aku tidak menyangka kalau mamah bisa berbuat setega itu!"
Ifraz melepaskan tangan Maya dari lengannya dan sekarang menyusul Marisa masuk ke mobil.
Maya terus mengetuk kaca mobil itu dengan terus memanggil Ifraz.
"Ifraz, kamu harus lebih percaya sama mamah, kalau ada yang mau kamu tanyakan lebih baik kamu tanya sama mamah!" kata Maya seraya menangis.
"Kalian sudah membohongi ku selama ini, untuk apa aku percaya lagi pada kalian!" batin Ifraz.
Sebenarnya, Ifraz juga tidak tega melihat Maya yang menangis seperti itu, mata dan hidungnya memerah. Bibirnya bergetar dan terus mengetuk kaca itu, berlari mengejar mobil Marisa yang. ulai berjalan dengan perlahan dan mobil Marisa di hadang oleh mobil Biru.
"Kalian, merepotkan!" batin Marisa, wanita itu tidak takut dan ingin mengadu mobilnya.
Sementara Biru, ia turun dari mobil dan memaksa Marisa untuk membuka kuncinya.
Marisa membuka itu dan sekarang Biru membuka pintu Ifraz, menarik putranya supaya keluar.
"Siapa yang mengajarkan kamu menjadi anak kurang ajar seperti ini? Apa kamu tidak sakit saat melihat ibumu menangis?" geram Biru pada Ifraz dan Maya yang melihat itu mulai melerainya.
"Sudah, hentikan, kita pulang sekarang!" kata Maya pada Ifraz, ia juga menurunkan tangan Biru kerah baju anaknya.
"Kenapa, Om Biru? Kamu suka dengan sebutan itu, kan? Om!" Ifraz seolah mengejek, ia ingin meluapkan kekesalannya pada dua orang tuanya.
Setelah itu, Ifraz memilih untuk tetap ikut dengan Marisa yang dianggapnya telah berjasa karena sudah mengungkap rahasia tentang dirinya.
"Singkirkan mobil om dari tengah jalan!" kata Ifraz dengan menatap Biru. Sementara itu Maya sudah tidak tau apalagi yang harus ia katakan dan lakukan.
Sekarang Biru membantu Maya untuk bangun, tetapi Maya menepiskan tangan Biru dari lengannya.
Biru menawarkan tumpangan pada Maya untuk mengantarkannya pulang tetapi Maya menolak.
"Aku bisa pulang sendiri!" kata Maya, wanita itu yang masih sesenggukan segera berjalan meninggalkan Biru, ia berjalan ke arah taksi yang dimintainya untuk menunggu.
Belum sempat Maya sampai ke taksi itu, Maya jatuh pingsan dan Biru segera menangkap Maya.
Biru membawanya masuk ke mobil, ia juga tidak lupa membayar taksi yang menunggu.
Setelah itu membawa Maya ke rumah sakit. Di sana dokter mengatakan kalau Maya kelelahan dan stress.
Setelah itu, dokter memberikan resep obat pada Biru dan ia segera menebusnya, setelah itu, Biru menghubungi Daniel, karena walau bagaimana pun Daniel adalah suami Maya sekarang, tidak sepantasnya Biru terlalu mengurus Maya walau ada kesempatan itu.
__ADS_1
Setelah mengirim pesan pada Daniel, sekarang Biru pergi meninggalkan Maya yang masih berbaring di brangkar.
Biru juga mengirim pesan pada Ifraz, mengatakan kalau Maya jatuh sakit, lelaki yang sedang bertemu dengan Bram itu mengabaikan pesan dari Biru.
Di sana, Ifraz memanggil Bram dengan sebutan Daddy seperty waktu kecil.
"Pergilah, aku tidak marah sama kalian, jangan temui aku lagi!" kata Bram, pria itu tidak ingin ada hubungan lagi dengan Maya atau keluarganya.
"Dad, walaupun Daddy bukan ayah ku, tapi aku tau semua perjuangan Daddy untuk mendapatkan mamah, Ifraz datang kemari untuk meminta maaf dan berharap Daddy mau memaafkan kami," kata Ifraz, setelah mengatakan itu, Ifraz pergi dari sana dan Marisa tertawa dalam hati.
"Hari ini anaknya, lain waktu Maya sendiri yang akan memohon untuk meminta maaf!" batin Marisa.
Ya, Marisa masih sangat membenci Maya.
Setelah itu Ifraz pergi entah kemana yang jelas Ifraz tidak mau bertemu dengan orang-orang dianggapnya telah berbohong.
****
Di rumah sakit, Daniel menjemput Maya dan segera membawanya pulang.
Di rumah, Maya dan Daniel yang baru masuk itu sudah harus mendapatkan pertanyaan dari Imelda yang menyambutnya.
"Apa yang terjadi? Kemarin Ken bilang di rumah sedang ada masalah?"
"Tidak ada masalah, Mah!" jawab Daniel seraya membawa Maya masuk ke dalam.
"Ini istri kamu kenapa?" tanya Imelda yang melihat Maya dengan wajah pucat.
"Nggak papa kok, Mah. Cuma kecapean aja." Setelah menjawab pertanyaan itu sekarang Maya melanjutkan langkah kakinya ke kamar.
Daniel pamit pada Maya, ia mengatakan kalau dirinya harus kembali bekerja.
Maya menganggukkan kepala, setelah suaminya keluar dari kamar, Maya mencoba untuk menenangkan diri. Ia memejamkan mata.
****
Sementara itu, Pia mencoba menghubungi Ifraz yang tidak masuk kelas hari ini, tetapi Pia juga diabaikan oleh Ifraz.
Bersambung.
Yuk jangan lupa like, di favoritkan juga ya.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungan dan sudah membaca. Sampai jumpa di episode selanjutnya.