Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Salting!


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Biru yang sedang berlari di atas treadmill, di ruang olahraganya.


"Ada tante Maya sama Om Daniel, Ifraz juga!" jawab Pia, setelah itu Pia pergi meninggalkan Biru untuk berganti pakaian.


Biru menyudahi olahraganya dan segera menemui Maya.


Biru sedikit bertanya-tanya,"Tumben, ada apa ini?"


Biru mempercepat langkahnya dan sekarang sudah sampai di ruang tamu, terlihat kalau pelayan sedang menjamu tamunya.


Maya dan Daniel segera berdiri, mereka saling bersalaman, disusul oleh Ifraz dan Kania.


Sekarang Biru mempersilahkan tamunya untuk duduk, Biru bertanya ada apa karena sangat tumben sekali, Biru berfikir kalau ada yang sangat penting.


"Memangnya Pia enggak bilang sama ayah?" tanya Ifraz dan Biru merasa bingung.


"Padahal tadi siang Ifraz sudah bilang kalau akan datang malam ini!" jawab Ifraz terdengar lesu karena Pia tidak juga mengerti maksud kedatangannya.


"Pia nggak ada bilang apa-apa, mungkin ngiranya kalau kamu akan menginap disini, seperti biasa!" jawab Biru dan Ifraz pun menganggukkan kepala.


Lalu Daniel sebagai kepala rumah tangga, tanpa basa-basi lagi segera mengutarakan niatnya.


"Begini, maksud kedatangan kami adalah untuk melamar Pia, Ifraz tergila-gila sama Pia yang selama ini ia kira adik sendiri!" kata Daniel dan semua orang yang mendengar itu sedikit menahan tawa, tentunya Ifraz menjadi malu sendiri.


Begitu juga dengan Pia, ia mendengar itu dari ruang tamu, sekarang Pia merasa berdebar, gugup, salah tingkah, tak tau harus berbuat apa lagi.


Bahkan Pia sampai tak merasakan kalau Biru sudah ada di depannya.


Pia tersenyum-senyum dan Biru menanyakan apa yang sedang dilakukannya.


"Ah, itu, ah, apa, ya...,'' jawab Pia gugup karena terpergok.


Biru menggelengkan kepala dan segera membawa Pia ikut bersamanya.


Sesampainya di ruang tamu, Ifraz menatap Pia dengan tatapan cinta, semakin membuat Pia berdebar.


Pia ikut duduk di sisi kiri Biru dan Biru menanyakan jawaban dari Pia.


"Bagaimana?"


"Bagaimana apanya, yah?" tanya Pia yang masih loading lama.


"Astaga!" geram Ifraz seraya menatap Pia, pria yang berpakaian rapih dengan batik itu menggelengkan kepala.


"Gue ganteng-ganteng gini dia cuma pakai kaos oblong!" protes Ifraz dalam hati.

__ADS_1


Sementara Maya, wanita itu merasakan apa yang Ifraz rasakan, Maya terkekeh dengan sikap anaknya sendiri.


Belum sempat Pia menjawab, Ifraz sudah ngedumel pada gadis yang masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang ini.


Biru mengusap kedua lengan anaknya dan berbisik di telinga Pia.


"Ifraz datang melamar kamu, apa jawab kamu?"


"Iya, Pia tau, Pia udah dengar," jawab Pia dengan polosnya, semakin membuat Ifraz gregetan, sudah tau dan sudah dengar bukannya memberikan jawaban tetapi malah diam saja.


"Lalu?" taya Ifraz dan Pia lagi-lagi masih loading lama.


"Hah?" kata itu lah yang terucap dari bibir manis Pia.


Ifraz menarik nafas dalam dan Maya mengusap punggung anaknya, sementara Kania, gadis itu merasa lebih pintar dari Pia segera bangun dari duduknya.


Kania berdiri di sebelah Pia, berbisik, "Iya atau tidak, kalau tidak abang aku bisa gila!"


Pia melihat kearah Kania dan Kania menahan tawa dengan tangan kanan yang menutupi mulutnya.


Pia tidak menjawab, gadis itu merasa sangat malu dan memilih untuk bangun dari duduknya, Pia berlari meninggalkan semua orang yang sedang menunggu jawabannya, ia masuk ke kamar.


Ifraz menggelengkan kepala dan saat itu juga ingin menyusulnya tetapi ditahan oleh Maya.


Sekarang, Maya yang menyusul Pia dengan membawa cincin yang sudah disiapkan.


"Ah, Tante. Pia merasa tidak enak kalau tante harus menyusul ke kamar," lirih Pia


"Kamu pergi sebelum memberi jawaban, sayang!" jawab Maya seraya membelai wajah Pia.


"Pia malu, Tan." Gadis itu menundukkan kepala.


Maya mengangkat dagu Pia.


"Kamu mau jadi menantu tante?"


DEG!


Pia benar-benar merasa dilamar, hatinya berdegup kencang dan wajahnya merona.


Pipinya seperti pipi tomat dan Maya tersenyum.


Maya teringat dulu waktu Murni melamarnya untuk Biru, Maya yang belum memiliki perasaan itu hanya biasa saja, mungkin kalau dulu Maya sudah mencintai Biru dari awal apa yang Pia rasakan sekarang, sudah Maya rasakan di masa lalunya.


Sekarang, Maya mengambil jari manis Pia dan memakaikan cincin yang tadi siang dibelinya.

__ADS_1


"Pas dan sangat cocok!" kata Maya dan Pia tersipu malu.


Sekarang, Maya mendandani Pia dan segera membawanya turun untuk menemui Ifraz. Maya ingin mengambil gambar di hari bahagia ini.


Namun, Pia dan Ifraz yang sudah lama saling mengenal dan sempat menjalin persahabatan itu sekarang menjadi malu-malu setelah mengetahui perasaan masing-masing, ya, walaupun Ifraz belum menyatakan cinta tapi lamaran Ifraz cukup menjadi bukti bahwa Ifraz mencintainya.


Setelah Pia dan Ifraz selesai difoto, sekarang waktunya foto keluarga.


Biru yang sudah rapih dengan setelah jasnya itu ikut bergabung dan malam ini menjadi malam bahagia bagi Pia dan Ifraz, tentunya Maya, Kania juga Biru


Sementara Daniel, ia sempat senang karena melihat istri dan anaknya bahagia, tetapi kebahagiaan Daniel seketika berubah saat melihat jas Biru karena jas itu terlihat tidak asing hanya berbeda warna saja.


Seketika, Daniel berfikir kalau Maya dan Biru telah bertemu diam-diam di belakangnya.


Walau begitu, Daniel masih berusaha menutupi sesuatu itu, sesuatu yang ingin ia tanyakan pada Maya, Daniel menahan sabar dan akan menanyakannya di rumah.


Selesai dengan acara malam ini, dengan tidak sabarnya Ifraz bertanya kapan dirinya akan dinikahkan.


Pia kembali merona dan memilih untuk diam, Pia akan ikut apapun itu keputusan Biru.


"Kamu maunya kapan?" tanya Biru dan Ifraz menjawab, "Secepatnya!"


Pia tersenyum dan sekarang Maya menggelengkan kepala dengan tingkah anaknya yang ternyata sudah kebelet nikah.


"Kamu itu masih muda, tapi kok udah kebelet nikah aja!" kata Maya seraya mencubit paha Ifraz.


"Biar nggak diambil orang, Mah. Kalau soal rejeki, keluarga kita kan nggak kekurangan, nggak akan bingung nanti anak kami akan makan apa, iya kan, Pi?" tanya Ifraz seraya melirik Pia yang masih duduk di sebelah Biru.


Pia kembali bersemu merah saat mendengar pertanyaan itu, pertanyaan yang membuat Pia travelling yaitu soal anak.


Pia berfikir setelah menikah nanti akan mulai membuat anak dan itu membuat Pia merasa konyol karena harus membayangkan itu sekarang juga.


"Pia!" Biru membuyarkan apa yang sedang Pia pikirkan.


"Ahh, iya. Pia ikut saja!" jawab Pia dengan begitu gugupnya.


"Astaga, kapan sih mereka akan pulang, aku udah gugup dan pengen lari ke kamar!" batin Pia.


Setelah itu, Biru menetapkan tanggal pernikahan untuk Pia dan Ifraz yang sebentar lagi akan dilangsungkan yaitu dua minggu lagi.


Bersambung.


Yuk, like dan komen ya.


Difavoritkan juga✌.

__ADS_1


Terimakasih yang sudah membaca, gift dan votenya.


Sampai jumpa di episode selanjutnya.


__ADS_2