
Setelah Daniel keluar sekarang masuk Ifraz yang membawa obat milik Maya.
Ifraz melihat Maya sedang berjongkok itu segera membantu Maya untuk berdiri, Ifraz membawa Maya ke ranjang.
"Mah, ini diminum obatnya, setelah makan," kata Ifraz dan sekarang Ifraz keluar dari kamar untuk mengambilkan makanan Maya.
Maya yang duduk di ranjang itu melihat Ifraz dengan membawakan makanan, Maya menerima piring itu dan ternyata Ifraz tidak memberikannya.
Ifraz meminta Maya untuk membuka mulut dan Maya pun menurutinya.
Maya mengunyah makanan itu dengan air mata yang menetes.
Ifraz menghapusnya dan tersenyum pada Maya. Ifraz mengerti kalau Maya harus didekati hatinya supaya mau bercerita dan Ifraz tidak memaksa Maya untuk bercerita tetapi Ifraz ingin membuat mamahnya nyaman terlebih dulu.
"Habiskan, ini perintah, tidak dapat dibantah!" kata Ifraz dan ucapannya itu sama persis dengan ucapan Biru di masa lalu, saat Maya mengandung dan sedang ngidam parah.
"Belajar dari mana ucapan itu? Apakah setelah beberapa hari tinggal dengan ayah kamu menjadi seperti dirinya?" tanya Maya seraya menatap Ifraz.
"Aku anaknya, pasti akan ada kemiripannya," jawab Ifraz seraya menyuapi Maya dan Maya tidak menolak itu.
"Mamah, apa mamah masih mencintai papah?" tanya Ifraz dalam hati.
Ifraz merasa kalau Maya bahagia setelah menyebut ayahnya Ifraz.
"Ifraz, kamu seperti ayah kamu, selalu mengerti dan dapat menenangkan mamah, terimakasih, Nak!" ucap Maya dalam hati.
Maya membelai lembut wajah Ifraz dan setelah habis separuh makanan itu, Maya mengatakan kalau perutnya sudah tidak muat lagi.
"Baiklah, sekarang mamah harus minum obat dulu!" kata Ifraz seraya membuka obat Maya dan meletakkannya di piring kecil yang tadi dibawanya.
Maya menatap dengan penuh senyum pada Ifraz yang telah merawatnya.
"Terimakasih dan maaf mamah merepotkan kamu, sayang!"
"Enggak, aku nggak repot dan setelah mamah meminum obat, aku harus kuliah dan setelah itu akan cepat kembali pulang!" kata Ifraz, ia masih duduk di tepi ranjang, memperhatikan Maya yang sedang meminum obat.
Setelah itu, Ifraz segera pamit pada Maya dan Maya menganggukkan kepala.
Ifraz mencium punggung tangan Maya dan sebelum benar-benar pergi Ifraz mengingatkan Maya kalau masih ada dirinya.
"Mah, ada Ifraz, jangan merasa kesepian, kalau butuh teman, Ifraz bisa jadi teman mamah," kata Ifraz seraya mengedipkan sebelah matanya.
Maya tersenyum dan kali ini merasa sangat bahagia karena anaknya telah berhasil menghiburnya.
Setelah meminum obat, sekarang Maya merasa mengantuk dan memilih untuk beristirahat lebih dulu, bangun tidur nanti baru lah Maya akan pergi untuk mandi.
Sementara itu, Ifraz yang sedang mengendarai motornya ingin ke kantor Biru lebih dulu, Ifraz memberitahu kalau Maya sedang sakit.
__ADS_1
Sesampainya di sana, Ifraz langsung mencari Biru ke ruangannya dan ternyata Biru tidak ada, Biru sedang berada di ruangan meeting.
Ifraz memilih untuk menunggu di ruangan Biru, seraya melihat album foto Pia yang kemarin mendaki bersamanya.
"Sebentar lagi lo dijodohin, bodoh!" kata Ifraz seraya menatap foto Pia di layar ponselnya.
"Lo mau dijodohin? Kalau ternyata laki lo jahat gimana? Kalau laki lo enggak bisa jaga lo gimana? Dih, gue sih ogah dijodohin!" ucapnya pada foto Pia yang sedang berada di puncak gunung.
Tidak lama kemudian Ifraz harus segera kembali mengantongi ponselnya, Biru datang dengan Ran yang selalu ada untuknya.
"Anak ayah, ada apa?" tanya Biru dan sekarang Biru meminta pada Ran untuk keluar lebih dulu.
Ifraz menceritakan soal Maya dan Biru hanya diam saja.
Melihat itu Ifraz memprotesnya.
"Kenapa ayah diam?"
"Lalu? Ayah harus berbuat apa?" tanya Biru seraya membolak-balikan berkas yang di atas meja.
"Ayah, mamah stres, tapi enggak mau cerita!"
"Memang begitu mamah kamu!" jawab Biru singkat.
"Ayah."
"Kenapa menatap ayah seperti itu?" tanya Biru.
"Mamah sakit!"
"Ada suaminya," jawab Biru yang kemudian kembali fokus ke berkasnya.
Mendengar itu seperti bukan jawaban yang diinginkan Maya. Ifraz memilih untuk bangun dari duduknya dan keluar dari ruangan itu dengan jengkel.
Bahkan Ifraz membanting pintu yang terbuat dari kaca itu sampai kaca tersebut hampir pecah.
Biru menggelengkan kepala, tetapi Biru sadar kalau dirinya tidak dapat berbuat apa-apa, kalau sampai Biru menemui Maya yang ada hanya masalah untuk Maya dan keluarganya.
"Maafkan ayah, ayah tidak bisa berbuat apa-apa!" kata Biru dan sekarang Biru menarik nafas dalam.
"Kamu masih belum berubah, May."
Setelah mengatakan itu, Biru bangun dari duduknya. Ia pergi ke pantai tempat biasa ia berteriak dengan bebas.
Sesampainya di sana, Biru melihat ada seorang wanita yang sangat mirip dengan Maya. Setelah didekati dan ternyata benar kalau itu adalah Maya.
Biru menepikan mobilnya dan segera berjalan ke arah Maya berdiri, Maya berdiri menatap lautan dengan bersedekap dada, Biru segera melepaskan jasnya dan memakaikannya pada Maya.
__ADS_1
Tentunya Maya sangat terkejut dan segera melihat ke belakang.
Maya merasa lega karena orang itu adalah Biru bukan orang lain.
"Dingin, May," ucap Biru seraya menatap Maya.
Maya pun tersenyum dan sekarang kembali menatap ke depan.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Biru yang ikut berdiri di samping Maya.
"Menatap laut!" jawab Maya singkat.
"Aku tau itu, tapi apa yang membawa kamu ke sini?"
"Entah, aku hanya ingin ke sini, ingin berteriak!" kata Maya, wanita itu menolehkan kepalanya menatap Biru dan keduanya tersenyum bersama.
Saat itu juga Biru mengetahui kalau Maya sakit, tetapi sakit itu di hatinya.
Sekarang, Biru semakin menyesal atas apa yang dulu pernah dibuatnya pada Maya.
Biru berfikir kalau dirinya tidak menyakiti Maya, pasti Maya hidup bahagia bersamanya dan juga Ifraz.
"May," lirih Biru, matanya menatap ke depan.
"Hhmm," jawab Maya, wanita malang itu juga menatap ke depan.
Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya dan membawa rambutnya yang terurai itu.
"Maafkan aku!" kata Biru, masih dengan menatap lautan, tangannya ia masukkan ke dalam saku celana.
"Bukan salah kamu, ini semua salah aku," kata Maya dan Biru hanya tersenyum.
"Bagaimana mungkin ini salahnya, kalau semua aku telah memulai!" batin Biru.
"May, katakan. Ada apa?" tanya Biru, kali ini Biru menatap Maya, mencari kejujuran dari sorot matanya.
Tetapi, Biru hanya melihat air mata Maya yang menetes dari mata indahnya.
"Aku nggak papa, sekarang aku harus pulang," kata Maya dan Biru pun hanya memperhatikan Maya yang mendekati tukang ojek, rupanya Maya datang ke pantai diantar oleh tukang ojek tersebut.
Maya pergi meninggalkan Biru tanpa melihatnya lagi, sementara Biru terus memperhatikan kepergian Maya.
Bersambung.
Terimakasih sudah membaca.
Yuk, jangan lupa like ya, juga di favoritkan, ya 🙂
__ADS_1