Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Tidak Apa-Apa!


__ADS_3

Zenia duduk di ranjang Bram dan ternyata Bram tidak menyukai itu. Bram menarik tangan Zenia supaya bangun dari duduknya dan keluar dari kamar.


"Om, ayolah, om harus bantu aku!" kata Zenia yang merengek pada Bram.


"Bantu apa, dengar ya, kita nggak saling kenal jadi kamu nggak usah sok akrab!" kata Bram dan lelaki itu mendorong Zenia keluar dari kamar dan setelah itu menutup pintu kamarnya.


"Merepotkan!" gerutu Bram.


Di luar kamar, Zenia masih terus memanggilnya dan Bram menatap pintu itu tanpa ekspresi.


"Om, ayolah, cuma minta bantu sedikit aja kok, om nggak repot serius, ini aku galau loh, om!" kata Zenia dan tanpa Zenia tau di belakangnya sudah ada Marisa yang berdiri berkacak pinggang, Marisa ingin mengajak Zenia pulang bersamanya.


Bram pun akhirnya membuka pintu, ingin mengusir gadis kecil itu. Tapi ternyata dia sudah tidak ada di depan kamarnya.


"baguslah, bikin orang pengen marah aja!" kata Bram yang kemudian menutup pintu kamarnya lagi.


Di perjalanan, Marisa bertanya pada Zenia apa yang membuatnya galau dan gadis itu masih diam, duduk di sampingnya, mengerucutkan bibir.


"Zen!" seru Marisa karena Zenia masih terus diam.


"Iya, aku ada di sini nggak usah teriak lah!" kata Zenia seraya terus menatap ke depan.


"Terus apa, jawab dong pertanyaan tante!"


"Bukan apa-apa kok, Tan. Biasalah masalah abg masa tante nggak tau!" kata Zenia dan Marisa merasa kalau gdisnya itu sudah hati pada Ifraz.


"Dengar, aku tidak suka dikhianati!" kata Marisa dan akhirnya Zenia pun mengatakan apa yang dia rasakan.


"Tan, aku merasa jahat sama Ifraz dan Tante Maya, meraka baik dan aku nggak ngerti kenapa tante bisa membenci mereka sebegitu dalam! Selama ini Tante enggak pernah kasih tau alasan jelas!" kata Zenia, gadis itu berbicara tanpa melihat pada Marisa yang mulai terpancing amarah.


"Dengar ya gadis bodoh! Dulu kamu bilang akan melakukan apapun setelah derajat kamu saya angkat. Kamu bilang akan melakukan apapun untuk uang! Lalu kenapa sekarang bertanya soal itu?''


Zenia menggelengkan kepala dan kembali teringat dengan misinya yang harus menghancurkan Ifraz.


"ok, ok, itu mau tante yang udah berjasa dalam hidup Zen!" jawab zen dan sekarang Marisa menambah kecepatan laju mobilnya membuat Zenia takut, Zen takut akan mati karena kecelakaan malam ini.


"Tan, ok, Zen minta maaf tapi tolong jangan ngebut lagi!" teriak Zenia dan benar saja, Marisa mulai memperlambat laju mobil.

__ADS_1


Zenia bernafas lega karena itu


****


Di rumah Daniel, Maya sedang berada di kamar Ifraz.


Maya mempertanyakan hubungan Ifraz dan Zenia sudah sejauh mana dan Ifraz mengatakan kalau hubungan mereka serius dan akan menikah setelah lulus kuliah nanti.


"Mamah nggak yakin kalau kalian bisa bertahan sampai lulus kuliah, maksud mamah, kalian terlalu lengket, mamah khawatir kalau kalian akan melakukan yang seharusnya belum kalian lakukan!" kata Maya, wanita itu duduk di kursi belajar Ifraz dan Ifraz sedang bermain ponsel di ranjang.


"Mamah tenang aja, Ifraz bisa jaga diri, kok!" jawab Ifraz tanpa melihat Maya karena sedang fokus dengan game yang dimainkan.


"Ya sudah, kamu jangan begadang! Ingat slalu pesan orang tua!" kata maya dan Ifraz menjawab 'iya'.


Maya bangun dari duduk dan segera keluar dari kamar Ifraz, ia juga melihat kamar Kania dan gadis kecil itu sudah terlelap.


Setelah memeriksa keadaan semua anaknya, sekarang Maya kembali ke kamar, di sana Daniel sudah menunggu.


"Maaf, lama ya?" tanya maya seraya menutup pintu kamar lalu berjalan mendekat ke suaminya, masuk dalam pelukan Daniel dan malam ini Daniel meminta haknya sebagai suami dan Maya melayaninya dengan baik.


****


Pria itu duduk di temani minuman alkohol, di ruang kerjanya, menatap foto besar yang selalu ia tatap setiap malam.


Biru merindukan istri orang yang itu adalah mantan istrinya sendiri.


"Kamu harus tau Ifraz, papah melakukan ini karena tidak ingin mengingkari janji sama mamah kamu!" kata Biru dan GLEK Biru menenggak minuman itu langsung dari botol.


"AAAAAAAAAA!" Biru melempar botol yang ada di tangannya ke dinding membuat botol minuman itu pecah.


Biru juga menyibakkan benda-benda yang ada di atas meja.


Setelah itu Biru memutuskan untuk mengirim pesan pada Maya, ia meminta Maya untuk membujuk Ifraz.


"May, aku sudah menepati janjiku aku tidak mengatakan apapun pada anak kita tentang kita terlebih siapa ayahnya, tapi ini semua membuatku merana karena tidak lagi bisa dekat dengannya. Aku tersiksa, pahamilah, aku selama tersiksa!"


Maya yang terbangun dari tidurnya karena ingin ke kamar mandi melihat ponsel berkedip dan Maya mengambil ponsel itu di atas nakas, ia membuka pesan itu dan ternyata dari Biru.

__ADS_1


Setelah itu, Maya membawa ponselnya ke kamar mandi dan di sana Maya duduk di atas kloset membaca pesan itu sekali lagi dan Maya dapat mengerti kesedihan dari Biru.


"Bersabarlah, nanti akan ku bantu, kamu tunggu saja dan jangan menyerah untuk terus mendekati Ifraz, aku yakin lama-lama dia akan mengerti dengan apa yang terjadi!" Maya membalas pesan Biru dan tanpa terasa air matanya menetes.


Maya berfikir untuk menghapus pesan itu atau tidak, menghapusnya akan membuat Maya merasa kalau dirinya sembunyi-sembunyi untuk bertukar kabar dengan Biru, tidak menghapusnya takut Daniel akan melihat.


"Hapus!" ucapnya dalam hati dan Maya menghapus pesan itu.


Sekarang, Maya melanjutkan apa yang ingin ia lakukan yaitu buang air kecil.


setelahnya, segera kembali ke kamar, Maya menatap Daniel masih dengan posisi yang sama, Maya segera meletakkan ponselnya di nakas dan segera kembali berbaring di samping suaminya.


"Maafkan aku, Mas!" kata Maya dalam hati dan sekarang Maya mencoba untuk memejamkan.


****


Sementara Biru, merasa sedikit lega karena Maya akan membantunya, berharap Ifraz akan memaafkannya dan dapat melihat siapa yang tulus.


Keesokannya, pagi sekali Pia sudah rapih dan sudah menunggu Biru di meja makan.


"Pagi Ayah, ayo duduk, kita sarapan!" kata Pia seraya menarik kursi untuk Biru.


Biru merasa senang karena Pia sudah kembali ceria dan tidak lagi selalu memikirkan Ifraz.


"Terimakasih sayang!" kata Biru seraya mengusap pucuk kepala anaknya.


Pia tersenyum dan sekarang ia duduk di kursinya.


Biru juga bertanya bagaimana awal kuliah Pia dan Pia menjawab ya seperti itu lah, seperti yang ayah tau!" jawab Pia dan Biru menyemangati Pia walaupun Pia tidak satu kampus dengan Ifraz.


"Ayah, Pia baik-baik aja, Ayah tenang yah," kata Pia, gadis itu tersenyum manis membuat Biru merasa damai.


"Terimakasih, sayang!" kata Biru seraya menatapnya penuh cinta.


"Pia yang harusnya terimakasih karena Ayah adalah Ayah terbaik!" kata Pia, gadis lembut itu tersenyum dan merasa kasihan pada Biru yang merindukan anak kandungnya.


Bersambung.

__ADS_1


Dapatkah Biru kembali dekat dengan anaknya?


Yuk, jangan lupa lik dan komen, di favoritkan juga, ya! Sampai jumpa di episode selanjutnya.


__ADS_2