
Biru menepikan mobilnya, menjatuhkan kepalanya di setir kemudi.
Pria itu menangis dan berfikir seandainya waktu bisa terulang kembali.
"Kenapa gue lemah banget seperti ini, bahkan hati ini sudah terbagi, ada Maya dan Hafizah. Pria macam apa gue!" gerutunya, Biru merasa kalau dirinya sangat buruk sebagai pria yang mencintai dua orang wanita, merasa tidak pantas untuk Maya tetapi ia juga tidak mau melepaskan Maya.
Lelaki itu merasa sakit di hatinya, ingin semua kembali normal tetapi tidak tau bagaimana caranya.
****
Keesokan harinya, sebelum bekerja Biru ditemani Ran mengajak Hafizah untuk melihat rumah barunya, rumah sederhana tetapi jauh lebih baik dari rumah kontrakan lamanya.
"Maaf, untuk sementara hanya bisa memberikan tempat tinggal seperti ini," ucap Biru dan Hafizah tersenyum.
"Ini udah cukup buat aku, Mas. Terimakasih," ucap Hafizah, wanita itu berjalan menyusuri setiap ruangan rumah itu. Sementara itu Biru merogoh saku celananya, mengirim pesan pada Maya.
"Jangan lupa sarapan, nanti siang aku datang," kata Biru.
Sementara Hafizah, wanita itu berdiri di samping Ran. "Aku tau, kamu tidak bekerja dengan benar bukan? Tuan kamu memerintahkan mencari rumah untukku dan kamu mencari rumah seperti ini!"
Hafizah merasa sedikit kesal karena rumahnya tak sebesar rumah Biru dan Maya, tetapi wanita itu menutupi kekesalannya.
Mendengar itu, Ran hanya diam saja, berdiri tegap menunggu perintah selanjutnya dari Biru.
"Ya, memang, aku sengaja!" batin Ran.
Setelah mengatakan itu, Hafizah meninggalkan Ran dan menyusul Biru duduk di sofa ruang tengah.
"Nanti siang aku jemput ayah ya, Mas. Nggak mungkin aku tinggal di sini sendirian," kata Hafizah.
"Iya, aku juga enggak bisa setiap hari di sini nemenin kamu, aku harap kamu mengerti," kata Biru dengan terus memperhatikan ponselnya.
"Iya, aku ngerti kok," jawab Hafizah, wanita itu Menyunggingkan senyum, Biru pun mengusap pucuk kepala Hafizah, membuat Hafizah semakin merasa dicintai.
Setelah itu Biru pergi meninggalkan Hafizah sendirian di rumah itu.
"Hati-hati!" seru Hafizah yang berdiri di pintu, Biru membalas dengan menganggukkan kepala.
"Seandainya kamu seperti Hafizah, bisa mengerti dan menerima perasaan ini, May!" gumam Biru dalam hati, sekarang Biru sudah duduk di bangku belakang, setelah itu, Biru menanyakan jadwalnya pada Ran.
****
Sementara Maya, wanita itu memperhatikan surat cerai yang sudah Murni siapkan, Maya duduk di kursi rodanya, berada di bawah jendela lalu memejamkan mata. Membayangkan kenangan-kenangan indahnya bersama Biru.
"Kenapa secepat ini, apa aku yakin bisa hidup tanpanya?" gumam Maya dalam hati.
__ADS_1
"Sementara aku sangat mencintainya, tapi cintaku dibalas luka!" Masih bergumam dan air mata menetes, membasahi pipinya, hatinya merutuki diri sendiri, mengatainya bodoh.
"Ya, aku memang bodoh!"
****
Sementara itu, Murni baru saja selesai memandikan cucunya, ia memanggil Maya, menanyakan pakaian Ifraz.
Segera Maya menghapus air matanya.
"Oh... iya, ada mah. Sebentar Maya ambil," kata Maya seraya memutar kursi rodanya.
Maya membuka lemari dan melihat tumpukan baju Ifraz berada di lemari bagian atas. Maya mengulurkan tangannya berusaha meraih baju itu, tetapi tidak bisa, membuat Maya bersedih, merasa kalau hidupnya tidak berguna.
Kemudian, Maya melihat ada tangan Gala yang mengambilkan baju itu, Gala memberikannya pada Maya.
"Mbak, mbak enggak sendirian, ada kami di sini," kata Gala, pria muda berparas tampan itu memberikan senyum pada kakaknya.
Maya hanya terdiam, memikirkan sampai kapan dirinya akan berada di kursi roda.
Sementara itu, Biru sedang kesal karena pesannya tidak juga dibalas oleh Maya.
Di ruangnya, berkali-kali pria itu memeriksa ponselnya berharap Maya membalas pesan itu, tetapi tidak!
Dengan bodohnya, Biru tetap mengharapkan balasan dari Maya, padahal ponsel Maya masih berada di rumahnya, ia sendiri yang menyimpannya.
Sekarang, Biru sudah duduk di kursinya di ruang meeting.
Lalu, Biru teringat dengan keisengan Maya waktu dulu masih berjuang mendapatkan cintanya, dengan keisengannya Maya mengirim pesan suara untuk Biru, dimana itu adalah suaranya sendiri yang sedang tidur dengan mendengkur begitu keras.
Biru terkekeh mengingat itu, membuat semua orang yang berada di ruangan itu merasa heran dengan Biru, tidak ada yang lucu tetapi pria itu terkekeh.
Sampai selesai, Biru sampai sekali tidak mengerti isi meeting tersebut karena yang ada di kepalanya saat ini adalah istri-istrinya.
Beruntung, Biru memiliki asisten pribadi seperti Ran yang dapat diandalkan.
****
Sekarang, Hafizah sudah berada di rumah Bambang, membantu pria itu mengemasi barang yang akan dibawa.
"Ayah, tidak usah terlalu membawa banyak barang, di rumah baru kita sudah lengkap," kata Hafizah, wanita itu terlihat sangat bersemangat.
"Iya, Nak."
Setelah siap berkemas, Hafizah memesan taksi, sedangkan Bambang mengembalikan kunci rumah pada pemiliknya.
__ADS_1
Selesai dengan itu, sekarang Bambang dan Hafizah berjalan keluar dari perkampungan tersebut.
"Enak yah, yang udah nikah sama orang kaya," cibir tetangga Hafizah dengan suara keras tentunya agar yang dicibirnya itu mendengar.
Hafizah membalasnya dengan senyum.
"Enak dong, ternyata di balik kesusahan ku dulu ada hikmahnya," batin Hafizah.
"Terimakasih, ayah," kata Hafizah, gadis itu bergandengan tangan dengan Bambang.
"Untuk apa? Bukankah Ayah hanya merepotkan mu saja?"
"Kalau Ayah tidak berhutang mungkin sekarang aku tidak bertemu dengan Mas Biru," jawab Hafizah, gadis itu tersenyum pada Bambang.
"Tapi di atas kebahagiaanmu ada yang terluka, Nak!" jawab Bambang.
"Biasa lah, ayah. Awalnya pasti sakit dan terluka tapi lama-lama pasti akan terbiasa."
"Astaghfirullah," jawab Bambang dalam hati.
****
Sementara Maya, ia mengikat rambut panjangnya, tidak terlihat seceria biasanya. Ya, Maya sedang menyembunyikan lukanya, mencoba untuk kuat dan tegar, sekarang Maya sedang membuatkan susu untuk Ifraz.
Menuang air hangat ke dalam botol susu, setelah itu Maya menggerakkan kursi rodanya ingin mengambil susu yang masih berada di ruang tengah. Namun, tidak sengaja siku Maya mengenai botol susu tersebut membuat botol itu terjatuh dan dapur menjadi sedikit becek.
"Aaakh." Maya mengeluh dengan keadaan yang ada. Maya mengulurkan tangannya mencoba untuk meraih botol yang jatuh itu tetapi uluran tangannya tidak sampai.
Sementara itu, Maya terus mendengar suara Ifraz menangis menambah kejengkelan Maya siang ini.
Merasa percuma untuk mengambil botol itu, Maya memilih untuk mencuci botol lainnya yang berada di wastafel, memang Maya dapat mencucinya tetapi tangannya tidak sampai untuk membuka keran air.
"Aaaakkh!" teriak Maya seraya melempar botol yang dipegangnya.
Maya menangis seorang diri di dapur.
Kesal pada dirinya sendiri.
"Asi enggak keluar, botol semua kotor!" jengkel Maya pada diri sendiri.
"Bisa apa aku ini, apa aku hanya bisa menyusahkan orang?" ucapnya seraya mengusap air matanya.
Bersambung.
Pembaca yang baik, jangan lupa untuk klik like setelah membaca, klik favorit supaya tidak tertinggal updatenya. Kalau berkenan silahkan tinggalkan dukungan berupa Vote gratisnya/gift, terimakasih 🙏
__ADS_1