Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Hampir Celaka


__ADS_3

Di perjalanan, hampir saja Ifraz mengalami kecelakaan, pria muda itu yang menyadari remnya blong segera menepikan dan menabrakkan motornya ke sebuah pohon yang berada di tepi jalan.


"Aaaaaa... aaaaa!" teriak Ifraz, pria itu jatuh dari motornya, kepalanya mengenai batu dan sedikit cidera.


Ifraz mengusap dahinya dan ternyata darah mengalir dari sana.


Setelah itu ia bangun dan segera di tolong oleh beberapa warga dan pengendara lainnya.


****


Hafizah berlari, ia keluar dari rumah Marisa, sesampainya di depan ia dihadang oleh satpam yang berjaga.


"Tangkap dia!" kata Marisa dan Hafizah pun tertangkap pun.


"Lepas!" kata Hafizah seraya meronta, Hafizah juga semakin panik saat Marisa semakin dekat membuat wanita itu menggigit lengan satpam dan menginjak kaki satpam tersebut.


Sekarang Hafizah berhasil melarikan diri, wanita itu keluar dari gerbang.


"Bodoh! Begitu saja lepas!" geram Marisa pada satpam tersebut.


"Maaf, Nyonya, akan saya kejar!" kata satpam itu yang kemudian melangkahkan kakinya.


"Tidak perlu! Dia bukan ancaman!" kata Marisa, wanita itu meninggalkan satpam itu.


Sementara Hafizah, wanita itu memilih kembali ke rumah Tano.


"Sial, kenapa aku kembali ke rumah ini, lepas dari singa masuk kandang buaya!" ucapnya dalam hati.


Hafizah masih berdiri di depan pintu, bingung, memilih kembali atau pergi meninggalkan semua kehidupan kelamnya di rumah itu.


Benar saja, Hafizah pergi dari rumah itu, ia ingin hidup tanpa bayang-bayang Tano dan Zen.


"Aku harus pergi, walau entah kemana!" batin Hafizah, wanita itu berbalik badan dan baru saja melangkah seseorang sudah menarik rambut Hafizah dari belakang.


"Mau kemana kamu?"


"Ampun, bang!" ringis Hafizah.


Tano membawa Hafizah masuk, menamparnya yang sudah berhari-hari tidak pulang.


"Kamu pikir siapa! Bisa pergi seenaknya dan kembali seenaknya!" bentak Tano dan Hafizah melirik gunting yang berada di meja, gunting itu baru saja Tano gunakan untuk membetulkan kabel.


"Hafizah yang sudah gelap mata dan ingin segera mengakhiri penderitaannya itu mengambil benda yang sedari tadi diliriknya.


"Mau apa kamu! Suami belum selesai bicara, tidak ada sopan-sopannya kamu!" gerutu Tano pada Hafizah.


"Diam kamu! Brengsek!" kata Hafizah seraya mengayunkan gunting itu, ayunan pertama meleset dan ayunan kedua, Tano berhasil menahan tangan Hafizah.

__ADS_1


"Aaarrrgh!" geram Hafizah saat menyadari kalau Tano mengarahkan gunting itu ke perutnya sendiri.


Benar saja, Tano berhasil menusukkan gunting itu ke perut Hafizah.


Darah pun merembes keluar.


"Tan-Tano!" ucap Hafizah terbata.


"Semoga setelah ini kamu mati!" kata Tano dan pria berambut putih itu menolak untuk menolong Hafizah.


Sekarang, Hafizah mencabut gunting itu, degan tangan menutupi lukanya, ia keluar dari rumah Tano, ingin mencari pertolongan. Dengan tergopoh Hafizah terus berjalan.


"Aku tidak boleh mati sia-sia!" kata Hafizah dalam hati.


"Ayah, apakah ini hukuman untukku yang dulu menghancurkan kebahagiaan wanita lain!" kata Hafizah dalam hati, wanita itu lama kelamaan tidak dapat menahan rasa sakit di perutnya membuatnya hampir tertabrak oleh motor Ifraz.


"Astaga!" Ifraz yang baru saja menservis motornya itu menepi dan segera membantu Hafizah.


"Tolong! Tolong!" teriak Ifraz dan beberapa warga pun menolong mereka.


Ifraz membawanya ke rumah sakit, di sana, ia juga menghubungi Maya.


"Mah, Ifraz ada di rumah sakit, bisa mamah datang?" kata Ifraz.


Maya panik mendengar itu, takut sesuatu terjadi pada putranya.


Sekarang, Maya yang sedang menyisir rambut Ken itu bangun dari duduknya.


"Astaga, kenapa lama sekali taksi itu!" gerutu Maya yang sudah berdiri di depan pagar.


****


Sementara itu, di kantor. Daniel baru saja membereskan pekerjaannya, sekarang ia berdiri dan mengambil jasnya yang berada di punggung kursi, ia memakainya dan segera pulang, sesampainya di rumah ia hanya melihat Kania yang sudah tertidur di kamarnya.


Daniel memeriksa kamar Ifraz dan ternyata kosong. Begitu juga kamarnya, ia tak melihat Maya.


"Kemana mereka?" batin Daniel, pria itu yang sedang cemburu sempat berfikir kalau Maya mengajak Ifraz bertemu Biru di belakangnya.


"Tidak, aku tidak boleh berfikiran seperti itu! Aku harus percaya padanya!" batin Daniel, pria itu melepaskan yang ada di tubuhnya, pergi mandi untuk menghilangkan penat dan lelahnya.


Tetapi, tetap saja Daniel tidak dapat berhenti memikirkan Maya.


"Sampai kapan, Dan. Sampai kapan kamu akan terus seperti ini? " tanyanya dalam hati.


Pria yang sedang berdiri di bawah guyuran air shower itu mengusap wajahnya.


****

__ADS_1


Sementara Maya, wanita itu baru saja tiba di rumah sakit dan sekarang sedang berjalan menuju ruangan yang di sebutkan oleh Ifraz.


Maya pun melihat putranya duduk di depan sebuah kamar dengan kepala yang di perban.


"Ifraz, apa yang terjadi, nak?" tanya Maya seraya berlari ke arah anaknya, sekarang Maya sudah berdiri di depan Ifraz, ia merangkum wajah Ifraz.


"Faz nggak sengaja hampir nabrak seseorang, sekarang dia baru selesai di operasi," jawab Ifraz, pria itu bangun dari duduknya.


"Duduk, ceritakan secara rinci sama mamah!" kata Maya seraya membawa putranya duduk.


Ifraz pun menceritakan semua pada Maya dan Maya merasa bangga pada anaknya yang memiliki rasa simpati pada sesama.


"Tapi, Mah. Uang jajan Faz nggak cukup buat biaya ngobatin perempuan itu, Faz coba cari ktpnya, ponselnya, itu semua nggak ada," jawab Ifraz.


"Ya sudah, biar mamah yang bereskan administrasinya!"


Setelah itu, Maya bangun dari duduknya dan Ifraz mengikuti langkah Maya. Setelah selesai, sekarang Maya mengajak Ifraz untuk pulang tanpa melihat keadaan wanita yang di telah Ifraz tolong.


Sesampainya di rumah, Maya segera masuk ke kamar melihat Daniel yang sedang bersantai di ranjang bermain ponsel.


"Dari mana kamu?" tanya Daniel, pria itu merasa sebal karena Maya pergi tanpa pamit.


"Aku menyusul Ifraz, maaf tidak meminta izin atau memberi kabar," kata Maya, wanita itu masuk ke kamar mandi meninggalkan Daniel yang sebenarnya belum selesai berbicara!"


****


Di rumah Marisa, Zenia sedang menunggu kedatangan Ifraz, duduk di sofa ruang tamu.


"Kemana sih? Katanya mau datang!" gerutunya seraya terus mengirim pesan pada Ifraz.


"Nggak di balas, kenapa gue harus nungguin dia beneran kan status gue sama dia cuma boongan!" geram Zen dalam hati.


"Tapi gimana? Lama-lama gue meleleh juga sama cowok cupu itu!" batinnya.


"Aaarrggh!" geram Zenia, gadis itu mengacak rambutnya sendiri.


"Jangan jatuh cinta, lo nggak boleh jatuh cinta sama siapapun, Zen!" ucapnya dalam hati.


Setelah itu, Zenia bangun dari duduknya, tidak berharap lagi kalau Ifraz akan datang.


Zenia terkejut saat tiba-tiba melihat Marisa sudah berdiri di dekatnya.


"Astaga! Tante, gue kira hantu!"


Marisa menoyor kepala Zenia lalu memberikan selembar foto padanya


"Ini, buat pacar kamu melihat ini!"

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa like dan komen ya teman-teman. Sampai juga di episode selanjutnya.


__ADS_2