
Mengingat itu, Biru hanya tersenyum, pria yang sedang memakai dasinya itu melanjutkan aktivitasnya dan bersiap untuk bekerja.
Sementara Maya dan daniel, pria itu sarapan bersama dengan tanpa bersuara.
Menyadari ada yang berbeda dari suaminya, Maya berinisiatif mengajaknya berbicara.
Tak menjawab, Daniel memilih untuk menyudahi sarapannya.
"Jangan terlalu lelah, kamu butuh istirahat!" kata Daniel, pria itu bangun dari duduknya dan pagi ini tanpa mengecup kening Maya.
Maya menjatuhkan kepalanya di meja makan, menangis merasa semua telah berbeda.
Daniel yang sedang memasang sabuk pengaman itu tersenyum getir, pagi ini ia sama sekali tidak bersemangat bekerja. Tetapi harus bekerja.
Selama perjalanan Daniel memikirkan Maya yang selama ini dianggapnya posesif.
"Apa arti semua ini, May? Apakah semua ini hanya kepura-puraan?" batin Daniel pria itu memukul setir kemudinya.
Sementara Maya, ia pergi ke makam Lisna, di sana Maya menangis.
"Bun, Maya merasa sangat jahat, sekarang Maya telah menyakiti hati semua orang, Maya merasa tidak pantas hidup."
Setelah mengatakan itu, Maya berziarah ke makam ayahnya dan juga makam mantan mertuanya.
Setelah itu Maya keluar dari TPU tersebut, ia berjalan kaki dan entah kemana tujuannya kali ini. Wanita yang sedang frustasi itu tanpa sadar sekarang berjalan mendekat ke rel kereta, di sana, Maya menghentikan langkah kakinya.
"Kalau aku mati semua masalah selesai, kalau aku mati tidak ada lagi yang terluka, Marisa juga akan merasa puas, dia tidak akan lagi mengusik kebahagian Ifraz atau Ken, tapi kalau aku mati, bagaimana dengan ken, dia masih kecil, tapi ada Daniel, aku yakin Daniel sangat menyayangi anakku!" batin Maya, benar saja, saat Maya mendengar suara kereta yang mendekat ia mulai melangkahkan kakinya, Maya tak menghiraukan suara orang-orang berteriak memanggilnya.
"Bu, awas! Ada kereta mau lewat!" teriak seorang wanita yang sedang menggendong balitanya, wanita itu tinggal di pinggiran rel kereta.
Maya hanya memperhatikan ibu itu tanpa bergerak dari tengah rel kereta sedangkan kereta itu semakin dekat dan saat Maya sudah tidak dapat berfikir lagi, ia sudah pasrah akan akhir dari hidupnya, Maya memejamkan mata, tidak ingin melihat kereta itu menghantamnya, tiba-tiba saja seseorang menarik lengan Maya, membawanya masuk ke dalam pelukan, Maya pun selamat dari serudugkan kereta yang melintas. Maya menangis dan masih tak mau membuka mata.
Lalu, Maya mencium aroma parfum dari pria yang menyelamatkannya dan Maya masih mengenali aroma parfum menenangkan itu.
"Mas Biru!" batin Maya.
Benar saja, pria itu adalah BIru yang melihat Maya menyekar makam Murni lalu Biru memilih untuk mengikuti Maya yang berjalan dengan tanpa tujuan.
__ADS_1
Biru melepaskan pelukan itu dan melihat Maya menangis.
"Apa cara pikir mu sangat pendek? Kenapa kamu harus bangun dari koma kalau hanya untuk mati!" ucap Biru, pria itu memijit pelipisnya sedangkan Maya tak berani menatap Biru.
Mendengar itu Maya hanya diam dan kembali menjatuhkan kepalanya bersandar di dada Biru, Menangis sesenggukan di sana.
Tersadar menjadi tontonan membuat Biru menarik lengan Maya, membawanya ikut bersamanya.
Biru membawa Maya ke pantai, di sana Biru memberikan tisu pada Maya yang tak berhenti menangis.
"Terimakasih," ucap Maya seraya menerima tisu itu.
Biru tak mengatakan apapun hanya menemani Maya menangis. setelah lama keduanya saling diam, Lalu, Biru meminta Maya berteriak sekeras mungkin, mengeluarkan beban yang selama ini ia tumpuk dalam hati.
"Aku bukan anak muda lagi, aku akan malu untuk melakukan itu!" jawab Maya.
"Kenapa untuk bunuh diri malu?" tanya Biru dan Maya menatap tajam Biru.
"Dengar, mengeluarkan beban bukan dengan mengakhiri hidup dan berteriak bukan hanya anak muda yang harus melakukannya," jawab Biru, setelah itu, Biru berdiri dari duduknya, pria itu mencontohkan cara berteriak pada Maya.
****
Marisa yang sedang duduk di kursi kebesarannya itu merasa pusing dan menggigil. Sekarang memilih untuk pulang dan kali ini Marisa pulang ke rumah Brandon, sekalian melihat keadaan Bram.
"Kak, lu pucet banget!" kata Bram yang melihat wajah Marisa tak sesegar biasanya.
"Iya, gue lagi nggak enak badan," jawab Marisa, wanita itu duduk di sofa raung tamu.
"Ya udah, lu istirahat sana!" kata Bram dan lelaki itu kembali masuk ke kamarnya, di kamar, Bram memberikan makan hamster peliharaannya.
****
Sepulang sekolah, Zenia meminta pada Ifraz untuk mengantarnya ke rumah Marisa.
Ifraz pun mengingkari janjinya pada Pia yang mengatakan akan mengantarnya pulang.
Pia melihat dari belakang kalau Zen membonceng motor Ifraz dengan mesra.
__ADS_1
"Gue sahabatnya, udah pasti yang diutamain ya pacarnya!" kata Pia dalam hati, lalu Pia mendengar Bima memanggilnya.
Pia menatap sebal pada Bima, gadis itu hanya akan baik pada Bima apabila Ifraz melihatnya dan Sekarang Ifraz sudah pulang membuat Pia mengacuhkan Bima.
"Pi, pulang barang gue aja, yuk!" ajak Bima dan Pia membalas dengan senyum yang dipaksakan.
"Gue mau jalan sama Karen!" jawab Pia berbohong, padahal Bima melihat kalau Karen sudah pulang bersama dengan gebetannya.
Pia meninggalkan Bima, pria tampan itu hanya menatap kepergian gadis pujaan hatinya.
****
Ifraz yang mengantar Zen ke rumah Bram itu melihat ada pria yang di anggapnya sangat mirip dengan pria yang berada di foto kemarin.
Ifraz memperhatikan pria yang sedang duduk di kursi roda itu, berdiri di belakang Marisa.
"Faz, makasih, ya. Udah antar gue ke sini, nanti gue baliknya sama tante, btw lo mau mampir?" tanya zenia pada Ifraz yang masih berdiri di pintu dan Ifraz tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Zenia, pria muda itu memperhatikan yang berada di kursi roda.
"Kenapa dia kaya nggak suka sama gue, ya?" batin Ifraz saat melihat Bram memilih untuk masuk.
Ifraz memanggil pria itu dan yang dipanggilnya pun berhenti.
"Om, apakah om ayah kandung saya?'' tanya Ifraz dan Bram tidak menjawab, pria itu kembali menggerakkan kursi rodanya masuk ke dalam, mengunci dirinya di kamar.
Sementara Ifraz sangat penasaran dengan pria yang mengacuhkannya.
"Apa lelaki itu sangat membenci gue sama mamah?" batin Ifraz, lalu Ifraz merasakan kalau tangannya digerakkan oleh Zen.
"Faz, mau masuk, nggak?" tanya Zenia dan Ifraz pun memilih masuk, pria itu ingin bertanya pada Marisa tetapi Marisa sengaja ingin menarik ulur perasaan anak kecil itu, Marisa mengatakan kalau dirinya tidak bisa diganggu untuk sementara karena sedang sakit.
"Ya udah, kalau gitu gue pamit dulu!" kata Ifraz pada Zenia.
Ifraz pergi dengan membawa rasa penasarannya.
Bersambung.
hm. kira-kira nanti Ifraz mau ngapain ya sama Biru, yuk terus tunggu kelanjutannya, sampai jumpa di episode selanjutnya, jangan lupa untuk klik ya.
__ADS_1