Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Hati Yang Tak Bertuan


__ADS_3

Seorang wanita mencari-cari keberadaan Bram, ia ingin menggunakan jasanya, tetapi Bram seolah hilang ditelan bumi.


"Nggak tau gua di mana dia, lu cari gantinya aja, cowok lain nggak kalah tampan juga!" jawab teman Bram, mereka berada di mini bar.


"Gua maunya dia, nggak mau yang lain!" kata wanita itu yang berpenampilan sangat seksi.


"Percuma juga, nggak bakal mau dia layanin orang yang sama!" Setelah menjawab itu teman Bram memilih untuk meninggalkan wanita tersebut karena tidak suka telah didesak terus menerus.


****


Maya baru saja turun dari taksi dan melihat ada motor asing di depan rumahnya, ia mengira kalau motor itu milik Bram.


"Bram?" tanyanya dalam hati.


Maya pun melangkahkan kakinya, berharap kalau itu memang Bram dan Maya bertanya-tanya dalam hati mengapa dirinya mengharapkan kehadiran Bram.


Sesampainya di dalam, Maya tak melihat keberadaan pria yang sedang ditunggunya, entah mengapa ada rasa kecewa di hatinya saat melihat teman Gala itu bukan Bram.


"Ada apa sama aku ini!" gerutunya dalam hati.


****


Dua hari telah berlalu, Maya yang sedang menyiapkan sarapan itu teringat kalau hari ini ia harus membicarakan dan meminta Biru untuk mau menandatangani surat cerainya.


Ya, diam-diam Maya mengurus surat cerai. Wanita itu tidak merasa khawatir lagi tentang hak asuh anak karena Maya yakin dengan keputusan Murni yang akan membawa Ifraz supaya tidak di jadikan alasan oleh Biru untuk membuat Maya bertahan.


Maya dengan cepat menyantap sarapannya seorang diri tanpa menunggu Gala yang baru selesai mandi dan setibanya Gala di meja makan Maya sudah selesai terlebih dulu.


"Mbak mau pergi dulu ya, Gal!" kata Maya seraya bangun dari duduknya.


"Mbak, itu kenapa Bang Bram transfer uang banyak banget?" tanya Gala dan Maya menjawab, "Itu, dia pernah pinjam ke Mbak, nanti jangan lupa kamu transferin ke rekening mbak, ya!"


"Iya," jawab Gala seraya menganggukkan kepala.


Setelah itu Maya masuk ke kamar untuk mengambil tas tangannya dan juga berkas yang sudah ia siapkan.


Selesai bersiap sekarang Maya memesan taksi online dan tidak menunggu lama taksi tersebut sudah tiba, Maya segera meminta pada sopir tersebut untuk diantarkan ke kantor Biru.

__ADS_1


Sesampainya di sana, Maya di sambut oleh Ran, pria itu membawa Maya ke ruangan Biru dan Biru yang melihat kedatangan Maya itu merasa senang.


"May...," lirih Biru seraya meletakkan pulpen yang dipegang, pria itu bangun dari duduknya dan Ran meninggalkan mereka berdua di ruangan presdir.


"Mari duduk, May. Aku senang kamu datang kemari," kata Biru seraya membawa untuk duduk di sofa.


Biru membuka kulkas kecil di ruangannya itu, mengambilkan minuman dingin untuk Maya, pria itu memperlakukan Maya seperti tamu yang sangat dinanti kehadirannya.


"Terimakasih," jawab Maya, terlihat tegang karena sedang cemas, cemas memikirkan Biru dan harus membujuknya supaya mau menandatangani surat cerai yang dibawa.


"Apa yang membawa mu kemari?" tanya Biru seraya ikut duduk di sebelah Maya.


"Ada yang ingin aku sampaikan," jawab Maya tanpa melihat manik mata Biru.


"Katakan aku akan mendengarkan!"


"Sudah berulang kali aku mencoba untuk menerima semua ini, tapi berat. Aku nggak bisa, aku mau kita bercerai karena aku mau kejelasan hubungan kita, aku tidak lagi memaksa kamu untuk memilih siapa. Aku mengalah karena aku sedang tidak hamil tidak perlu kamu khawatirkan!"


Maya sengaja menegaskan kata 'hamil' supaya Biru menyadari kalau dirinya telah salah meminta Maya untuk memposisikan dirinya sebagai Hafizah yang sedang hamil, seperti ucapannya kemarin-kemarin.


Biru menyadari itu dan sekarang pria itu terdiam. Bercerai maka akan kehilangan semuanya.


"Kamu sudah lama kehilangan aku! Setelah kamu tidak mengindahkan permintaan ku!" jawab Maya, "Aku tidak bisa lagi seperti ini, hubungan ini sudah tidak layak untuk dipertahankan!" lanjutnya.


Setelah mengatakan itu Maya mengeluarkan surat cerai dan bangun untuk mengambil pulpen di meja Biru.


"Kamu tanda tangan, aku sudah. Setelah ini kita buka suami istri lagi!"


Mendengar itu, Biru hanya menundukkan kepala.


"Kenapa? Apa kamu sudah memiliki seseorang di hati kamu, May?"


"Tidak, hatiku kosong!" jawab Maya seraya mengulurkan tangannya memberikan pulpen.


"Jangan bohong!" bentak Biru seraya bangun dari duduknya, pria itu menatap Maya yang sedang menatapnya datar.


"Sudah ada Bram di hati kamu iya? Pria brengsek itu? Lelaki itu tidak lebih baik dari aku, May!"

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Apa kamu tidak berkaca, ada siapa saja di hati kamu?" jawab Maya tak mau kalah.


"Jadi benar, kamu jatuh cinta sama pria bayaran kamu itu?" sergah Biru.


"Kalau iya kenapa? Tetapi hatiku tak selemah hati kamu! Aku mencoba menekan rasa itu supaya tidak tumbuh, aku melarang hatiku untuk memikirkan dia dan sekarang aku mau kamu tandatangani ini! Percuma kalau kamu merobek kertas ini karena aku masih bisa mendapatkan lembaran kertas ini lagi!" ucap Maya seraya kembali menyodorkan pulpen itu.


"Aku tidak akan menceraikan kamu, titik!" teriak Biru seraya keluar dari ruangannya itu, meninggalkan Maya seorang diri.


"Haahh," desah Maya, wanita itu mengusap wajahnya. Ia berjongkok, mencoba untuk menenangkan hatinya yang sedang kacau tak beraturan.


Setelah itu, Maya bangun dari duduknya dan pergi meninggalkan ruangan presdir.


Dengan langkah cepat sekarang Maya sudah berdiri di tepi jalan, menunggu taksi.


"Setelah bercerai, aku harus tetap mencari kerja, walau semua ini nanti akan menjadi anakku, tetapi aku tidak boleh mengandalkannya, aku ini siapa, bahkan aku merasa tidak berhak atas semua harta ini! Aku seperti telah mencurinya dari Mas Biru!" batin Maya. Setelah itu Maya melambaikan tangannya pada sebuah taksi.


Maya meminta untuk diantar ke rumah Murni. Selama perjalanan Maya menjadi cemas memikirkan putranya.


Setelah beberapa menit, sekarang Maya sudah sampai di kediaman mertuanya.


Maya membayar untuk taksi itu.


"Huh, Semoga saja aku akan mendapatkan apa yang ku inginkan!" harapnya dalam hati, dengan langkah yang penuh keyakinan itu Maya mulai menapaki kakinya, mengetuk pintu pagar istana itu.


Setelah melihat siapa yang datang, satpam pun segera membukakan pintu.


"Silahkan, Nona sudah ditunggu oleh Nyonya di kamarnya," sambut pak satpam yang bermakna Kino.


"Terimakasih," jawab Maya.


"Aku harus percaya kalau Mamah memang menginginkan yang terbaik untuk Ifraz apalagi aku sebagai ibunya," batin Maya, wanita itu sekarang sudah berada di depan kamar Murni.


Tok... tok... tok...


Bersambung.


Jangan lupa klik like dan komen 😗

__ADS_1


Jangan lupa di Favorit juga ya supaya tidak tertinggal update terbarunya.


Sampai jumpa di episode selanjutnya.


__ADS_2