Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Bram Siuman


__ADS_3

"Kenapa?" tanya Biru, pria itu berdiri di teras dan Maya berdiri di pintu.


"Maaf, Mas. Ada perasaan yang harus ku jaga!" Setelah mengatakan itu, Maya masuk ke rumah.


"Bagaimana?" tanya Imelda yang sedang menemani Ifraz belajar mewarnai. Ia mengajak Maya untuk berbicara di depan.


"Aku sudah melakukan semua yang mamah minta, semoga setelah ini mamah enggak ragu lagi sama aku," jawab Maya, sesekali melihat Ifraz yang sedang duduk di atas karpet.


"Selama mamah belum memiliki cucu, mamah menganggap kalau kamu belum sepenuhnya kembali pada putraku!"


"Tolong jangan katakan itu di depan Ifraz, mamah doakan semoga kami di beri momongan," jawab Maya, ia tidak ingin putranya terluka.


"Mah, aku sudah melakukan semua yang mamah mau, aku mau mamah menjaga perasaan Ifraz, aku tidak masalah kalau mamah masih selalu mencurigai aku, tapi aku mohon, jangan katakan kalau dia bukan cucu mamah," pinta Maya, ia menggenggam erat tangan Imelda.


"Baiklah, karena kamu menantu yang berbakti, aku akan menuruti permintaan kamu, tapi ingat. Saya juga mau cucu kandung!"


Maya menarik nafas, berdoa semoga dirinya cepat hamil.


Imelda kembali duduk di karpet, ia mengusap pucuk kepala Ifraz dan sebenarnya Imelda menyayangi Ifraz yang tak bersalah itu, hanya saja, sesekali menggunakan Ifraz untuk menyetir Maya.


"Sayang, kamu tidak akan kurang kasih sayang dari kami, kami keluarga kamu, semoga rahasia masa lalu mamah akan selalu terjaga rapih," batin Maya, ia memilih untuk ke dapur dan membantu Minah menyiapkan makan malam.


Maya yang sedang berdiri, melumuri ayam dengan bumbu itu merasa ponselnya bergetar.


Ternyata itu dari Marisa, Maya segera menerima panggilan itu.


"Maya, Bram sudah bangun, cepat kamu datang!"


DEG!


"Di-dia sudah bangun. Apa yang harus ku katakan!" batin Maya, ia terdiam mendengar kabar itu.


"Halo!" seru Marisa dari sambungan telepon.


"I-iya!" jawab Maya, yang ada di otaknya adalah Daniel. Ia harus meminta izin lebih dulu.


Maya segera memutuskan sambungan teleponnya.


Ia melihat masih ada Imelda, tak tau harus beralasan apa.


Tidak mungkin Imelda mengizinkan Maya untuk menemui pria lain.


Tetapi, Maya harus meminta maaf dan menjelaskan sendiri pada Bram.


Maya melihat jam di dinding, sebentar lagi suaminya pulang.


"Aku harus menunggu Daniel! Daniel adalah suamiku!" batin Maya, ia mulai merasa resah.


"Seharusnya aku senang, Bram sudah siuman, setelah dua tahun koma!" batin Maya.


****


Biru mengajak Pia untuk berjalan-jalan, menaiki biang lala.


"Kamu suka?" tanya Biru. Sesekali membayangkan Pia adalah Ifraz.


"Pia suka, kan sama ayah!" kata Pia.


Biru pun memeluk putrinya.


"Terimakasih, sayang!" ucap Biru seraya mencium pucuk kepala Pia.

__ADS_1


Setelah bermain, sekarang Biru mengajak Pia untuk makan di restoran.


Di sana, semua orang memuji Biru yang tampan dan Pia yang terlihat semakin cantik.


"Duh, anaknya cantik banget, jadi pengen cubit pipi papahnya!" kata salas satu pengunjung.


"Istrinya mana ya, aku mau dong gantiin jaga mereka!" ucap pelanggan yang lain dan Biru mengabaikan lirikan mata dari orang-orang yang mencuri pandang, di hatinya masih tersimpan nama Maya.


Entah sampai kapan, Biru akan membiarkan nama itu berada di dalam hatinya.


"Ayo di makan, sayang!" perintah Biru pada Pia dan Pia mengangguk.


****


Di rumah Maya, selesai makan malam, sekarang Imelda harus pulang, ia di jemput oleh Sukma.


"Terimakasih, sayang," kata Imelda seraya cipika-cipiki pada Maya membuat Daniel senang melihat itu.


"Sama-sama," Maya mengusap lengan Imelda.


Sementara Marisa, ia duduk terdiam, merasa sebal pada Bram yang terus menanyakan Maya.


"Kamu sabar, Bram mungkin dia sedang mengurus suaminya dulu!" batin Marisa, ia duduk di sofa dengan bersedekap dada.


"Gua tidak bisa menggerakkan kaki! Apakah Maya akan menerima?"


Ya, Bram menganggap semua adalah mimpi atas apa yang di dengarnya dulu yang mengatakan kalau Maya sudah menikah, Bram tidak akan percaya pada siapapun sebelum Maya yang mengatakannya sendiri.


****


Di rumah, Maya sedang meminta izin pada Daniel.


Daniel terdiam, berfikir selama ini Maya selalu memikirkan Bram. "Kamu sudah berjanji pada dirimu, kalau kamu akan setia menemani Maya dan bersabar menunggunya semampumu! Apa hanya segini kemampuan kamu?" batin Daniel.


"Baiklah, aku mengantar kamu!" kata Daniel, ia bangun dari duduknya.


"Minah!" teriak Daniel.


"Iya, saya Tuan," jawab Minah, wanita tua itu menghadap Daniel.


"Jaga Ifraz, kami pergi dulu sebentar!"


"Baik, Tuan!"


Daniel menyambar kunci mobilnya.


"Ayo!" kata Daniel seraya mengulurkan tangannya dan Maya meraih tangan itu.


Selama perjalanan menuju ke rumah sakit, keduanya hanya saling diam, hanyut dalam pikiran masing-masing.


Sesampainya di rumah sakit, Daniel memilih untuk menunggu di luar ruangan, ia duduk di kursi panjang, setelah Maya masuk lalu keluarlah Marisa, ia ingin memberikan ruang untuk Bram dan Maya.


Ia menatap tajam pada Daniel yang telah merebut Maya dari sisi adiknya.


"Dia sudah kembali, gua harap lu melepaskan Maya!"


"Sabar Dan! Sabar!" ucap Daniel dalam hati. Ia memilih untuk mengacuhkan Marisa.


Sementara Maya, di dalam ruangan.


Ia merasa tidak tega apabila harus secepat ini mengatakan semua pada Bram yang baru saja membuka mata.

__ADS_1


"May, maafin gua. Gua telat datang!" kata Bram seraya menggenggam tangan Maya yang terasa dingin.


Sedangkan Maya, ia menatap nanar pada Daniel, tidak tau bagaimana caranya mengatakan yang sejujurnya.


"May, kenapa diam? Lu masih marah sama gua?"


Maya menggelengkan kepala, lalu Maya melihat makanan yang tersedia di atas meja kecil samping brangkar.


"Kamu makan dulu, kamu tau sudah berapa lama kamu tidur?" kata Maya seraya mengambil makanan Bram.


"Gua mau makan kalau lu yang menyuapi gua!" kata Bram, pria itu tersenyum seraya mengedipkan mata, menggoda Maya.


"Jangan manja!" kata Maya seraya menggerakkan tangan Bram supaya menggenggam gagang sendok.


"Aduh, sakit May. Tangan gua masih sakit!" rengek Bram.


"Nggak lucu!" kata Maya.


"Hhmmm." Bram menarik nafas dalam, triknya tidak berhasil memaksa Maya untuk menyuapinya.


"May," lirih Bram dan Maya yang sedang duduk di kursi, terdiam itu mendongakkan kepala, menatap Bram.


"Apa?" lirih Maya.


"Lu semakin cantik!" kata Bram.


Maya tersenyum getir.


Lalu, Maya mengalihkan perhatian dengan brewok Bram yang sudah tumbuh lebat.


"Lu harus mencukurnya! Lu selama gua tidur kenapa merawat jenggot gua juga?" protes Bram.


"Bram, aku sebenarnya-"


"Sebenarnya apa?" Bram memotong ucapan Maya.


"Lupakan, kamu harus pulih dulu!" Jawa Maya.


Lalu, Maya melihat jam di dinding, hari sudah malam.


Ia meminta izin pada Bram untuk pulang, tetapi Bram merengkuh Maya, membawanya naik ke brangkar.


"May, temani gua! Ifraz malam ini sama Gala dulu!"


Maya berusaha melepaskan tangan Bram dari pinggang dan segera turun.


ia takut Daniel akan melihat itu.


Benar saja, baru saja Maya turun dari brangkar, Daniel masuk ke dalam.


"Sudah malam, Bram. Aku harus pulang!"


Setelah mengatakan itu Maya keluar dari ruangan Bram, diikuti oleh Daniel.


"Siapa dia?" tanya Bram pada Marisa.


Bersambung.


Yang masih setia membaca saya ucapkan terimakasih, yang merasa novel ini tidak cocok, saya tidak memaksa kalian untuk membaca.


Terimakasih, like, komen dan gift/votenya.

__ADS_1


__ADS_2