
Tanpa sadar Maya membawa jas Biru yang ia lupa kembalikan.
Sesampainya di rumah, Maya berniat menyimpan dan akan mengembalikan di lain waktu.
Tetapi, Maya tidak tau kalau di rumah itu sudah ada Imelda yang sedang membaca majalah di sofa ruang tengah.
Imelda melihat ke arah Maya
"Dari mana kamu?" tanya Imelda dengan dinginnya, matanya kembali ke majalahnya.
*Maya baru bertemu dengan teman-teman," jawab Maya berbohong, seharusnya Maya mencari jawaban lain, karena Imelda akan menanyakan jas siapa yang dibawanya.
"Teman kamu cewek apa cowok?" tanya Imelda seraya menutup majalah itu, wanita berpakaian dress putih itu bangun dan mendekat kearah Maya berdiri.
Sementara Maya, ia masih diam.
Benar saja, Imelda menanyakan jas siapa itu.
Maya hanya bisa diam.
"Daniel bilang kamu sakit, makanya mamah datang kemari, tapi kamu sudah terlihat sehat dan sudah bisa pergi jauh," kata Imelda seraya berjalan memutari Maya.
"Sampai kamu lupa kalau harus menjemput Kania?"
"Astaga, ya aku lupa kalau aku harus menjemput putriku," batin Maya dan Maya berharap kalau Imelda segera pulang dari rumahnya.
"Maya pergi menjemput Kania dulu, Mah," Maya pamit dan Imelda menjawab kalau tidak perlu.
"Tidak perlu, anak kamu sudah ada di kamar, sekarang mamah pergi dulu, ada arisan!" kata Imelda dan Maya hanya menganggukkan kepala.
Maya mencari Kania di kamar dan ternyata Kania sedang berbaring di ranjang.
"Sayang, kamu kenapa, Nak?" tanya Maya yang baru duduk di tepi ranjang Kania.
Kania yang mendengar itu pun membuka mata dan melihat Maya yang di menatapnya penuh dengan kekhawatiran.
"Ken cuma pusing aja, mah. Tapi Ken udah minum obat kok," jawab Kania, gadis itu menggenggam tangan Maya dan membawanya untuk di peluknya.
Maya pun segera memeluk putrinya itu, sekarang Maya dan Ken tidur siang bersama, bahkan Maya melupakan makan siangnya.
****
Selesai kuliah, Ifraz tidak langsung pulang, ia pergi ke toko milik Pia lebih dulu dan ternyata Pia tidak ada di sana, karyawannya mengatakan kalau Pia sedang kuliah dan sekarang Ifraz masuk ke ruangan Pia.
"Maaf, Mas. Mbak Pia pesan kalau tidak ada yang boleh masuk selain Mbak dan karyawan," kata salah satu karyawan Pia dan Ifraz tak menghiraukan itu.
Ifraz tetap menerobos masuk dan duduk di kursi Pia.
__ADS_1
Ifraz yang gabut itu membuka laci meja itu dan ternyata di sana dipenuhi foto Ifraz dan Pia.
Foto itu mulai dari mereka kecil dan sampai dewasa sekarang.
Ifraz mengambil salah satu foto di mana mereka berdua makan es krim di taman.
"Kamu lucu, Pia. Tapi sayang, kamu akan menjadi milik orang lain!" batin Ifraz, pria berjaket kulit itu tersenyum menatap foto itu.
Lalu, ada satu foto yang menarik perhatian Ifraz, foto itu terlihat lain karena itu foto Ifraz sendirian yang sedang duduk di bawah pohon, Ifraz ingat di mana foto itu di ambil dan saat mendakilah Pia memotretnya.
Ifraz mengambil itu dan ternyata di balik foto tersebut ada ungkapan hati Pia.
"I love you?" kata Ifraz yang sedang membaca tulisan itu.
"Apa dia suka sama gue? Tapi kan kami adik dan kaka, kalaupun kami memiliki perasaan yang sama itu jelas tidak boleh!" kata Ifraz seraya bangun dari duduknya dan membawa foto itu.
Ifraz ingin menanyakannya sendiri apa maksud dari kata itu.
Ifraz segera menghubungi Pia dan ternyata Pia sedang mengendarai mobilnya.
"Di mana lo?" tanya Ifraz yang masih berdiri di ruangan Pia.
"Gue di jalan, kenapa?"
"Pulang, ada yang ingin gue tanyakan!" perintah Ifraz dan Pia pun menjawab kalau bisa bertanya melalui ponsel.
Ifraz bergegas dan sekarang sudah mengendarai motornya dengan kecepatan sedang.
Sementara Pia, ia yang hampir saja sampai toko itu harus mencari jalan untuk memutar balik.
"Bikin repot aja sih tuh orang!" gerutu Pia, Pia berfikir kalau bertanya kan bisa tinggal tanya dan kenapa harus sekarang juga bertemu di rumah.
Setelah beberapa menit, sekarang Pia sudah sampai dan ternyata Ifraz sudah menunggunya.
"Ada apa?" tanya Pia yang baru saja masuk ke rumah.
Ifraz yang sedang duduk di sofa ruang tamu itu segera bangun dan menunjukkan foto yang dibawanya.
"Apa maksud dari kata ini?"
"Apa, tidak ada maksud apa-apa!" kata Pia seraya merebut foto itu dari tangan Ifraz.
"Astaga, kenapa dia liat foto ini, berarti tadi dia masuk ke ruangan aku!" batin Pia yang masih sedang memperhatikan foto tersebut.
"Jawab!" kata Ifraz dan Pia menjadi gugup.
"A... itu, bukan apa-apa," jawab Pia seraya menggelengkan kepala. Gadis lugu itu merasa bingung harus menjawab apa dan tanpa dia tau kalau Ifraz sudah tidak tahan lagi saat melihat bibir Pia yang terlihat sangat seksi dan menggoda.
__ADS_1
Tanpa permisi, sekarang Ifraz sudah mencium Pia membuat gadis itu terkejut dan membulatkan matanya.
Walau seperti itu, Pia tidak menolak dan hanya diam saja saat Ifraz melakukan itu.
Sementara itu, apa yang mereka lakukan terlihat oleh Biru dari layar laptopnya.
Biru memantau rumahnya dengan memasang CCTV dan Biru terkejut dengan apa yang Ifraz lakukan.
"Astaga, anak gue belajar dari mana? Belum waktunya oe!" seru Biru yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
Biru segera menyambar jasnya dan sekarang pergi ke ruangan Ran. Ia mengatakan kalau dirinya harus pulang.
Selama perjalanan Biru takut kalau Pia dan Ifraz akan melakukan apa yang seharusnya tidak boleh dilakukan membuat Biru mempercepat laju mobilnya.
Sedangkan di rumah, Ifraz sedang mengusap bibir basah Pia dan Pia hanya menundukkan kepala.
"Maaf, gue nggak bisa menahan, lagi pula gue hanya mencium, tidak lebih, anggap saja itu ciuman perpisahan dari gue, abang lo, sebentar lagi lo dijodohin, akan ada yang jagain lo, gue permisi!" kata Ifraz dan belum sempat ia keluar dari rumah sudah datang Biru yang sedang memarkirkan mobilnya.
Ifraz berdiri di teras di rumah dan akan pulang setelah pamit pada Biru.
Biru yang baru saja turun dari mobil itu bertanya, "Anak muda, mau kemana lo?"
Ifraz menggaruk tengkuknya dan menjawab, "Pulang."
"Masuk!" perintah Biru pada Ifraz dan Ifraz pun kembali masuk.
"Loh katanya pamit?" tanya Pia yang sekarang duduk di sofa.
"Ngapain kalian?" tanya Biru dan seketika itu membuat Ifraz dan Pia sama-sama gugup.
"Kami nggak ngapa-ngapain," jawab Pia yang terlihat gugup, ia tak pandai menyembunyikan rahasia.
"Ayah tau apa yang kalian lakukan!" ucap Biru yang masih berdiri di pintu sementara Ifraz yang berdiri di samping sofa berwarna merah hitam itu hanya diam saja dan sekarang Ifraz yang merasa sebagai seorang laki-laki itu menjawab, "Ifraz mencium Pia."
"Apa!"
"Ifraz mencium Pia sebagai tanda perpisahan karena Pia akan dijodohkan!" jawab Ifraz seraya menatap Pia yang juga sama menatapnya.
"Dasar bodoh kamu!" ucap Biru, pria itu berkacak pinggang menatap anak-anaknya bergantian.
Bersambung.
Jangan lupa like dan komen ya, terimakasih yang sudah membaca.
Bagi komen yang enggak aku balas pasti aku like, itu tandanya aku baca komen kalian ya.
Terimakasih sudah membaca tulisan saya yang amburadul ini 🙏🙏
__ADS_1