Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Maya Adalah Istriku!


__ADS_3

"Mbak, ayo buka mata! Ifraz terus mencari mbak, Bunda juga menanyakan kabar mbak, mbak harus kuat, Gala mohon sama mbak!" lirih Gala, pria bermata sipit itu tidak kuasa untuk menahan air matanya, lalu Gala merasakan kalau ponselnya bergetar, pria itu melepaskan tangan Maya lalu keluar dari ruang rawat Maya.


Gala melihat panggilan itu dari rumah.


"Halo," Gala menerima panggilan tersebut.


"..........."


"Begini, Sus. Bilang sama Bunda kalau Gala semalam nobar, ini baru mau pulang," jawab Gala berbohong.


"Gimana ini, nggak mungkin aku tinggalin mbak Maya sama pria brengsek itu!" gumam Gala, tetapi Gala tidak mendapati Biru.


"Kemana dia? Apa sedang mencari sarapan? Cih, istri lagi berjuang antara hidup, matinya tetapi lelaki itu semakin menjengkelkan!" geram Gala.


Setelah itu, datang dua suster untuk memeriksa Maya, lalu Gala menitipkan padanya. "Suster, saya mau pulang sebentar, tolong jaga kakak saya!"


"Baik," jawab suster tersebut.


****


Sementara itu, Biru sedang memeriksa barang-barang Maya, pria itu juga memeriksa ponsel Maya, memeriksa panggilan terakhir dan ternyata sebelum kecelakaan itu terjadi Maya menghubungi Hafizah.


Sekarang, Biru menjatuhkan kepalanya di setir kemudi, menangisi Maya.


"Kenapa Maya, kenapa! Kenapa kamu pergi tanpa seizinku!" rintih Biru.


Setelah itu, Biru melihat ke ponselnya yang bergetar, tertulis nama Hafizah.


"Sudah tiga hari ini aku lupa menghubunginya!" gumam Biru, pria itu mengusap air matanya lalu menerima panggilan itu.


"Halo!" jawab Biru dengan suara parau.


"Kamu kenapa, Mas?" tanya Hafizah, wanita itu khawatir dengan Biru, semalam Maya menghubungi dengan suara yang parau dan sekarang Hafizah mendengar suara parau juga dari Biru.


"Ma-maya!" jawab Biru terbata, Biru tidak sanggup lagi menyembunyikan kesedihannya itu dari Hafizah.


"Kenapa sama mbak?"


Biru terdiam, tidak dapat menjawab pertanyaan itu memilih untuk mengakhiri panggilan tersebut membuat Hafizah semakin bertanya-tanya.


"Apa yang terjadi, kenapa Mas Biru sampai menangis seperti itu, aku harus pergi ke rumahnya!" kata Hafizah yang kemudian segera keluar dari rumah.

__ADS_1


Di sana, Hafizah mendapatkan tatapan tidak suka dari para tetangganya, tentu saja kabar kalau Hafizah seorang pelakor sudah menyebar luas, Hafizah tidak menghiraukan tatapan itu, Hafizah terus saja berjalan tanpa melihat ke kanan dan kirinya.


Sementara itu, Biru sudah mengendarai mobilnya dan sekarang sudah hampir sampai.


Begitu sampai di depan gerbang, Biru memerintahkan seseorang untuk memarkirkan, pria itu berlari masuk ke rumah mencari Murni dan Ifraz.


Biru melihat Murni berada di ruang tamu, membelakangi pintu sehingga tidak melihat Biru yang berdiri di sana.


Biru melangkahkan kaki, mengusap lengan mamahnya.


"Mah, mamah kenapa? Apa perlu Biru panggilkan dokter?"


Tidak menjawab, tetapi Murni menyingkirkan tangan Biru dari lengannya. Ya, Murni masih murka pada anaknya.


Lalu terdengar suara seorang wanita yang berteriak memanggil nama Biru. Wanita itu adalah Hafizah. Mendengar suara itu membuat Murni ingin segera melihat siapa yang datang.


Murni turun dari ranjang dan mengikuti Biru di belakangnya.


Murni tidak dapat lagi menahan kekesalannya saat melihat Hafizah.


"Siapa kamu berani-beraninya datang kemari!" bentak Murni.


Mendengar itu, Hafizah pura-pura menjadi takut, sekarang gadis itu berlindung di balik badan Biru.


Melihat itu Biru tidak tinggal diam, pria itu melerainya, "Mah, jangan seperti ini, Hafizah sedang hamil!" kata Biru seraya menahan tangan wanita tua berbadan tinggi semampai itu.


"A-apa?" tanya Murni dan kali ini Hafizah yang menjawab, "Saya hamil, hamil cucu ibu."


Deg!


Murni melepaskan tangannya dari tangan Biru, wanita itu menampar Biru sekeras mungkin, setelah itu menampar Hafizah.


"Kalian, Kalian pengkhianat!" geram Murni, wanita paruh baya itu tidak menerima kalau anaknya menyakiti wanita yang dipilihkan olehnya.


"Seharusnya kalau memang kamu tidak bisa mencintai Maya setidaknya jangan lukai dia!" ucap Murni, "Mamah akan mengurus surat perceraian kalian!" lanjut Murni, setelah itu Murni berlari mengambil tasnya di kamar Maya, sekarang Murni sudah kembali turun dan pergi meninggalkan anaknya yang terus mengejarnya di belakang.


"Mah, sampai kapanpun Biru tidak akan menceraikan Maya! Biru mencintai Maya, Mah!" ucap Biru dan kembali Murni menampar anaknya itu.


PLAK!


"Cinta? Apa ini cinta? Sampai istrimu terbaring koma di rumah sakit?" geram Murni.

__ADS_1


"Maya istriku, mah. Aku yang berhak atas hubungan ini, aku juga tau betul kalau Maya mencintaiku, dia tidak akan mau bercerai dari ku," kata Biru, pria itu menatap tajam pada ibunya sendiri.


"Kita lihat nanti setelah Maya membuka Mata!" jawab Murni, lalu Murni benar-benar pergi dari rumah Biru.


Setelah kepergian Murni, Hafizah menghampiri Biru, membawanya masuk ke rumah, menenangkan suaminya itu.


Lalu Biru teringat akan panggilan terakhir Maya semalam.


"Apa yang semalam kalian obrolkan?"


"Mba Maya minta aku meninggalkan kamu, tapi aku bilang tidak bisa, aku sedang hamil dan aku meminta Mba Maya untuk menerima, lagi pula yang kita butuhkan saat ini adalah bersabar, Mas. Awalnya terasa berat tapi aku yakin lama-lama akan terbiasa," jawab Hafizah dan Biru memijit pelipisnya mendengar jawaban itu.


****


Di rumah Lisna, wanita itu mencari-cari Gala, perasaannya tidak enak selalu memikirkan anak-anaknya.


Setibanya Gala di rumah, Lisna bertanya, "Kamu dari mana?"


"Gala habis nobar, Bun. Ayo masuk," ajak Gala seraya mendorong kursi roda Lisna.


Sedangkan Lisna tidak percaya dengan jawaban anaknya itu, terlihat kesedihan di raut wajah putranya, lagi pula seorang ibu tidak akan mudah untuk dibohongi, ibu adalah yang melahirkan, memiliki rasa yang peka.


Lalu dengan susah payah, Lisna kembali bertanya, "Kamu dari mana?"


Mendengar pertanyaan itu membuat Gala sadar kalau Lisna tidak dapat dibohongi.


Tak kuasa menahan tangis pria itu berhenti mendorong kursi roda bundanya, Gala memeluk Lisna dengan tubuh yang bergetar karena menangis.


"A-ada apa?" tanya Lisna, wanita itu ingin mengusap punggung anaknya tetapi tidak dapat menggerakkan tangannya dengan sempurna.


"Apa lebih baik aku katakan pada Bunda? Bukankah doa orang tua adalah segalanya, Tuhan akan mengabulkan doa seorang ibu," gumam Gala dalam hati.


Lalu Gala melepaskan pelukannya itu, berlutut dan bersimpuh di hadapan bundanya. "Bunda," lirih Gala, "Mbak Maya sakit, Bunda doakan untuk mbak supaya cepat membuka mata, ya," lanjut Gala.


Sementara Lisna merasa sakit di hatinya mendengar putrinya sakit, tetapi Gala seolah menutupinya.


Kembali dengan susah payah Lisna bertanya, "Sakit apa? Di mana Mbak kamu sekarang?"


"Mbak ada di rumah sakit," lirih Gala, melihat ekspresi Lisna membuat Gala menjadi merasa bersalah karena telah mengatakan yang sejujurnya.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa untuk klik like setelah membaca ya! Terimakasih.


__ADS_2