
"Jangan tanyakan itu, aku sudah memilih dan aku memilih keluarga ku, aku memilih kamu, ayah dari anak yang sedang aku kandung!"
Mendengar itu, Daniel merasa senang, ia langsung membopong Maya.
"Istriku hamil?" Seru Daniel.
"Dan, turun kan aku! Aku takut jatuh!" lirih Maya.
Daniel segera menurunkan Maya.
"Mulai sekarang, kamu tidak boleh bersedih lagi, antara kamu dan dia juga sudah selesai, aku mau kamu fokus pada kehamilan kamu, jangan memikirkan yang lain!" ucap Daniel seraya merangkum wajah Maya.
Maya menganggukkan kepala.
"Sekarang kamu mau makan apa? Biar aku siapkan semua! Atau mau makanan yang super aneh? Biasanya wanita hamil akan ngidam!"
Maya melepaskan tangan Daniel dari wajahnya.
"Aku tidak menginginkan apapun, Dan! Aku merasa lengket, aku mau mandi dulu!"
"Mau ku mandiin?" tanya Daniel, ia meraih lengan Maya yang tadi mulai berjalan ke arah kamar mandi.
"Dan, aku sudah besar, tidak perlu kamu mandikan!"
Daniel terkekeh, karena sedang senang, Daniel selalu ingin menggoda Maya.
Setelah itu, Daniel ingin memberikan kabar baik itu pada Imelda yang sudah menunggu cucunya.
"Apa? Maya hamil?" seru Imelda dari sambungan telepon.
"Ya sudah, sebentar lagi Mamah datang atau nanti Mamah akan datang sama papah kamu!" Setelah mengatakan itu Imelda memutuskan sambungan teleponnya.
"Aku punya cucu! Akhirnya aku punya cucu! Bisa aku ajak pergi arisan, pergi ke salon, semoga cucuku perempuan!" teriak Imelda, wanita itu tidak sabar ingin memberitahu kabar bahagia itu pada Sukma.
Selama kehamilan itu, Imelda sangat menyayangi Maya, Imelda juga menyayangi Ifraz, sering mengajak Ifraz bermain supaya tidak rewel pada Maya.
Namun, berbeda dengan Bram, pria itu terpuruk, tidak lagi ada semangat dalam hidupnya. Tidak berbicara setelah kejadian itu, bahkan sampai sekarang masih terngiang di telinganya saat dokter yang memeriksa Maya mengatakan kalau Maya tengah hamil.
"Aaaaaaaaaa!" teriak Bram, pria itu sudah kembali ke rumah, sekarang tinggal bersama di rumah Brandon.
Ia melemparkan parfum yang berada di meja rias ke kaca besar yang ada di kamarnya.
"Bram!" seru Marisa yang sedang berjalan melewati kamar adiknya, ia baru saja pulang bekerja.
Marisa membuka kamar yang tidak terkunci itu.
Terlihat Bram yang sedang duduk di kursi roda tengah menangis.
Marisa memeluk adiknya.
__ADS_1
"Bram, sudah. Jangan seperti ini, dia bahagia dan tidak seharusnya lu jadi seperti ini!" ucapnya dan Bram melepaskan Marisa dari pelukannya dengan kasar hingga Marisa terjatuh dan tangannya mengenai pecahan kaca yang berserakan.
"Pergi, gua nggak butuh siapapun!" teriak Bram dan Marisa yang kesakitan itu meringis. Pergi dengan perasaan jengkel dan saat ini tingkat kebenciannya pada Maya semakin meningkat.
Marisa meminta pada asistennya untuk mencabut beling yang menancap di tangannya.
"Aaaaa!" teriak Marisa saat merasakan sakitnya luka di telapak tangannya.
"Sakit ini belum seberapa dibandingkan dengan sakit hati yang kami alami!" batin Marisa.
Belum selesai tangan itu diperban, sekarang, Marisa mendapatkan tamu.
Selesai dengan perban itu, sekarang Marisa pergi ke ruang tamu.
Di sana sudah ada Biru dan Pia.
"Sayang, kamu tunggu di sini," kata Biru dan Pia menganggukkan kepala.
Biru berjalan mendekat pada Marisa berdiri.
"Aku datang ingin menjenguk Bram!"
"Kami tidak menerima tamu, silahkan pergi!" ucap Marisa, setelah itu ia membalikkan badan dan berjalan meninggalkan Biru yang masih menatapnya.
Namun, langkah kaki Marisa terhenti saat Biru mengucapkan sesuatu.
"Semua sudah terjadi, aku harap kalian dapat menerimanya dan melupakan semua, jangan menyimpan dendam, karena aku yakin, sebenarnya Maya juga tidak inginkan ini terjadi!"
Ya, Biru melakukan itu karena sering melihat Marisa menatap penuh benci pada Maya, Biru melihat itu saat mengawasi Ifraz dari jauh.
Biru menarik nafas dalam berharap Marisa tidak melakukan hal yang dapat merugikan semua orang.
Setelah itu, Biru tersadar dari lamunannya saat Pia menggenggam jari kelingkingnya.
Biru melihat wajah mungil Pia, sekarang Biru menggendongnya, membawanya pulang. Di perjalanan, Biru melewati rumah Maya, terlihat di sana sedang ramai, mungkin sedang berkumpul untuk merayakan kehamilan Maya.
Dari luar, Biru dapat melihat seorang pria yang sedang menggendong anak kecil, Biru yakin pria itu adalah Daniel, semua tidak terlihat jelas karena tertutup oleh tirai.
"Kamu bahagia di rumah baru kamu, Nak! Papah akan selalu ada, di belakang kamu, walau kamu tidak melihat papah!" ucap Biru dalam hati.
KCIT SATU TAMAT!!!!
MAYA HIDUP BAHAGIA DENGAN KELUARGA BARUNYA, BAHAGIA BUKAN BERARTI TANPA KERIKIL DI RUMAH TANGGANYA.
LANJUT KCIT DUA!! MENCERITAKAN KISAH IFRAZ YANG MENGETAHUI KALAU DIRINYA BUKAN ANAK KANDUNG DANIEL.
EMPAT BELAS TAHUN KEMUDIAN...
Sekarang, Ifraz sudah menjadi pria remaja berusia delapan belas tahun, ia tumbuh menjadi pria tampan, kharismanya dapat menarik perhatian wanita yang melihatnya.
__ADS_1
"Tiup lilinnya... tiup lilinnya!" Semua orang kecuali Ifraz, mereka sedang menyanyikan lagu ulang tahun untuk adik Ifraz yang cantik.
Gadis itu bernama Kania Putri Sukma.
Sekarang sedang berulang tahun yang ke 13 tahun.
Di ulang tahunnya, Kania merasa tidak bahagia karena Ifraz tidak hadir.
"Abang!" geram Kania dalam hati.
"Sama ulang tahun adik sendiri aja lupa! Ini pasti gara-gara cewek itu!" lanjutnya.
Lalu, Kania menatap Maya yang bertanya.
"Ken, kenapa, sayang?"
"Ken nggak mau ulang tahun, abang lupa sama ulang tahun Ken!"
Setelah mengatakan itu, Kania berlari dan masuk ke kamarnya.
Maya dan Daniel saling menatap, sedangkan Imelda menarik nafas dalam,
Ia menyusul Kania ke kamar dan ternyata pintu itu terkunci.
"Ken, omah punya hadiah, yakin kamu nggak mau lihat?"
Kania diam, dia tidak mau menjawab karena yang diinginkannya adalah kehadiran Ifraz.
"Abang jahat, semenjak kenal dia, abang jadi lupa sama Ken!" ucap Ken dalam hati seraya memukul-mukul boneka pemberian Ifraz.
Imelda tak mendapatkan jawaban, ia segera kembali ke ruang tengah dan langsung mendapatkan pertanyaan dari Sukma.
"Gimana?"
"Ya gimana, dia ngambek, lagian kemana sih Ifraz, kok bisa lupa sama ulang tahun adiknya!" geram Imelda seraya menatap Maya.
"Sebentar, Maya hubungi dulu!" kata Maya seraya mengambil ponselnya yang berada di samping televisi.
"Nggak ada jawaban!" kata Maya.
"Kemana Ifraz? Aku takut terjadi sesuatu yang buruk sama dia!" ucap Maya dalam hati.
Seolah mengerti apa yang Maya rasakan, Daniel membawa Maya ke pelukan, mengusap lengannya.
"Jangan berfikiran yang macam-macam, dia anak muda, May, pasti lagi seru sama temannya, kita juga pernah muda kan," kata Danjel.
"Hhmmm," jawab Maya, ia bersedekap dada.
"selalu begitu, kamu jadi ayah harus tegas dong! Makanya anak kamu jadi manja semua!" timpal Imelda.
__ADS_1
"Bukannya mamah yang selalu manjain Ken?" tanya Daniel dalam hati.
Bersambung.