Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Tidak Tahan Lagi!


__ADS_3

Biru memanggil Andy yang sedang duduk di pos satpam bersama dengan pekerja lainnya, ternyata mereka ikut merasakan kesedihan dari Maya, karena keretakan rumah tangga Tuannya membuat karyawannya tidak berselera bermain catur seperti biasanya.


"Andy!" seru Biru dari pintu.


Andy pun mendekat. "Iya, saya Tuan."


"Belikan eskrim untuk dia," perintah Biru seraya mengeluarkan uang dari dompet.


"Malam-malam begini? Saya cari eskrim kemana, Tuan?" Sebenarnya Andy sangat malas sekali melihat wanita yang berdiri di samping Biru bukanlah Maya.


"Cari aja di toko yang buka dua puluh empat jam," timpal Hafizah.


Andy tidak menjawab hanya menganggukkan kepala.


Setelah itu, Biru kembali masuk ke dalam diikuti Hafizah.


"Terimakasih, Mas."


"Iya, sama-sama. Sekarang aku mau istirahat dulu!" kata Biru yang kemudian meninggalkan Hafizah di ruang tengah.


"Iya, selamat istirahat," lirih Hafizah, hatinya bergumam kalau ia harus berbagi suami dengan istri pertamanya, sekarang Hafizah menunggu pesanannya datang di ruang tengah duduk manis seraya menonton televisi.


Sementara itu, Biru masuk ke kamar dan melihat Maya sudah berada di kursi roda menatapnya yang berdiri di pintu.


"Kembalikan ponselku!"


"Untuk apa? Sudah malam begini, besok saja!" kata Biru seraya berusaha mendorong kursi roda Maya.


Dan Maya mengangkat tangan kanannya meminta Biru berhenti mendorong kursi rodanya.


"Aku mau ponselku!" ucapnya lagi dengan tegas sementara itu, suara Maya membuat Ifraz terkejut, hatinya sakit seolah menjadi egois untuk anaknya sehingga membuat anaknya itu menangis.


Tetapi Maya yang sedang dilanda kegalauan itu seolah menepiskan rasa kasihannya pada Ifraz. Ya, saat ini Maya tengah mementingkan perasaannya sendiri.


Wanita itu sudah tidak tahan lagi berada di rumah suaminya selama masih ada madunya.


"Cepat! Aku mau ponselku! Apa susahnya kamu memberikan ponselku sedangkan kamu baru saja memerintahkan pekerja untuk mencari eskrim buat wanita itu kan!" Maya sudah tidak dapat lagi berbicara dengan suara lirih.

__ADS_1


"Maya, ini sudah malam, lagi pula apa kamu tidak lelah terus begini? Terus bertengkar dengan ku?" tanya Biru, pria itu berusaha membelai wajah istrinya tetapi tangannya ditampik oleh Maya.


"Jangan sentuh aku!" kata Maya, wanita itu kembali tidak mau menatap wajah suaminya, tidak ingin melihat wajah iba dari suaminya.


"Kalau kamu tidak membuatku terluka aku tidak akan seperti ini! Aku pernah bersabar tapi aku sekarang tidak mau lagi! Cepat, aku minta ponselku!" bentak Maya membuat Biru terpancing emosi dan ingin menampar wanita yang meneriakinya.


"Kenapa? Kenapa berhenti? Mau tampar aku kan, tampar!" kata Maya menantang Biru, melihat air mata turun dari mata indah Maya membuat lelaki itu menurunkan tangannya.


"Aku kira dengan keadaanku begini akan membuat kamu sadar, Mas. Tapi nyatanya tidak, perempuan itu masih di sini, maksud kamu apa? Kamu mau aku akur dengannya? Iya? Biar apa? Biar kamu enak punya istri dua? Begitu?" tanya Maya, hatinya sakit, tercabik-cabik oleh apa yang Biru lakukan.


"Bukan begitu, May!" jawab Biru seraya memijit pelipisnya.


Sementara itu ditengah pertengkaran Maya dan Biru terdengar suara Hafizah yang sedang menonton televisi, terdengar suara tawa Hafizah yang seolah mengejek Maya, tentunya Biru juga merasa risih dengan suara tawa Hafizah di tengah pertengkaran yang sedang terjadi membuat Biru membanting pintu kamar Maya.


Jebret! Namun, Hafizah bukannya mengerti, wanita itu hanya menutup rapat mulutnya tetapi masih mengembungkan pipinya menahan tawa atas kocaknya para komedian yang berakting di layar televisi.


Tentunya, suara pintu itu berhasil membuat Ifraz menangis, menjerit ketakutan dengan segera Maya mengambil bayinya yang terbaring di ranjang. Wanita itu membopong bayinya dengan satu tangan sedangkan tangan satunya menggerakkan rodanya, Maya membawa Ifraz keluar.


"Maya!" teriak Biru saat melihat istrinya keluar dari kamar.


Di sana, Maya menatap tajam pada Hafizah yang sedang menonton televisi. Setelah itu Maya mendorong kursi roda ingin keluar dari rumahnya.


"Andy!" teriaknya lagi.


"Andy lagi beli eskrim, mbak," jawab Hafizah yang masih duduk di sofa ruang tengah.


"Diam kamu!" kata Biru yang kemudian menyusul Maya yang berada di pintu.


"Mau apa kamu cari Andy?"


"Aku mau pergi, aku sudah tidak tahan lagi berada di sini, aku muak sama kamu dan dia!" tunjuk Maya pada Hafizah.


"Maya, aku janji besok dia sudah tidak di sini lagi, jangan seperti ini, May. Ini membahayakan Ifraz!"


"Aku udah enggak percaya sama janji kamu!" ucap Maya penuh penekanan.


"Aku tidak perduli kamu percaya atau tidak!" timpal Biru seraya memaksa mendorong kursi roda Maya sementara itu Maya memukuli kakinya sendiri.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa kamu tidak bisa digerakkan, kamu tau! Aku ingin berlari, ingin lari!" teriak Maya merasa frustasi.


Lalu, Maya merasa kalau kursi roda itu berhenti, Maya mengira kalau itu adalah Biru, tetapi tidak. Itu adalah Gala yang menahan lengan Biru.


Ya, Gala datang tidak sendiri. Pria itu membawanya temannya.


"Aku ke sini mau menjemput kakakku yang sudah disia-siakan oleh suaminya!" kata Gala, mendengar suara adiknya membuat Maya seperti memiliki kekuatan.


Maya mendongakkan kepala melihat pada Gala penuh harapan.


"Gala, bawa mbak pulang, Gala. Mbak udah nggak tahan tinggal di sini lagi!" rengek Maya dan teman Gala mengambil kursi roda dari tangan Biru sementara itu Gala menahan Biru.


"Aku suaminya, aku lebih berhak!" kata Biru seraya mengibaskan tangan Gala dari tangannya.


"Tapi istrimu sudah tidak mau lagi tinggal di sini!" kata Gala seraya menunjuk wajah Biru yang merah padam.


Merasa tidak terima kalau adik iparnya harus ikut campur membuat Biru mendorong pria muda itu.


"Gua enggak cari ribut ke sini! Cuma menjemput kakak gua! Lu yang bilang kalau Maya enggak akan bisa bertemu dengan Ifraz kalau enggak pulang, sekarang kami datang ke sini untuk menjemput Ifraz dan Maya! Impas! Lu licik jangan lupa kalau gua juga bisa licik!" kata Gala. Pria itu mengibaskan tangan Biru dari kerah kemejanya.


Sekarang Maya dan Ifraz sudah berada di mobil dan Bram duduk di bangku kemudi menunggu Gala.


Tidak lama kemudian Gala pun masuk dan duduk di bangku samping Bram.


"Jalan, Bang!" kata Gala.


Pria muda itu merasa lega karena datang tepat waktu, sesekali melirik Maya yang memejamkan mata dengan Ifraz yang sudah berada di pelukannya.


"Mbak, Ifraz menangis," lirih Gala menyadarkan Maya.


****


Biru merasa kesal, pria itu masuk ke kamar Maya dan membanting pintu kamar itu lagi. "Aaaaaaa!" teriak Biru seraya mengacak rambutnya.


Sementara Hafizah, wanita itu hanya mengedikkan bahunya.


"Kalau mereka pisah aku bisa menjadi satu-satunya," gumam Hafizah.

__ADS_1


Bersambung.


Pembaca yang baik, jangan lupa tinggalkan like setelah membaca ya, dukung karya ini dengan cara klik vote/gift nya, terimakasih😇


__ADS_2