Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Aku Memang Bodoh


__ADS_3

Hafizah yang sedang menyiapkan sarapan itu telah menunggu lama, tetapi Biru tak juga datang membuat Hafizah kembali ke kamar untuk memanggil suaminya.


"Mas," lirih Hafizah yang sedang berjalan ke kamar.


Biru mendengar itu tetapi seolah tak mendengar, saat ini otaknya sedang memikirkan apa yang telah dia lakukan selama ini.


"Kenapa? Kenapa aku begitu bodoh!" gumamnya, pria itu menangis seraya menjatuhkan buntelan milik Hafizah ke lantai, tangannya mengusap wajahnya lalu menarik rambutnya sendiri.


Biru terduduk di tepi ranjang.


"Mas," lirih Hafizah yang berdiri di pintu, wanita itu bertanya-tanya mengapa suaminya menangis, lalu Hafizah melihat ke arah buntelan itu tergeletak.


Hafizah menjadi tegang, tetapi wanita itu ingin mengetahui penyebab pasti Biru menangis. Masih menganggap kalau Biru bodoh.


"Mas," lirih Hafizah seraya berjalan perlahan penuh keraguan pada Biru yang sama sekali tak menoleh ke arahnya.


Kembali Hafizah memanggil suaminya dengan suara lirih, wanita itu meraih bahu Biru dan Biru bertanya tanpa melihat kearah Hafizah.


"Maksud kamu apa?" tanya Biru.


"Aku nggak ngerti maksud kamu apa, Mas."


"JANGAN BERBOHONG! AKU PALING TIDAK SUKA DIBOHONGI!" bentak Biru seraya bangun dari duduknya.


Pria itu menatap Hafizah yang terdiam, badannya gemetar karena takut dengan amarah Biru.


"A-aku, nggak ngerti serius," jawab Hafizah terbata, masih berusaha menutupi semuanya walau Biru sudah menemukan bantalan itu.


Hafizah berfikir masih bisa mengelak kalau bantalan itu adalah titipan temannya.


Lalu, Hafizah merasakan kalau tangan Biru sudah mencengkeram mulutnya.


"Katakan dengan jelas!" geram Biru seraya mengeratkan gigi-giginya sampai bunyi bergemelutuk.


"Lepas, aku kesakitan!" rintih Hafizah seraya berusaha melepaskan tangan Biru dari mulutnya.


Biru melepaskan dengan mendorong Hafizah hingga membuat wanita itu jatuh terduduk.


"Aku tanya, sudah berapa bulan kamu hamil?" sergah Biru, pria itu frustasi, mengacak rambutnya kasar.


"A-aku." Hafizah tak dapat menjawab dan sekarang Hafizah berfikir kalau Biru sudah mengetahui semuanya dan tidak dapat lagi untuk dibohongi.


"Jawab!" bentak Biru seraya menyibakkan seluruh benda yang berada di atas meja rias.


"Aaaaa!" teriak Hafizah seraya menutupi wajahnya yang hampir terkena lemparan benda-benda tersebut.

__ADS_1


Hafizah menangis ketakutan, takut dengan amarah Biru dan takut Biru akan meninggalkannya setelah ini.


"Mana, aku mau lihat buku hamil kamu yang selalu kamu tunjukkan padaku waktu itu dan ini, apa ini!" teriak Biru seraya menendang buntelan milik Hafizah.


Melihat itu Hafizah langsung berlutut di kaki Biru, menangis, berharap kalau Biru akan iba padanya.


"Mas, maafin aku!" tangis Hafizah, ia memeluk erat kaki Biru tetapi Biru menendang Hafizah, pria itu sangat membenci kebohongan.


Biru berjalan keluar dari kamar, dia masih berdiri di sana, teringat dengan Maya yang dianggapnya pernah berbohong.


Biru menundukkan kepala, memijit pangkal hidungnya. Lalu Biru kembali masuk ke kamar dan terlihat Hafizah masih dengan posisi yang sama.


"Aku paling tidak suka dibohongi, aku mau kamu pergi dari sini!" ucapnya, setelah mengatakan itu Biru kembali keluar dari kamar dan kali ini Hafizah tidak tinggal diam.


"Mas, bukankah kamu sudah berjanji kalau tidak akan meninggalkan aku, kamu juga berjanji akan selalu memaafkan apapun kesalahanku?"


Biru membalikkan badan dan matanya saling menatap dan Hafizah segera memeluk Biru, berharap pria itu akan menepati janjinya.


Biru melepaskan pelukan itu.


"Dengar, selama ini aku telah bodoh dan kamu adalah kebodohan ku! Kenapa sekarang baru terungkap setelah aku dan Maya bercerai, aku menyesal telah mempertahankan kamu, aku menyesal telah meminta Maya untuk mengerti kamu!" Biru mengatakan itu dengan menangis, dadanya sesak merasa semakin hancur.


"Aku sudah kehilangan semua tetapi ternyata aku dibohongi! Kamu pikir maaf saja cukup!"


"Diam!" bentak Biru.


Tetapi Hafizah tak mau diam, wanita itu mengatakan kalau dirinya sempat keguguran.


"Aku nggak bohong, aku keguguran, aku melakukan ini karena aku takut kehilangan kamu, mas!" teriak Hafizah.


"Aku tidak lagi percaya pada siapapun!" jawab Biru dengan suara tak kalah keras dan Hafizah kembali berusaha memeluk Biru.


"Maafin aku, Mas!" pinta Hafizah.


Lalu, Biru melepaskan pelukan itu, ia pergi meninggalkan Hafizah.


"Kalau kamu tidak mau pergi, biar aku yang pergi!" ucapnya, pria itu kembali ke kamar dan mengemasi barang-barangnya, semua surat penting dan sisa uang yang dimiliki ia bawa.


Hafizah masih mencoba menahan selama dirinya belum mendengar kata cerai dari Biru, wanita itu menahan koper Biru dengan terus memohon untuk tetap tinggal.


"Mas, aku baru saja kehilangan ayah, aku tidak mau kehilangan kamu juga," tangisnya dan Biru yang mendengar itu menjadi ingat saat Bambang meminta pada Biru untuk memaafkan semua kesalahan Hafizah dan ternyata inilah yang di maksud oleh mertuanya.


"Cih!" Biru meludah ke samping Hafizah, merasa sangat kesal karena telah dibodohi.


"Awas kamu!" ucap Biru seraya melepaskan tangan Hafizah dari kopernya secara kasar membuat Hafizah kembali terjatuh.

__ADS_1


Sekarang Hafizah hanya bisa menatap kepergian Biru yang mengendarai mobilnya.


Hafizah menangis seorang diri di sana, meratapi semua yang telah terjadi.


HIKS... HIKS... HIKS...


"Mas!" teriak Hafizah, air matanya tak berhenti mengalir.


Sementara Biru, Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ingin segera pergi ke rumah lamanya.


"Maya, maafkan aku, May. Aku tau aku bodoh, aku sangat menjijikkan! Aku buta, aku tuli! Aku sangat menjengkelkan," batin Biru, pria itu berharap kalau Maya akan memaafkan dan selama perjalanan itu Biru tak berhenti berfikir dan merutuki dirinya yang bodoh.


Biru juga mengingat perlakuan jahatnya pada Maya.


Biru berteriak, menyesal telah menyia-nyiakan Maya, istri yang sempurna.


"Apa kamu mau memaafkan aku, May?" batinnya.


Biru mempercepat laju mobilnya, setelah beberapa jam sekarang Biru sudah sampai di rumah mewahnya berfikir Maya berada di sana.


"Norman!" teriak Biru dari balik pagar dan yang dipanggil pun mendekat ke arahnya.


"Tuan," lirih Norman.


"Buka pagarnya! Aku mau menemui Maya!"


"Maaf, tapi Nyonya dan Tuan Muda sudah tidak lagi tinggal di sini."


Mendengar itu Biru berfikir kalau Maya bersama dengan Gala.


Segera Biru mencarinya ke sana tetapi rumah itu kosong dan Biru berfikir kalau Maya berada di toko Gala.


Biru mengendarai mobilnya ke sana seraya terus mencoba menghubungi Maya tetapi nomornya sudah tidak aktif.


"Ck!" decak Biru, pria itu mencoba untuk sabar dan setibanya di toko Gala, Biru langsung berlutut di kaki Gala yang sedang merapikan dagangannya.


Gala yang terkejut itu melihat ke arah kakinya.


"Lu, ngapain lu!" Gala melepaskan Biru dari kakinya tetapi Biru tak mau melepaskan kaki mantan adik iparnya itu.


"Gal, mas minta maaf!" ucapnya.


"Hah!" Gala seolah menertawakan Biru.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2