Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Rasa Yang Hampir Pudar


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Hafizah mengirim gambar pada Biru kalau dirinya mendapatkan buku KIA dan obat-obatan untuk ibu hamil.


"Semoga anak kamu sehat-sehat terus sampai waktunya lahir nanti," tulis Hafizah, ia tersenyum berharap perlahan Biru akan merasa bersalah pada dirinya.


Sementara itu, Biru sedang ditemani oleh Maya di ruangannya, Maya duduk di sofa dengan membaca majalah dan Biru sesekali melirik ke ponselnya yang berkedip, Biru memasukkan ponsel itu ke dalam saku celananya.


"Aku ke kamar mandi dulu," kata Biru pada Maya dan Maya membalas dengan senyum, menganggukkan kepala lalu kembali ke majalahnya.


Di kamar mandi.


Biru membuka pesan itu dan membalas singkat dengan meng-Aamiinkan doa Hafizah.


Biru juga meminta nomor rekening padanya, pria itu ingin mengirim uang untuk anaknya.


Hafizah membalas, "Nomor rekening aku terblokir, belum sempat ke bank lagi," jawab Hafizah.


"Ok baiklah. Untuk kedepannya jangan pernah hubungi aku ke nomor ini, nanti akan ku kirim nomor ponsel yang baru!"


Setelah berbalas pesan, sekarang Biru menghapus semua apa yang Hafizah kirim, Biru juga memblokir nomor ponsel Hafizah.


"Aku harus cari ponsel baru yang Maya tidak ketahui!" gumam Biru, "maafkan aku, Maya! Karena di sana ada anakku juga," lanjut Biru, lelaki itu membasuh wajahnya setelah itu kembali pada Maya.


"Aku sudah selesai, May. Ayo kita pulang!" ajak Biru, lelaki itu menarik tangan istrinya, keduanya berjalan beriringan dengan bergandengan tangan, berusaha mengembalikan rasa yang hampir pudar.


****


Di dalam kamarnya, Hafizah tersenyum karena akhirnya setelah beberapa hari pria itu tidak membalas pesan dirinya, sekarang pria itu membalas, bahkan menunjukkan rasa perhatiannya.


"Sebenarnya, nomor rekening aku enggak keblokir, aku maunya kamu datang sendiri ke sini, Mas. Nafkahi aku dan anakmu!" gumam Hafizah, wanita itu merasa lebih baik setelah itu.


"Ok, untuk sekarang enggak apa-apa aku periksa ke bidan sendirian, tapi aku yakin suatu saat nanti kamu akan menemaniku kan, Mas?" ucapnya, gadis itu mencium ponselnya lalu meletakkan ponsel itu di atas meja kecil.


****


Sementara itu, Maya dan Biru baru saja sampai di rumah, Maya langsung mencuci tangannya dan menggendong bayinya.


"Anak mamah, udah semakin besar ya, mau tumbuh tinggi ya! Mau sekolah ya!" ucap Maya seraya menciumi anaknya.


Lalu, Biru menimpali.

__ADS_1


"Habislah anak papah di cium mamah, sampai papah enggak kebagian."


Setelah mengatakan itu, Biru meminta untuk menggendong putranya.


"Cuci tangan dulu, Mas!" Maya mengingatkan suaminya.


Mendengar itu, Biru pun segera bergegas untuk mencuci tangannya menggunakan sabun.


"Papah juga kan kangen," kata Biru yang baru saja keluar dari kamar mandi dan Maya memberikan Ifraz pada ayahnya.


"Awas, hati-hati. Dia masih terlalu bayi," ucap Maya, ia memberikan senyum pada suaminya.


"Iya bawel," jawab Biru, "kamu mandi dulu sana!" lanjutnya dan Maya menuruti ucapan suaminya itu.


Biru menimang Ifraz sampai bayi itu tertidur dan setelah Maya keluar dari kamar mandi, Biru langsung bertanya.


"Udah habis masa nifas kamu, May?"


"Sudah," jawab Maya, wanita itu mengerti maksud dari suaminya dan Benar saja, Biru meminta haknya sebagai suami.


Tetapi ada rasa yang kurang di hati keduanya, semua rasa tak lagi sama.


"Kamu lelah atau masih memikirkan dia, Mas?" batin Maya, walau begitu Maya juga tidak menyalahkan suaminya, karena dirinya sendiri pun tidak sepenuhnya ikhlas saat tadi melayani Biru, di hati Maya masih ada luka yang menganga.


Setelah Biru tertidur, Maya pun melepaskan tangan Biru dari pinggangnya. Wanita itu kembali mengenakan piyamanya dan mengecek ponsel Biru.


Di sana, Maya tidak menemukan nama Hafizah atau nomor Hafizah, Maya juga mencari pesan dari Hafizah tetapi dia tidak menemukannya.


"Apa Mas Biru benar-benar sudah memutuskan hubungan dengan wanita itu? Kalau iya, aku akan sangat berdosa pada suamiku!" gumam Maya. Ia kembali meletakkan ponsel itu di tempatnya.


****


Di kafe, Bram menghubungi Gala.


"Nobar nih, ikut nggak?"


"Enggak, gua jaga Bunda, bang," jawab Gala, "Bang, Gala minta maaf ya, kemarin repotin abang dan sekarang kakak gua baikan sama suaminya, bang," lanjut Gala.


"Oh, ya udah enggak apa-apa, bagus dong!" jawab Bram.

__ADS_1


"Iya udah kalau gitu, selamat nobar," kata Gala yang kemudian memutuskan sambungan telepon.


"Sebenarnya Gala enggak suka sama Mas Biru, Gala udah terlanjur kecewa sama dia!" gumam Gala, pria itu pun mendoakan kebahagiaan untuk Maya dan Ifraz.


****


Keesokan harinya, Biru sudah siap dengan pakaian kerjanya.


"Kamu udah siap, Mas? Ini masih pagi loh!" tanya Maya yang baru saja selesai memandikan bayinya.


"Aku kan karyawan teladan, May," jawab pria itu seraya memakai jam tangannya.


"Iya benar, kamu harus kasih contoh yang baik untuk karyawan lain," jawab Maya seraya menstimulasi Ifraz. Lain di hati lain di bibir, rupanya Maya masih mencurigai Biru.


Selesai bersiap, sekarang keduanya pergi untuk sarapan bersama dan seperti biasa Biru mengecup kening Maya dan Ifraz.


"Hati-hati, Mas!" ucap Maya dan Biru tersenyum menganggukkan kepala.


Setelah itu, Maya memanggil Susi untuk menjaga anaknya, sedangkan dirinya ingin mengawasi suaminya, kemana suaminya pergi sepagi ini.


Sayangnya, kecurigaan Maya tidak terbukti, karena Biru benar-benar berada di kantornya.


Sekarang, Maya memutar balik mobilnya, segera pulang dan meminta maaf pada Ifraz, "Sayang, maafin mamah ya. Mamah terlalu sibuk ngawasin papah kamu."


Setelah mengatakan itu Maya menciumi jari-jari mungil bayinya.


Sementara itu, Biru sedang membuat janji dengan karyawannya yang diperintahkan untuk membeli ponsel baru. Ya, ponsel itu khusus untuk berkomunikasi dengan Hafizah.


Biru berdiri di tepi jendela, melihat keramaian ibu kota pagi hari, jalanan sangat padat merayap dan sebenarnya bukan itu yang sedang dipikirkan, lelaki itu memikirkan Hafizah, wanita itu menolak uang pemberiannya.


"Kalau dia hamil dan ngidam bagaimana dia akan bekerja? Bagaimana dengan nasib anakku yang berada di kandungannya?" gumam Biru dan Biru memutuskan akan pergi menemui Hafizah untuk memberikannya uang.


Jam istirahat, Biru keluar dari kantor, tidak lupa Biru melihat ke kanan di kirinya terlebih dulu, setelah merasa aman dan merasa tidak diawasi Biru segera pergi ke parkiran, Biru mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.


Sesampainya di rumah Hafizah, Biru melihat wanita itu sedang mabuk, mengeluarkan isi perutnya.


"Uuueeek!" Suara Hafizah dari kamar mandi. Melihat itu membuat Biru teringat dengan Maya saat hamil, bahkan dengan manjanya Maya selalu minta untuk dijaga oleh Biru dan pemandangan kali ini membuat Biru tersadar kalau Hafizah dan bayinya juga membutuhkan kehadirannya. Namun, Biru memuji Hafizah yang tidak manja dengan meminta untuk selalu ditemani.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2