
Maya meminta pada Biru untuk melepaskan tangannya dari tangan Maya dan Biru pun meminta maaf pada Maya.
"Nggak papa!" kata Maya, setelah itu, Maya memesan taksi dan segera pulang, sesampainya di rumah Maya segera ke kamar dan ternyata Daniel sedang mandi.
Maya menyiapkan baju ganti untuk suaminya dan melihat ponsel Daniel sedang diisi daya baterainya.
Entah mengapa Maya ingin sekali membuka ponsel itu dan benar saja, Maya membuka dan ternyata ponsel itu mati, Maya segera menekan tombol power dan setelah menyala Maya melihat kalau Imelda mengirim pesan dan foto.
Maya merasa terkejut dan berfikir kalau tadi Imelda ada di resto yang sama.
Sekarang Maya kembali mematikan ponsel itu dan memilih untuk santai.
Maya berpura-pura seolah tak melihat foto itu.
Tida lama kemudian Maya melihat Daniel keluar dari kamar mandi. Daniel menyapanya dan Maya pun tersenyum.
Setelah berpakaian, sekarang Maya dan Daniel duduk di tepi ranjang, Maya memijit bahu Daniel seraya mengatakan kalau dirinya tadi tak sengaja bertemu dengan Biru karena Ifraz yang memanggilnya.
"Lalu?" tanya Daniel yang sedang menikmati setiap pijitan Maya.
"Aku lebih baik bilang sama kamu kan, dari pada kamu harus dengar dari luar," kata Maya dan Daniel sangat setuju kalau Maya memang harus jujur.
Setelah itu, Daniel mengajak Maya untuk BOBAR alias bobo bareng.
Maya tidak menolak, ia membersihkan badannya lebih dulu supaya tidak lengket, Maya juga memakai parfum agar suaminya senang.
Tapi, begitu Maya sudah sampai ranjang ternyata Daniel sudah terlelap.
Malam ini BOBAR batal dan Maya hanya menarik nafas.
"Tadi ngajakin tapi malah ditinggal tidur!" ucapnya dalam hati.
Maya pun segera menyusul Daniel ke alam mimpi. Tetapi, setiap Maya memejamkan matanya ada bayangan Biru yang datang mengganggunya.
Maya memilih untuk duduk dan mencoba menenangkan pikirannya.
__ADS_1
Sesekali Maya melihat wajah lelah Daniel yang berada di sisinya.
"Maafkan aku, Mas!" kata Maya dalam hati.
****
Sementara itu, Zenia di apartemen sedang menemani Bram menonton film kesukaannya yaitu genre action.
Selama menonton itu tak ada pembicaraan dan Zenia teringat dengan Ifraz dan Maya, Zenia menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Dalam hati Zenia, ia telah menghancurkan hidup Ifraz dan ingin meluruskan salah paham diantara orang tua Ifraz, berharap Ifraz akan memaafkannya setelah Zenia membantu meluruskan itu.
Bram mematikan televisinya dan menatap Zenia.
"Sejauh ini kamu telah diperalat oleh Marisa, kalau ada yang harus disalahkan itu ya Marisa bukan Maya atau ifraz."
"Aku makin nggak paham maksudnya, om!" jawab Zenia yang menatap Bram.
Bram pun akhirnya menceritakan masalalunya.
"Tapi kan memang harus om yang diurus, harusnya kalau kalian saling mencintai Maya harusnya menunggu om!" protes Zenia dan Bram tersenyum.
"Cintanya masih besar pada mantan suaminya, bahkan sebelum hari akan menikah Maya mengatakannya sendiri kalau dia belum bisa melupakan Biru dan memintaku untuk membantunya melupakan Biru!" jawab Bram terdengar pilu.
"Kok egois, om. Kenapa om mau aja?" Zenia terdengar sewot.
"Namanya cinta, om pikir nanti bisa membuat Maya jatuh cinta dengan om setelah menikah, tapi entahlah sekarang. Mungkin suaminya sekarang udah bisa bikin Maya melupakan masalalunya!" jawab Bram dan sekarang pria itu bangun dari duduknya meninggalkan Zenia yang menatap kepergiannya dan ternyata pembicaraan tadi telah direkamnya.
Zenia berfikir untuk menemui Ifraz esok hari.
"Ternyata berat juga hidup meraka!" kata Zenia dalam hati, sekarang Zenia bangun dari duduknya dan memilih ke kamar dan bersiap untuk tidur.
Benar saja, keesokannya Zenia sudah berdiri di depan pagar rumah Pia, Miko yang melihat keberadaan Zenia itu segera bertanya pada Pia yang sekarang sudah membonceng motornya.
"Dia mantan pacar Ifraz, eh tapi nggak tau ding, mantan atau masih jadi pacar, cuma dia sempat menghilang aja kemaren," kata Pia dan Miko mendengarkan dengan seksama.
__ADS_1
Sekarang, Ifraz yang belum mengetahui keberadaan Zenia itu sedang memarkirkan motornya dan dia melihat Zenia yang sedang menatapnya, Ifraz hampir tak menghiraukannya lalu Zenia berteriak memanggil Ifraz dengan terus mengejar Ifraz, Ifraz merasa tidak tega setelah melihat itu dari spion, Ifraz pun menepikan motornya dan sekarang menunggu Zenia yang masih berlari kecil ke arahnya, sesampainya di samping Ifraz , Zenia masih tersengal dan merasakan kalau perutnya sedikit sakit, Zenia memegangi perut itu dan Ifraz yang masih dingin itu hanya menanyakan keperluan Zenia, tidak lama kemudian Zenia mengeluarkan rekaman yang semalam.
"Lo harus dengerin ini!" kata Zenia dan Ifraz pun merebut ponsel Zenia, pria itu mendengarkan dan merasa kalau itu tidak penting.
Bagi Ifraz sekarang adalah hanya perasaannya yang penting. Tetapi, dalam hati Ifraz merasa kalau hidup Maya terlalu berat dan pikirannya yang menganggap Maya selingkuh itu ternyata tidak benar.
Ifrax merasa sedikit lega karena ibunya tidak sesuai dengan apa yang dituduhkan.
Setelah mendengar itu, Ifraz mengembalikan ponsel Zenia dan segera meninggalkan gadis itu yang menatapnya.
"Ifraz, gue minta maaf!" kata Zenia yang mematung menatap kepergiannya.
Air mata menetes dan sekarang Zenia merasakan kebencian dari Ifraz dan sepertinya Ifraz sudah tidak lagi akan menghiraukan dirinya.
"gue emang pantas sih, pantas di benci!" kata Zenia dan sekarang gadis itu memesan taksi dan segera pulang ke apartemen Bram.
Sesampainya di apartemen, Bram bertanya dari mana Zenia dan Zenia menjawab kalau baru saja ia mencoba meluruskan kesalahpahaman yang telah ia buat dan Bram mengangguk mengangguk mengerti.
Bram juga dapat melihat raut sedih dari Zenia dan sekarang ingin mencoba menghibur Zenia dengan cara menanyakan kabar bayi yang ada di dalam perutnya.
"Hay, bagaiman kabar kamu hari ini? Jangan nakal, ya. Mami kamu sudah cukup sedih!" kata Bram dan tanpa sadar Zenia tertawa dengan tingkah Bram.
"Gitu dong senyum, jangan nangis mulu!" kata Bram dan Zenia pun segera memeluk Bram yang berdiri di depannya.
Zenia menangis di dalam pelukan Bram.
"Sudah, jangan menangis lagi! Pikirkan anak kamu!" kata Bram dan Zenia menganggukkan kepala.
Sementara itu, Ifraz menjadi tidak fokus belajar karena terus memikirkan rekaman itu.
"Aku makin penasaran dengan masalalu mamah yang penuh rahasia!" kata Ifraz dalam hati.
Ifraz ingin menanyakan itu pada Pia, berfikir kalau Pia mengetahui rahasia Biru, setelah kuliah, Ifraz pergi ke toko Pia dan ternyata di sana Pia sedang sendiri.
"Tumben lo sendiri? Mana bucinan lo?" tanya Ifraz yang ikut duduk di samping Pia, gadis yang sedang memangku laptop itu melihat pada Ifraz dan tak menjawab pertanyaan itu.
__ADS_1
Bersambung, semoga Ifraz tau masalalu Maya dan menjadi hangat lagi sama Maya. sekian dulu sampai jumpa di episode selanjutnya. Jangan lupa like setelah membaca ya, teman. Terimakasih sudah membaca, gift/vote dan komennya.