Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Apakah Terungkap?


__ADS_3

Ifraz pergi dari rumah, berlari, menuju ke rumah Pia. Merasa lelah membuat Ifraz melambaikan tangannya pada taksi.


Ifraz mengatakan tujuannya dan sesampainya di sana, Ifraz yang akan membayar itu tak cukup memiliki uang, dompetnya tertinggal di tas, karena itu Ifraz meminta pada satpam untuk membayar taksi itu.


Ifraz berjalan gontai, pria lusuh dengan mata yang sembab itu sekarang sudah berada di depan kamar Pia.


TOK... TOK... TOK...!


Ifraz mengetuk pintu itu dan Pia yang baru saja selesai mandi, masih dengan handuk yang menggulung rambutnya itu membukakan pintu.


Melihat Pia berada di depannya, Ifraz segera memeluk sahabatnya itu.


"Jangan bergerak, biarkan seperti ini sebentar saja!" perintah Ifraz, pria itu kembali menitikkan air mata, sekarang pria itu sudah mengetahui kalau dirinya bukan anak kandung Daniel.


"Faz, lo kenapa?" tanya Pia seraya memegangi lengan Ifraz, gadis mungil itu ikut merasakan kepedihan Ifraz. Yang Pia tau, Ifraz tidak mudah menangis kalau itu tidak menyakiti hati dan perasannya.


Ifraz melepaskan pelukan itu, melangkah kakinya pergi dari sana, tetapi Pia menahan jari-jemari Ifraz.


Ifraz menghentikan langkahnya, pria itu menunduk, merasa malu harus menangis di depan Pia.


"Faz, kita sahabatan, kan?" tanya Pia, gadis itu pun ikut menangis, padahal Pia tidak mengetahui apa yang terjadi pada Ifraz, hanya melihat pria itu menangis saja sudah membuatnya ikut bersedih.


Ifraz melepaskan jari-jemari Pia, pria itu berjongkok, mengusap matanya yang kembali basah.


Pia segera mendekat, gadis itu ikut berjongkok di depan Ifraz, memeluk pria yang menangis tersedu itu.


"Kalau lo nggak mau cerita nggak papa kok, tenangin diri lo dulu!" kata Pia seraya mengusap rambut Ifraz.


Sementara itu, Ifraz menjawab dengan suara bergetar.


"Gue, ditipu sama keluarga sendiri!"


"Mana ada, lo tau kan gimana tante dan om sangat sayang sama lo!" jawab Pia.


"Gue bukan anak kandung mereka dan jawaban kenapa gue berbeda sendiri karena gue anak pungut!" ucap Ifraz dengan nada tinggi, pria itu melepaskan pelukan Pia.


Ifraz memilih duduk di lantai dan Pia menemani pria itu.


"Dari mana lo tau?" tanya Pia.


"Gue juga heran, udah dua kali ini gue nemuin foto-foto lama nyokap gue di tas, pertanyaannya, siapa yang naruh foto itu di tas gue, pasti orang itu ngerti asal-usul gue!" kata Ifraz, ia menatap Pia yang juga ikut duduk di lantai.


"Kita harus cerita ayah, lo tau kan ayah gue gimana orangnya, dia bisa bekerja cepat, pasti dalam sekejap akan langsung ketahuan!" usul Pia.

__ADS_1


"Jangan, gue malu!" kata Ifraz.


Lalu, pria itu mengingat kalau siang tadi hanya Zenia yang tidak ada di kantin saat Pia membagikan makanan gratis.


"Di mana gadis itu?" tanya Ifraz dalam hati.


Setelah itu, Ifraz bangun dari duduknya, merasa harus mencurigai Zen. Ifraz melangkahkan kakinya, meninggalkan Pia yang masih menatapnya.


"Faz, kemana?" tanya Pia yang sudah ikut berdiri.


"Pergi," jawab Ifraz singkat, pria itu sekarang menuruni tangga dan sesampainya di lantai bawah, Ifraz kembali naik, ternyata Pia masih berdiri di tempatnya.


"Kenapa? Nggak jadi?" tanya Pia, gadis yang masih menggunakan kaos tanpa lengan dan celana pendek itu bersedekap dada.


"Pi, gue pinjam uang dulu, punya gue ketinggalan di tas," kata Ifraz. Pria itu baru sadar kalau Pia berpenampilan sangat seksi.


"Ok, tunggu di sini!" perintah Pia, gadis itu pergi masuk ke kamar untuk mengambil dolar, setelah itu kembali ke tempat Ifraz berdiri.


"Pi, yang gue mau rupiah!" kata Ifraz, "Mau buat bayar taksi!" lanjut Ifraz membuat Pia harus kembali ke kamarnya.


"Ok, lo tunggu sebentar!"


Tidak menunggu lama, Pia kembali dan memberikan uang satu juta rupiah pada Ifraz.


"Faz," lirih Pia dan Ifraz yang baru berbalik badan itu kembali melihat Pia.


"Santai aja!" kata Pia, gadis itu tersenyum dan senyumnya mendamaikan hati Ifraz.


Ifraz menganggukkan kepala, setelah itu pergi meninggalkan rumah Omah kandungnya.


Di rumah Daniel, pria itu baru saja kembali, betapa terkejutnya ia saat melihat kamarnya masih berantakan, Daniel mengira kalau itu adalah perbuatan Maya.


"Apa yang terjadi?" tanya Daniel yang masih berdiri di pintu dengan tangan yang menenteng tasnya.


Pikirannya langsung mengarah pada Ran, berfikir kalau Maya mengamuk setelah bertemu dengan lelaki itu.


Maya yang sedang duduk di ranjang itu melihat kearah suaminya berdiri.


Lalu, Maya berdiri dari duduknya, teringat, kalau ia harus menyambut suaminya.


"Katakan, apa yang terjadi?" tanya Daniel yang menolak memberikan tas kerjanya pada Maya.


Sedangkan Maya semakin menangis.

__ADS_1


Wanita itu berjongkok di depan suaminya.


"Ifraz, Ifraz mengamuk lagi dan kali ini aku tidak mengetahui apa penyebabnya!" jawab Maya tak terdengar jelas karena ia menjawab dengan menangis, tetapi, walau begitu Daniel mengerti apa yang Maya katakan.


Daniel meletakkan tas kerjanya di lantai, menyandar ke pintu, ia memegang dua lengan Maya.


"Lihat aku!" perintah Daniel dan Maya pun melihat wajah Daniel yang terlihat sangat lelah.


Setelah itu, Daniel mengusap air mata Maya. "Sekarang di mana Ifraz?"


Maya menjawab dengan menggelengkan kepala.


Daniel pun segera membawa Maya untuk berdiri, pria itu menuntun Maya kembali duduk di ranjang, Maya memperhatikan Daniel yang sedang mencoba menghubungi Ifraz.


"Nggak di angkat!" kata Daniel, sekarang, pria itu meletakkan ponselnya di atas nakas.


"Aku khawatir sama dia, kemana dia pergi dan apa yang membuat dia marah?" kata Maya, wanita itu mengusap wajahnya dan merapikan rambutnya.


Sementara Ifraz, pria itu sudah sampai di rumah Marisa, ia segera menekan bel, meminta satpam untuk membuka pagar rumah itu.


Tidak menunggu lama, seorang satpam datang untuk membukakan pagar itu dan Ifraz mengucapkan terimakasih.


Ifraz meminta pada satpam untuk memanggilkan Zen, pria itu tidak bisa menghubunginya karena tidak membawa ponsel.


"Baik," kata satpam dan benar saja, satpam menghubungi asisten rumah tangga, mengatakan kalau ada yang mencari Nona Zen.


Tidak menunggu lama, sekarang, Zen membukakan pintu untuk Ifraz.


"Ifraz, ayo masuk!" kata Zenia dan Ifraz pun masuk, sekarang kedua anak muda itu sudah duduk di sofa ruang tamu.


"Ada apa? Kenapa lo lusuh gini?" tanya Zenia seraya memperhatikan Ifraz dari ujung kaki sampai kepala.


"Gue mau tanya, tapi lo jawab jujur!"


"Tanya apa?" tanya Zenia, gadis itu sebenarnya sudah mengetahui apa yang akan ifraz tanyakan, tapi memilih seolah tak mengerti.


"Lo kenal kan sama cowok yang ada di foto ini?" tanya Ifraz seraya menunjukkan foto yang sedari tadi ada di saku celananya.


"I-iya, tapi...," jawab Zenia menggantung ujung kalimatnya.


Bersambung.


Jangan lupa like, komen dan di favorit, kan! Terimakasih bagi yang sudah membaca, like, komen dan hadiahnya 🥰

__ADS_1


__ADS_2