
Sementara Bram, pria itu datang dengan membawa kabar baik.
"Assalamu'alaikum," seru Bram seraya berlari kecil masuk ke rumah Maya.
Bram melihat ruang tamu yang berantakan karena ulah Ifraz dan Pia.
"Waalaikumsalam," jawab Biru yang sedang mengawasi dua anak kecil itu dan Bram seolah tidak memperdulikan Biru, padahal hatinya bertanya-tanya, mengapa Biru ada di rumah Maya.
Pria itu masuk ke dalam mencari-cari Maya dan melihat Maya yang sedang menyiapkan makan sore untuk anak-anak. Bram mengagetkan Maya dari belakang dengan cara memeluknya.
"Astaga, bikin kaget aja!" gerutu Maya seraya melepaskan tangan Bram dari pinggangnya dan memukul dada Bram, kebersamaan Bram dan Maya dilihat oleh Biru dari pintu dapur.
Merasa tak kuat melihat kedekatan Bram dan Maya membuat Biru untuk kembali ke depan bersama dengan anak-anak.
"Apa mereka pacaran?" gumam Biru dalam hati.
Tidak lama kemudian Maya keluar bersama dengan Bram yang berada di belakangnya, Maya memberikan satu mangkuk makanan untuk Pia, tidak lupa memberikan air minum.
Dengan telaten Biru menyuapi Pia dan Maya menyuapi Ifraz, sedangkan Bram duduk dengan menyilangkan kaki, memperhatikan Maya lalu Bram mengangkat Ifraz, membawanya duduk di pangkuannya.
"Kangen nggak sama Daddy?" tanya Bram seolah sengaja supaya Biru mendengarnya.
Sementara Biru, lelaki itu tidak lagi mengandalkan otot, sekarang lebih memilih untuk bersabar karena tidak ingin kehilangan Maya untuk kedua kalinya.
Selesai dengan makan sore, Biru mengajak Pia pulang, tepatnya ke rumah Murni untuk menanyakan asal usul Pia.
Sebelum pulang, Biru meminta izin untuk menggendong Ifraz lebih dulu, setelah mendapatkan izin sekarang Biru mengambil Ifraz dari Bram.
"Om, pulang dulu, nanti kapan-kapan om datang lagi!" kata Biru yang kemudian menciumi wajah Ifraz.
****
Setelah kepergian Biru, Bram bertanya sesuatu pada Maya.
"Maya, lu balikan sama Biru?"
"Enggak, kenapa?" tanya Maya seraya melepas baju Ifraz yang kotor terkena makanan.
"Oh, syukurlah!" ucap Bram seraya mengusap dadanya.
Mendengar itu Maya mengerutkan alisnya. Menatap heran pada Bram.
"Maya, gua diterima kerja, memang gua sebagai karyawan biasa, tetapi InsyaAllah cukup untuk menafkahi keluarga kecil gua!"
"Keluarga kecil! Kamu udah nikah Bram? Kenapa nggak bilang sama aku?"
"Kan lu sama Ifraz keluarga kecil gua!" kata Bram seraya menarik turunkan alisnya.
"Astaga, aku nanya serius juga!" gerutu Maya seraya melempar baju bekas Ifraz pada Bram.
Setelah itu, Maya membawa Ifraz masuk ke kamar dan Bram mengikuti di belakangnya.
__ADS_1
"May,' lirih Bram.
"Kenapa?'' tanya Maya, wanita itu berhenti di pintu dan melarang Bram masuk ke kamarnya.
"Nikah, yuk!'' ajak Bram, pria itu tersenyum kuda pada Maya.
"Kamu ngajak nikah kaya ngajak beli baju, Bram!'' jawab Maya, wanita itu merasa berdebar saat menatap wajah Bram.
"Nggak biasanya aku deg-degan gini!'' gumam Maya dalam hati.
"Gua serius, May. Gua mau nikah sama lu!"
"Kamu tunggu di luar sana!" kata Maya dan segera Maya menutup pintu kamarnya.
"May!'' rengek Bram dari balik pintu.
****
Di rumah Murni, Pia yang masih mengenali Murni itu memanggil 'Oma'.
"Ada apa? Tumben kamu pulang?" tanya murni seraya mengambil Pia dari genggaman Biru.
"Kalian sudah saling mengenal?" tanya Biru dan Murni menjawab dengan tersenyum.
"Tega sekali mamah memisahkan anak ini dengan ibunya!'' lanjut BIru.
"Siapa yang memisahkan, mamah hanya membantu anak ini mendapatkan orang tua baru setelah orang tuanya meninggal."
"Jadi maksud mamah anak ini tidak punya orang tua?"
****
Hari sudah malam. Sekarang Ayana dan DIlan sedang berada di rumah Maya.
Maya menceritakan kalau Bram mengajaknya menikah.
"Uhuk!" Dilan terbatuk mendengar itu.
"Ngga salah kamu, May!" timpal DIlan.
"Kenapa? Lagian Bram juga bercanda aja, aku rasa!" jawab Maya seraya memainkan ponselnya.
"Kaya nggak ada lelaki lain aja!" protes Dilan. Ketiganya sedang duduk bersama di ruang tamu dan Ifraz sudah tertidur di kamarnya.
"Emang kenapa sama Bram?" tanya Ayana yang tak mengetahui apapun tentang Bram.
"Kamu nggak tau, Ay!"
"Makanya kasih tau dong!" protes Ayana pada Dilan.
"Lagian itu kan masa lalu Bram, sekarang dia udah berubah kok. Dia juga kerja keras sekarang!" timpal Maya.
__ADS_1
"kalian bahas apa sih, kok aku nggak tau apa-apa!" timpal Ayana yang masih merasa penasaran.
"Kamu tau Bram?" tanya Dilan, menatap tajam Ayana.
"Iya, cowok ganteng itu kan?"
"Ganteng aja kamu pikirin!" kata Dilan seraya melempar bantal sofa pada Ayana.
"Bram itu cowok bayaran!" lanjut Dilan dan ucapan Dilan didengar oleh Gala yang baru saja pulang bekerja. Gala yang masih berdiri di pintu itu tidak percaya dengan ucapan Dilan.
"Jangan ngada-ngada, lu! Bisa fitnah kalau ucapan lu nggak bener, kak!" kata Gala, pria itu tidak menerima, teman baik yang sudah dianggapnya sebagai abang itu dijelek-jelekkan.
Maya hanya menggelengkan kepala.
"Benar may yang Dilan bilang?" tanya Ayana yang masih penasaran.
"Benar dan itu masalalunya! Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan bukan? Sekarang Bram sudah berubah, dia lelaki baik!" kata Maya seraya bangun dari duduknya. Maya meninggalkan semua orang yang menatapnya.
Gala kembali keluar dari rumah, pria itu pergi ke apartemen Bram.
Di sana, Gala mempertanyakan semua kebenarannya dan tanpa menutupi kebenarannya, Bram menjawab semua dengan benar.
Seketika Gala seolah menjaga jarak dengan Bram.
"Gua nggak nyangka." Setelah mengatakan itu Gala pergi meninggalkan Bram di apartemennya.
"Gila, bisa-bisanya gua minta dia buat jagain kakak gua!" batin Gala seraya mengendarai motornya.
Sesampainya di rumah, Gala meminta pada Maya untuk menghindari Bram.
"Kenapa? Apa karena masalalunya?"
"Ya jelas lah, Mbak! Masa keponakan aku punya ayah sambung seperti dia!" kata gala seraya meninggalkan Maya, pria itu masuk ke kamarnya.
"Memangnya kenapa dengan seseorang yang pernah melakukan dosa? Seharusnya kita menuntun dia supaya kembali ke jalan yang benar. Bukan menjauhinya!" kata Maya.
"Gua nggak setuju!" jawab Gala dari kamarnya.
****
Satu minggu berlalu, Maya sama sekali tak menghiraukan ucapan semua orang yang meminta pada dirinya untuk menjauh dari Bram.
Sekarang, maya sedang berada di mall bersama dengan Biru, keduanya sama-sama mengawasi anak-anak bermain mandi bola.
"May, kenapa kamu nggak nikah lagi?" tanya Biru yang sedang duduk bersebelahan dengan maya.
"Kenapa? kamu sendiri belum menikah lagi? Kemana wanita yang dulu kamu banggakan itu!"
"Jangan bahas dia!" kata Biru, "May," lirih biru seraya menatap Maya.
"Hm," jawab Maya seraya menatap Biru.
__ADS_1
"Kita rujuk, May! Selain demi anak-anak, aku juga masih mencintai kamu!" batin Biru.
Bersambung.