Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Maafkan Aku!


__ADS_3

Daniel menahan perasaannya, setelah cukup lama, Biru meminta izin pada Maya untuk mengajak Ifraz jalan-jalan, tetapi Maya tidak mengizinkan karena baru saja Ifraz jalan-jalan bersama Daniel, Maya takut Ifraz akan kelelahan.


"Lain waktu saja, ya!" kata Maya dan Biru dengan terpaksa mengiyakan apa yang Maya katakan, Biru juga memperhatikan wajah Maya yang memerah.


"Pipi kamu kenapa? Suami kamu KDRT?"


"Enggak, ini bukan apa-apa!" jawab Maya.


Biru menarik nafas dalam, lalu,


Biru melihat jam di tangannya, ternyata hari hampir maghrib, ia pamit pada Maya dan Ifraz, setelah kepergian Biru Maya membawa Ifraz masuk ke kamar, ternyata Daniel tertidur dengan masih menggunakan sepatunya.


"Ayah kamu kelelahan, sayang!" kata Maya pada Ifraz.


Dalam sepinya, Maya memikirkan apa yang terjadi pada Bram, mengapa bisa sampai berada di rumah sakit.


Maya mencoba menghubungi Bram tetapi panggilannya itu diabaikan.


"Kamu marah sama aku, Bram? Sampai tidak mau menerima panggilan dari aku?" gumam Maya dalam hati.


Ia, Merasa sesak, ingin mencari keberadaan Bram tetapi tidak tega harus menyakiti Daniel dengan mencari keberadaan pria lain.


Maya hanya bisa memendam rasa.


Maya memilih untuk menyiapkan makan malam, ia ingin mencari kesibukan, sekarang Ifraz ia dudukkan di kursi bayi, sedangkan Maya memotong sayuran dengan sesekali menyeka air matanya dan ternyata Daniel melihat itu dari belakang.


"Aku harus bisa mendapatkan hatinya," batin Daniel, pria itu berjalan mendekati Maya, ia memeluk Maya dari belakang membuat Maya sangat terkejut, takut Daniel akan mengetahui kalau Maya sedang memikirkan pria lain.


"Kamu kenapa?" tanya Daniel setelah melihat wajah sembab Maya.


"Aku memotong bawang, perih!" jawab Maya berbohong.


"Aku tau kamu berbohong!" kata Daniel dalam hati.


"Lepaskan! Kita pesan makanan saja!" perintah Daniel seraya mengambil pisau yang ada di tangan Maya.


****


Di rumah sakit, Bram yang memejamkan mata itu selalu mendengar tangis Marisa, juga mendengar obrolan Marisa dan temannya yang mengatakan kalau Maya telah menikah dengan pria lain, Bram seolah menolak untuk membuka mata setelah cahaya dalam hatinya kembali meredup.


Marisa melihat Bram menitikkan air mata, segera Marisa menghapus air mata itu.


"Bram, lu harus bangun!" kata Marisa seraya mengusap air mata itu, tetapi Bram tidak juga membuka mata.


****


Malam ini, Daniel duduk di teras dengan ditemani rokok yang diapitnya, ia tidak berhenti memikirkan Maya.

__ADS_1


"Apa aku jahat, kalau aku mempertahankan kamu, May?" batinnya seraya menghisap rokok itu.


"Hah!" desah Daniel.


Pria itu melihat jam di layar ponselnya, terlihat sudah pukul 23.00 wib.


Daniel memutuskan untuk masuk dan ternyata anak, istrinya sudah tertidur.


"Aku akan menunggu kamu, semampuku!" kata Daniel, Daniel pun menyusul naik ke ranjang, bahkan sampai saat ini Daniel belum mendapatkan haknya sebagai suami.


Daniel menarik selimut dan menyelimuti Maya, sebenarnya Maya hanya berpura-pura. Ia merasakan itu dan menangis.


Merasa bersalah pada semua orang.


Daniel melihat tubuh istrinya bergetar, ia membalikkan tubuh Maya menjadi menghadap dirinya.


"Kenapa? Katakan! Jangan memendamnya sendirian!" kata Daniel seraya mengusap air mata yang terus mengalir dari mata Maya.


Maya hanya menganggukkan kepala, merasa tidak seharusnya bercerita.


"Maafkan aku, Dan!" kata Maya dengan mata yang terpejam.


"Maaf untuk apa?"


"Aku masih memikirkannya," lirih Maya dan ia kembali menangis.


"Tidak apa, kalau kamu ingin berpisah dariku, aku siap!"


Sedangkan Daniel, pria itu merasa bodoh telah menikahi Maya, ia hanya merasa memiliki raganya, bahkan raganya pun belum terjamah olehnya.


"Katakan, apa yang kamu inginkan, aku tidak tega melihat kamu tersiksa seperti ini," kata Daniel seraya mengusap rambut Maya.


"Aku mau kita sama-sama saling mempertahankan tali pernikahan ini, aku mau kamu bersabar atas rasaku," lirih Maya.


"Iya, aku akan melakukannya," jawab Daniel, pria itu memejamkan matanya, merasakan cinta itu yang tak pernah memudar.


"Maafkan aku, Dan. Aku sangat egois!" lirih Maya.


"Tidak apa, aku mengerti perasaan kamu," jawab Daniel.


"May, bolehkah aku memanggilmu 'sayang'?" tanya Daniel dan Maya pun menganggukkan kepala.


"Aku sayang kamu, May. cup!" Daniel mengungkapkan rasa dan tidak tertinggal kecupan itu di kening Maya.


****


Biru tidak dapat memejamkan matanya, ia yang merasa haus itu keluar dari kamar.

__ADS_1


Biru yang sekarang memilih untuk tinggal bersama dengan Murni, di rumah Murni. Ia berjalan melewati kamar ibunya, Biru membuka pintu kamar Murni yang ternyata tidak terkunci.


Biru melihat ibunya masih duduk di sofa, sedang melihat album lamanya.


"Mah, mamah belum tidur?" tanya Biru yang berdiri di pintu.


"Belum!" jawab Murni seraya menutup album itu.


Biru mendekat dan ikut duduk di samping Murni. Ia dapat melihat, ternyata ibunya sedang melihat album pernikahannya dulu.


"Maafin Biru, Mah. Biru tidak dapat menjaga amanah mamah," kata Biru, pria itu memeluk ibunya.


"Semua sudah berlalu, seandainya waktu masih bisa kembali, mamah ingin menghabisi wanita yang merusak rumah tangga anakku!" kata Murni seraya mengusap air matanya.


"Itu pelajaran berharga untukku dan ternyata aku sangat bodoh!" jawab Biru, pria itu mengusap ujung matanya yang sudah berair.


****


Bram membuka matanya, saat dirinya mengingat kecelakaan itu, ia menghindari seseorang yang jatuh di depannya, Bram yang reflek itu membanting setir supaya tidak menabrak pengendara yang berada di depannya, sehingga ia harus tertabrak mobil yang berada di belakangnya.


Namun, Bram yang membuka mata itu belum menunjukkan tanda-tanda ia sudah sadar dari komanya.


Marisa yang melihat itu segera memanggil dokter.


Berharap Bram yang membuka mata itu segera bangun.


Tetapi Marisa kembali menangis, karena Bram hanya membuka mata, tidak mau bangun. Sekarang, Bram sudah memejamkan matanya kembali.


****


Hari-hari Maya lalui dengan tetap menjadi istri yang baik demi Daniel.


Sekarang, Maya kedatangan tamu, tamu itu adalah Imelda.


"Ibu, silahkan masuk," kata Maya yang baru saja membuka pintu.


"Saya tidak lama-lama di sini, saya cuma mau bilang, tolong jangan sakiti lagi anakku!" kata Imelda.


Maya hanya terdiam. Ia mengerti perasaan Imelda yang mengkhawatirkan anaknya.


Dua tahun berlalu, sekarang, Biru sedang berdiri menabur bunga di atas makam Murni yang sudah satu tahun pergi meninggalkannya.


"Mah, mamah yang tenang di sana, Biru baik-baik saja, Biru akan menjalani hari yang baik bersama Pia," ucap Biru.


Pria itu menundukkan kepala, setelah berdoa untuk Murni sekarang Biru memilih untuk pulang.


Di perjalanan, ia teringat dengan Ifraz, sekarang dia sudah berusia empat tahun, Biru meminta izin pada Maya untuk membawa Ifraz jalan-jalan, tetapi Maya tidak mengizinkan.

__ADS_1


"Mas, aku minta tolong sama kamu, berhentilah menemui kami!" pinta Maya, bak tersambar petir di siang bolong, Biru hanya bisa terdiam.


Bersambung.


__ADS_2