Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Merasa Di Tipu!


__ADS_3

"Tapi apa?'' tanya Ifraz, pria itu dibuat penasaran oleh Zenia.


"Sebenarnya gue yang naruh foto ini di tas lo, buat petunjuk karena tante gue punya banyak foto kaya gini!" lirih Zenia.


"Maksud lo apa, Zen?" tanya Ifraz yang semakin penasaran.


"Sebenarnya tante gue kenal sama orang tua lo!"


"Lo ingat yang pas gue di tampar sama tante?'' tanya Zenia, gadis itu beringsut, duduk menatap Ifraz.


"Tolong jangan berbelit, Zen!" ucap Ifraz.


"Yang gue tau Daniel bukan bokap lo, selebihnya lo tanya aja sama tante Maya! Dia tau semuanya!" jawab Zen dan Ifraz pun bangun dari duduknya, ia pergi tanpa permisi tanpa permisi dan Ifraz merasa pernah melihat lelaki yang ada di foto tersebut.


"Kaya pernah liat, tapi di mana ya?'' gumam Ifraz dalam hati. Sekarang pria itu sedang menunggu taksi di tepi jalan.


"Sudah lah, lebih baik gue pulang dulu, Mamah hutang penjelasan sama gue!" batin Ifraz.


Setelah kepergian Ifraz, sekarang Zenia menghubungi Marisa.


"Halo, Tan. Dia sudah masuk!" kata Zenia dari sambungan teleponnya.


Setelah mengatakan itu Zenia langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Marisa yang sedang menemani Bram dan Brandon itu tersenyum membuat bram bertanya.


"Lu kenapa, Kak?'' tanya Bram yang duduk di kursi rodanya. Pria melihat ke arah Marisa.


"Nggak papa, maaf, aku pamit!" kata Marisa yang meninggalkan meja makan dan Brandon memanggilnya.


"Ica!"


Marisa melihat ke pemilik suara itu, ia menatap Brandon dan merasa kalau ayahnya sudah kembali.


"ya, Dad," jawab Marisa, wanita berwajah tirus menatap Brandon.


"Terimakasih, atas kerja keras mu!" kata Brandon dan Marisa pun tersenyum.


Setelah itu Marisa pergi dari kediaman ayahnya.


Ia pulang ke rumah dan segera menemui Zen, lagi, Marisa memberikan uang yang sangat banyak bagi Zen.


"Terimakasih, Tan!" ucap Zenia, gadis itu tersenyum dan malam ini ia mengeluarkan uang-uangnya dari dalam tas, menghamburkan uang itu di ranjang.


"Inikah rasanya mandi uang!" batin Zen, ia menciumi uangnya.

__ADS_1


Sementara Ifraz, ia merasa sakit hati karena Maya menyembunyikan kebenarannya tentang siapa dia sebenarnya.


Sekarang, Ifraz duduk bersama dengan Maya dan Daniel. semua orang diam, hanyut dalam pikirannya masing-masing.


Lalu, Ifraz mulai mengeluarkan foto dari saku celananya.


"Siapa lelaki ini?" tanya Ifraz.


Maya dan Daniel saling menatap, lalu Daniel bangun dari duduknya, ia mengambil foto itu dari tangan anaknya.


Daniel memperhatikan foto itu. "Bram!" jawab daniel dengan suara lirih.


"Dia ayah ku?" tanya Ifraz.


Maya merasa tidak tahan dan sekarang ia sudah tau siapa yang mengusik rumah tangganya, Maya berfikir itu adalah Bram.


"Bram. Aku nggak nyangka kalau kamu dendam sama aku!" batin Maya.


Maya mengambil foto itu dari tangan Daniel lalu merobek-robeknya.


"Dia bukan ayah kamu!" ucap Maya.


"Mah, tapi paras aku lebih mirip sama dia dari pada sama papah, mamah tolong jangan sembunyikan apa-apa lagi Ifraz. Ifraz berhak tau siapa orang tua Ifraz, atau jangan-jangan mamah juga bukan mamah aku?"


"Sudah, hentikan. Kalian pasti lapar belum makan dari siang, kan. Sekarang kita dinginkan kepala, supaya lebih enak saat ngobrol!" kata Danil seraya menarik lengan Maya keluar dari ruang kerja itu.


Sementara Ifraz, pria tampan yang bermata sembab itu masih berdiri di tempatnya, menatap Maya dan Daniel.


"Kenapa kalian menutupi ini dari aku?" tanya Ifraz yang berhasil membuat Maya dan Daniel menghentikan langkahnya.


"Ifraz, dengarkan mamah, pria itu bukan ayah kamu!" ucap maya dengan memelas. Berharap Ifraz akan mempercayainya, sayangnya, Ifraz merasa berat untuk percaya pada Maya.


"Jangan bohong, katakan, ceritakan apa yang tidak aku tau!" kata Ifraz, pria itu menatap tajam pada Maya dan membuat Daniel merasa tidak tahan lagi saat wanitanya ditatap seprti itu oleh anaknya sendiri.


"Jangan menatap seperti itu pada ibumu, ibu yang sudah susah payah melahirkan kamu!" ucap Daniel dan Ifraz menerobos Maya dan Daniel yang berdiri di pintu, ia keluar tanpa mengatakan apapun lagi.


"Kalau mereka tidak memberi tahu, aku akan mencari tau sendiri!" kata Ifraz, pria itu masuk ke kamar dan mengambil jaketnya, memilih keluar dari rumah Maya.


"Dan, tolong jangan biarkan dia pergi dalam keadaan marah!" kata Maya yang meminta pada Daniel untuk menghentikan Ifraz.


Daniel mengejar Ifraz, ia menahan lengan Ifraz dan Ifraz mengibaskan tangan itu.


"Lepaskan. Kalian penipu!" kata Ifraz.


"Kami bukan penipu! Kami orang tua kamu!" jawab daniel. Pria itu berusaha meyakinkan anaknya.

__ADS_1


"Apa namanya kalau bukan penipu! Buku nikah kalian palsu, akta lahirku juga palsu!" jawab Ifraz dan sekarang pria itu benar-benar pergi dari mengendarai motornya, entah kemana tujuannya, Ifraz akan membiarkan langkah yang membawanya.


"Dia sudah dewasa, May. Sudah tidak bisa kita bohongi lagi," kata Daniel dalam hati.


Pria masuk untuk mengambil kunci mobil dan mengajak Maya untuk mencari Ifraz.


"Mah, sebenarnya ada apa?" tanya Kania yang duduk di sebelah Maya, keduanya duduk di sofa ruang tengah.


"Kamu di rumah aja, sama bibi!" kata Daniel dan Kania pun menurut.


Sementara itu, Daniel mencari ke rumah Biru, berfikir kalau Biru mengetahui dimana Ifraz.


Biru yang sedang merayakan ulang tahun itu kedatangan tamu tak diundang.


"Kalian, ada apa?" tanya Biru yang berdiri di pintu. Pria itu memakai topi kerucut ala-ala pesta ulang tahun. Di susul oleh Pia yang merasa penasaran karena Biru tak juga segera kembali.


"Ayah," lirih Pia dan maya seketika mengenali Pia.


"Dinara, kamu sudah besar, nak!" kata Maya dan Maya membelai lembut pipi Dinara.


"Apa, dia kenal sama aku!" ucap Dinara dalam hati.


"Masuk!" ucap Biru pada Pia dan Pia menurut.


Pia masuk dan berfikir keras, sebenarnya ada apa.


Pia yang sedang berjalan ke ruang tengah itu melihat ruangan kerja Biru yang terbuka, Pia merasa kalau ini adalah kesempatannya masuk ke ruangan itu.


Sementara itu, Daniel sedang bertanya di mana Ifraz.


"Mungkin di rumah kekasihnya!" jawab Biru.


"Mengapa dia tau lebih banyak dari aku!" batin Maya, wanita itu bersedekap dada, tak mau melihat Biru.


Setelah itu, Daniel permisi dan ingin mencari tau siapa kekasih Ifraz.


"Kalian cari saja dia rumah Marisa!" kata Biru, Daniel melihat ke arahnya dan tidak asing dengan nama Marisa.


"Kamu tau di mana alamat rumah mereka?" tanya Daniel dan Maya menggelengkan kepala.


Melihat itu, Biru memberikan alamat rumah Marisa dan di mana Bram tinggal.


"Kalian bisa mencarinya ke sini!" kata Biru, pria itu menuliskan alamat itu di ponselnya dan Daniel segera memotret itu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2