Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Merasa Bersalah!


__ADS_3

Pia merasa khawatir pada Ifraz yang tanpa kabar, sesekali menatap bangku kosong milik Ifraz.


Tidak lama kemudian bel berbunyi, bel pulang sekolah.


Pia tidak bersemangat dan memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dengan lemas.


Setelah itu Pia keluar dari kelas dan ia mengabaikan Zenia yang sekarang sudah memilik teman baru, ya, Pia menganggap kalau Zen adalah tipe teman yang mudah melupakan teman lama, padahal bukan itu maksud Zen, Zen yang merasa kalau Pia menjauh semenjak Zen jadian dengan Ifraz itu memutuskan untuk menjauh dari Pia, ia tidak ingin melukai hati orang-orang yang perlahan sudah masuk ke dalam hatinya.


Zen berfikir, setidaknya ia tidak harus melukai hati sahabatnya itu lebih jauh lagi.


pia memutuskan untuk pulang ke rumah, sesampainya di sana, Pia melihat kalau rumah sangat sepi, Pia berfikir untuk masuk ke ruang kerja ayahnya, tetapi ruangan itu terkunci.


****


Di kantor, Biru berfikir harus bisa membuat Ifraz kembali ke keluarganya, begitu juga dengan semester yang semakin dekat, menambah kekhawatiran Biru, ia taku Ifraz tidak mau sekolah lagi karena masalah ini belum juga terselesaikan.


Sekarang Ifraz berada di rumah Marisa, merasa kalau Zenia adalah satu-satunya tempat untuk ia pulang.


Zenia yang baru saja tiba itu melihat Ifraz duduk menunggu dirinya di taman samping rumah.


"Faz, kenapa lo nggak sekolah. Ingat apapun masalah yang sedang lo hadapi lo harus tetap sekolah, lo nggak boleh hancur, lo harus kuat, Faz!" kata Zen yang sudah ikut duduk di bangku ayunan.


Ifraz memeluk Zenia, mengecup pelipisnya. Ia tersenyum dan saat ini hanya ucapan Zenia yang Ifraz dengar.


Ifraz menganggukkan kepala dan berjanji besok akan masuk sekolah.


Sekarang, Ifraz meminta pada Zenia untuk mengantarnya pulang mengambil barang-barang miliknya.


Zenia tidak menolak, ia mengantar Ifraz tetapi tidak turun dari mobil, gadis cantik itu menunggu di dalam mobil.


Sementara Ifraz, pria yang sedang dipenuhi amarah itu tak menghiraukan Maya yang menahannya.


Pria itu tak menatap sama sekali wajah Maya, ia melepaskan tangan Maya yang menahan tasnya.


"Lepas, aku tidak mau lagi tinggal bersama penipu!" kata Ifraz dan maya melepaskan tangannya.

__ADS_1


"Ifraz, mamah hanya menjalankan kewajiban sebagai seorang menantu dan istri. Bukan maksud menjadi penipu!" teriak Maya, ia merasa frustasi dan teriakannya itu di dengar oleh Kania.


Kania merasa sedih melihat Maya seperti itu, bahkan Maya terlihat sangat acak-acakan. Sekarang Maya kembali ke kamar, membanting pintu kamar itu.


Yang ada di fikirannya saat ini adalah Biru, tetapi wanita itu menahannya, tidak menghubungi Biru untuk sekedar bercerita.


Maya menangis, duduk di ranjang.


"Aku selalu menuruti kalian, supaya kalian bahagia dan mempercayai aku dan sekarang ini yang aku dapatkan," ucapnya dalam hati.


"Kurang apa lagi setelah semua pengorbananku, aku mengabdikan hidupku selama ini untuk suami dan keluargaku." Maya semakin menangis saat teringat semua pengorbanannya, ia sangat setia dan tidak pernah menemui Biru setelah hari itu dan kemarin adalah pertemuannya untuk yang pertama setelah 14 tahun silam.


Maya merasa kalau hanya Biru yang mengerti dirinya dan perasaannya, tetapi sudah memutuskan akan menjalani rumah tangga dengan Daniel walau sulit, buktinya 14 tahun telah berlalu, ia dapat bertahan dan menjalani semua dengan baik.


****


Di kamar Kania, anak kecil itu menghubungi Daniel, mengatakan kalau Maya dan Ifraz kembali bertengkar dan sekarang Ifraz keluar dari rumah dengan membawa barang-barangnya.


Daniel menutup telepon itu setelah mendengar apa yang sedang terjadi.


Daniel merasa bertanggung jawab atas masalah ini, pria itu bangun dari duduknya, ia memutusakan untuk menemui Ifraz.


Daniel menanyakan pada Kania dengan siapa Ifraz pergi dan Kania menjawab dengan pacar barunya.


Di sini Daniel sadar kalau diirnya tak begitu mengenal anak-anaknya karena Daniel sama sekali tidak mengetahui siapa pacar Ifraz.


Sekarang Daniel menghubungi Biru bertanya siapa pacar Ifraz dan Biru mengatakan kalau pacarnya adalah Zenia, keponakan angkat Marisa.


Setelah mendapat jawaban, Daniel memutuskan sambungan teleponnya, tidak lupa berterimakasih pada Biru.


"Sudah kuduga kalau dia mengetahui semua tentang Ifraz, ayah macam apa aku ini, anakku tinggal bersamaku tetapi aku tidak tau apa-apa tentang asmaranya!" ucap Daniel dalam hati, pria itu sekarang sudah berada di parkiran, membuka pintu mobilnya.


Selama perjalanan Daniel hanya fokus pada Ifraz dan Maya, tak tega melihat Maya yang terus menangis dan juga tidak tega pada Ifraz.


"Sepandai-pandainya menyembunyikan rahasia akhirnya terbongkar juga!" kata Daniel, pria itu menatap lurus ke depan, menyetir dengan santai supaya tetap selamat.

__ADS_1


setelah beberapa menit, sekarang Daniel sudah sampai di depan rumah Marisa, pria itu meminta pada satpam yang sedang berjaga untuk membuka pintu tetapi Daniel ditolak oleh mereka.


"Saya datang kemari untuk menjemput anak saya, ada hal penting yang harus kami bicarakan!" kata Daniel dan tetap saja satpam itu menolak dan sekarang mengusir Daniel dari rumahnya.


Daniel menarik nafas, ia kembali ke mobilnya dan menatap balkon rumah Marisa, di sana ada Ifraz dan Zenia yang sedang menatapnya.


"Astaga, kalian jahat sekali, bermain menggunakan anak-anak!" batin Daniel, setelah itu Daniel masuk ke mobil dan mulai meninggalkan rumah Marisa.


Ia memilih untuk pulang dan melihat keadaan istrinya. Ia kembali mengingat janjinya dengan Maya yang mengatakan kau ia akan tetap bertahan dengan Maya dan menjaga tali pernikahannya apapun yang terjadi.


Sesampainya di rumah, Daniel melihat aya yang sedang mengganti seprei ranjangnya.


daniel memanggilnya dan Maya melihat ke arah pintu, setelah itu daniel masuk dan tidak lupa menutup pintu itu.


"Iya, ada apa, Mas?" tanya Maya, ia mencium punggung tangan daniel dan sekarang Daniel membawa maya ke pelukannya.


"Maafkan aku, aku akan membuat semua keadaan kembali normal, jangan bersedih!" ucap Daniel dan maya pun menganggukkan kepala.


"Aku mandi dulu!" kata Daniel dan maya pun hanya menjawab dengan menganggukkan kepala, setelah itu Maya mengambilkan pakaian ganti untuk suaminya.


****


Di rumah Biru, lelaki itu baru saja kembali bekerja dan sekarang meminta Pia untuk masuk ke ruang kerjanya, tentunya Biru menutup lukisan besar yang ada di dalam ruangan itu lebih dulu.


Ini adalah pertama kalinya bagi Pia dan lukisan yang tertutup itulah yang menarik perhatian Pia.


Pia bertanya, "Itu apa, Ayah? Kenapa harus di tutupi!"


"Duduklah!" perintah Biru dan Pia pun menurut.


"Ayah akan menceritakan semua tentang kamu dan rasa penasaran kamu tapi tidak sekarang, Ayah mau kamu harus tetap fokus belajar dan ingat, semester sudah dekat, kamu harus mendapatkan nilai bagus!" kata Biru dan Pia semakin penasaran.


Bersambung.


Yuk jangan lupa di like setelah membaca juga di favoritkan, ya! Sampai jumpa di episode selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2