Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Hidup Dalam Khayalan!


__ADS_3

Keluarga Maya sedang menikmati hidangan yang sudah tersaji, Berbeda dengan Biru dan Pia, mereka, sebelumya sudah makan terlebih dulu di restoran sebelum tiba di villa.


Sekarang, Biru memilih untuk tidur.


****


Di perjalanan, Marisa menuntut Zen untuk bertindak lebih jauh lagi.


"Tapi, Tan. Selama ini Zen tidak pernah lebih dari sekedar kiss," jawab Zen, gadis itu mulai tertekan karena Marisa menyuruhnya untuk tidur bersama Ifraz.


"Kenapa? Kamu sudah saya bayar mahal, apa kamu akan berhenti di tengah jalan? Bayangkan, berapa banyak lagi uang yang akan kamu terima!"


Zen memikirkan itu, uang adalah segalanya bagi Zen. Si gadis miskin yang mendewakan uang.


"Tan, sebenarnya, mungkin dengan rencana Zen akan berhasil, tapi Tante harus bantu Zen, kita harus bekerjasama, melihat dia tipe pria polos, pasti akan mudah kita kelabui!"


"Apa rencanamu?" tanya Marisa dan Zen pun mulai berbisik.


"Ok, kita coba!" kalau tidak berhasil uang tidak akan kamu terima!"


"Kalau berhasil?" tanya Zen seraya menatap Marisa.


"Akan ku lipat gandakan, tiga kali lebih banyak!" jawab Marisa, wanita itu seolah menantang Zenia.


"Nggak nyangka sih, anak seumuran dia aja udah bisa licik!" batin Marisa, "Bram, bersabarlah, semua rasa sakit mu akan terbayarkan!" Marisa masih membatin.


Sedangkan Bram, pria itu masih duduk di kursi roda, tidak mau bangun atau belajar berjalan. Merasa hidup tapi mati.


Pria itu tak pernah keluar dari rumah Brandon, hanya sesekali melihat jalanan yang ramai dari balkon kamarnya.


Seperti saat ini, pria itu menatap kosong pada jendela kamarnya.


Selalu terngiang jelas di telinganya saat Maya mengatakan kalau dirinya sudah menikah dengan pria lain.


Bahkan Maya melakukan itu di saat dirinya tidak sadarkan diri.


"Aaaaaaaa!" teriak Bram, lelaki itu tidak dapat menerima kenyataan pahit dalam hidupnya.


Sesekali Bram berfikir kalau ini adalah hukuman atas perbuatannya di masa lalu.


Mendengar suara teriakan Bram, membuat suster yang merawat Bram segera datang dan menangkan Bram.


****


Sore telah menjemput, sekarang Maya sedang berada di ruang keluarga, ruangan yang berada di lantai atas, terlihat Maya sedang bergurau, bergabung dengan anak-anak, sedangkan Daniel, pria tinggi itu sedang menelepon seseorang, membahas perihal bisnis.

__ADS_1


Selesai dengan itu, Daniel duduk di sofa yang berada di tepi jendela, tetapi masih dapat melihat kebersamaan keluarganya, ya, walau berlibur Daniel sesekali mengecek pekerjaannya. Pria itu membuka laptop.


Daniel merasa senang, semua anggota keluarganya tertawa. Daniel pun ikut tersenyum, setelah itu kembali ke laptopnya.


****


Biru dan Pia bangun dari tidurnya, sekarang mereka sudah siap dan rapih, bersiap untuk jalan-jalan di sore hari.


Udaranya sangat dingin, tetapi Pia tidak membawa jaket dan sekarang, Pia bersama Biru mencari jaket di salah satu toko yang berada di tepi jalan.


Keduanya berjalan, bergandengan dan Biru kembali berkhayal kalau ada Maya dan Ifraz yang ikut bersamanya.


Maya dan Ifraz berjalan di depannya dan Biru memperhatikan itu, lalu Biru tersadar dengan khayalannya itu saat Pia menarik lengan Biru, membawanya ke sebuah toko.


Selesai dengan itu, sekarang Pia dan Biru mecari wahana, Pia meminta naik bebek air bersama dengan Biru dan Biru menurutinya, ingin Pianya bahagia dan tidak merengek meminta ibu lagi.


Padahal, Pia dan Karen sedang merencanakan sesuatu.


Sekarang, Pia dan Biru selesai dengan wahana itu, tanpa Biru tau Karena dan tante yang akan dicomlangkan dengan Biru sudah berada di tempat yang sama.


Pia yang sedang digandeng oleh Biru itu segera melepaskan tangannya saat harus menerima panggilan vidio call dari Karen.


"Pia, gue udah sampai di tempat yang lo bilang!" kata Karen dan Karen dapat melihat wajah tampan Biru yang sedang berjalan beriringan dengan Pia.


"Kondisikan itu iler lo!" ucap Pia, setelah itu menyudahi panggilan vcall tersebut.


****


Sementara keluarga Maya, mereka sedang bersiap untuk barbeque di halaman belakang villa, Maya dan Daniel yang sedang menyiapkan peralatannya sedangkan Ifraz dan Pia sedang menyiapkan apa yang ingin mereka panggang mala ini.


"Sayang, bagaimana kalau kita nambah adik buat Ifraz?" goda Daniel pada Maya yang sedang menyalakan kompor panggang.


"Dua anak cukup, Mas!" jawab Maya, ia membiarkan Daniel terus memeluknya dari belakang.


"Ken, kalau kita punya adik mau?" tanya Ifraz yang sedang menusuk sosis menggunakan tusukan sate.


"Enggak, gue udah enak jadi anak bontot!" jawab Kania.


"Tapi gimana, itu mesra mulu!" kata Ifraz seraya mengangkat dagunya menunjukkan kemesraan orang tuanya.


"Emang kalau kaya gitu bisa bikin hamil ya, bang?" tanya Kania, menatap penuh tanya pada Ifraz.


"Ngaco, masih kecil nggak usah tau prosesnya, tau jadinya aja udah!" jawab Ifraz seraya meraupkan tangannya di wajah Kania.


"Abang, berminyak, ih!" gerutu Pia seraya mengusap wajahnya menggunakan tisu.

__ADS_1


Baru saja Kania ingin membalas Ifraz sudah terdengar suara Maya yang memanggil Ifraz.


"Wleeee!" Ifraz mengulurkan lidahnya pada Kania.


"Awas lo, Bang. Dendam belum berakhir!" kata Kania dan Ifraz tidak menghiraukan, pria muda itu segera mendekat pada Maya.


"Iya, Mah. Kenapa?" tanya Ifraz yang sudah berada di samping Maya.


"Mamah lupa, tadi belum ada mayones di dalam, tolong belikan ya, ingat langsung kembali!" perintah Maya seraya memberikan uang pada Ifraz.


"Ok," jawab Ifraz, pria ceria itu menerima uangnya.


Sekarang, Ifraz berjalan keluar lewat samping villanya dan baru saja Ifraz membuka pagar itu sudah terlihat Zenia yang terlihat bingung.


"Zen?" Ifraz memanggilnya.


Zenia melihat kearah Ifraz.


"Sayang, akhirnya gue ketemu sama orang yang gue kenal!" jawab Zenia, gadis berambut panjang itu segera berhambur memeluk Ifraz.


"Kenapa? Kok lo bisa ada di sini?" tanya Ifraz seraya mengusap punggung Zen.


"Gue tadi sama tante, tapi gue terpisah! Sayang, tolong anterin gue balik ke villa tante, mau, ya!" rengek Zenia.


"Ya udah, ayo kita cari tante!" jawab Ifraz, ia lupa kalau harus membeli mayones.


Setelah itu, Ifraz mengeluarkan motornya yang berada garasi.


Zenia membonceng dengan memeluk Ifraz dari belakang membuat Ifraz merasakan benda kenyal dan hangat yang menempel di punggungnya.


"Astaga! Zen. Lo terlalu berani banget!" kata Ifraz dalam hati. Pria itu sedang mencoba menahan hasratnya, tetapi tetap saja, ada yang bangun di bawah sana.


"Astaga, mana bangun lagi! Ingat Ifraz, lo masih suci, inget kata papah tadi siang!" kata hati Ifraz dan Zenia sekarang menjatuhkan dagunya di bahu Ifraz membuat hati pria itu semakin dag-dig-dug berada sangat dekat dengan lawan jenisnya.


Mencoba mengalihkan perhatian, Ifraz bertanya pada Zenia.


"Zen, lo masih ingat kan jalan ke villa tante lo?"


"Gue sedikit lupa, tapi bentar, biar gue ingat-ingat!" jawab Zen.


Bersambung.


Jangan lupa klik like, komen dan bintang limanya, supaya tidak tertinggal updatenya yuk di favoritkan.


Terimakasih sudah membaca 🤗

__ADS_1


__ADS_2