
Zenia bersembunyi di lengan Bram, mereka berjalan melewati Marisa yang terdiam, tak percaya semua meninggalkannya setelah merasa apa yang dilakukannya itu benar.
Marisa merasa sesak, dadanya berat dan sekarang wanita berambut pendek itu mengusap dadanya.
"Dendam gua sama keluarga Maya belum selesai, Bram!" batin Marisa, ia menjadi semakin membenci wanita itu. Wanita yang hampir tak pernah bahagia dalam urusan cintanya.
Sementara Bram dan Zenia sudah menuju bandara, mereka akan kembali ke Indonesia dan Bram menguatkan Zenia, meminta untuk tidak melakukan hal bodoh lagi.
"Ingat, ada Om. Kamu tidak boleh merasa sendiri!" kata Bram dan Zenia menganggukkan kepala.
Tanpa sadar Zenia menyenderkan kepalanya di lengan kekar Bram, tidak lama kemudian, sekarang taksi yang ditumpangi itu sudah sampai di bandara dan tiket memang sudah di sediakan dari awal.
****
Di Jakarta, Pia baru saja selesai kelas, ia berjalan ke parkiran dan rupanya di kampus itu banyak yang menyukainya, tetapi Pia belum membuka hati untuk siapapun, gadis ayu itu masih memiliki satu nama di hati yaitu Ifraz.
"Pia!" seru seorang pria dari belakang, pria itu adalah Miko, salah satu mahasiswa yang mengejar Pia.
Pia melihat ke belakang, tersenyum dan senyumnya itu membuat Miko semakin tergila-gila, sayangnya, Pia hanya menganggap semua sebagai teman.
Miko berlari kecil, ia ingin menawarkan tumpangan untuk Pia.
"Gue mandiri, bisa pulang pergi sendiri!" jawab Pia seraya menunjukkan kunci mobilnya.
"Biar gue jadi sopirnya!" kata Miko yang masih terengah-engah karena berlari.
"Nggak usah, gue nggak mau ngerepotin orang, lagian lo kan ada bawa kendaraan sendiri, nanti lo repot bolak-balik, kan kasian!" kata Pia dan Miko tak dapat memaksa, pria tampan itu menggaruk tengkuknya.
"Gue duluan, ya. Pay!" kata Pia seraya melambaikan tangan dan Miko membalasnya.
"Susah bener dideketin!" kata Miko seraya menatap kepergian Pia.
Pia yang baru saja masuk ke mobil itu segera memarkirkan dan perlahan meninggalkan area kampus. Pia kembali ke toko dan akan pulang lewat dari pukul 20.00 wib.
Sementara Ifraz, ia sepulang kuliah sudah harus stay di kantor Biru untuk belajar bisnis. Di sana Biru mengajari semua dan tentunya Biru mengambil kesempatan ini supaya bisa kembali dekat.
Biru menjelaskan semua yang mengapa dirinya tak memberitahu apapun pada Ifraz, bahkan sampai sekarang Ifraz memanggilnya om.
"Ifraz, dengar kan Ayah. Ayah melakukan semua ini karena tidak lagi ingin mengingkari janji sama mamah kamu!" kata Biru seraya melirik Ifraz yang sedang mempelajari berkas duduk di sofa depan meja kerja Biru.
Ifraz sama sekali tak menanggapi Biru, tetapi dia masih mendengarkan, Ifraz menjadi penasaran dengan Biru yang mengatakan mengingkari janji, mulai penasaran juga apa yang membuatnya berpisah dengan Maya.
__ADS_1
Tetapi, Ifraz merasa sungkan untuk bertanya, ia masih belum mempercayai siapapun setelah semua yang terjadi dalam hidupnya, ditambah lagi satu-satunya yang di percaya telah pergi meninggalkannya membuat ia semakin keras seperti batu.
Ifraz melihat jam di tangannya, jam kerja sudah selesai dan pria itu bangun dari duduknya, membereskan berkas itu dan meletakkannya di meja Biru.
Ifraz pergi tanpa permisi dan Biru seperti melihat dirinya di masa lalu saat merasa Murni mengekangnya, sekarang Biru sadar kalau semua yang dilakukan oleh Murni adalah yang terbaik untuknya.
****
Bram membawa Zenia ke apartemen miliknya dulu, di sana, Zenia duduk di kamar tamu, merenung dan tak ingin keluar dari kamar.
"Zen, kamu harus makan. Anak yang ada di kandungan kamu butuh makan!" kata Bram yang berdiri di pintu.
Zenia menarik nafas dan sekarang bangun dari duduknya, ia berjalan ke meja makan, di sana sudah tersedia aneka makanan sehat untuk ibu hamil.
Bram yang berdiri di samping Zenia itu juga mengatakan kalau dirinya akan membelikan susu ibu hamil.
Zenia tak kuat lagi menahan air mata karena kebaikan Bram, sekarang Zenia memeluk Bram yang ada di sampingnya.
Bram mengusap lembut rambut Zenia.
****
Di toko, Pia baru saja membelikan makan malam untuk tiga karyawan tokonya.
Setelah itu Pia yang merasa kurang sehat pulang lebih awal, sesampainya di rumah Pia langsung pergi untuk mandi dan segera ke meja makan dan ternyata sudah ada Biru dan Ifraz.
"Sayang, tumben kamu sudah pulang?" tanya Biru dan Pia tersenyum.
"Iya, Pia ingin istirahat, Yah," jawab Pia seraya menarik kursi dan ikut makan malam bersama.
Semua makan tanpa ada suara, selesai makan Pia langsung masuk ke kamar dan meminum obat demam yang selalu ia sediakan.
****
Di dalam kamar, Ifraz sedang duduk di sofa panjang, menatap foto Zenia, gadis yang ia rindukan dan tak ia ketahui keberadaannya.
"Jalan*g!" ucap Ifraz pada foto Zenia.
Setelah itu, Ifraz meletakkan ponselnya ke sofa, ia berjalan dan sekarang berdiri di tepi jendela.
Ia merasa penasaran dan ingin tau tentang orang tuanya.
__ADS_1
"Apa mamah selingkuh sama papah? Buktinya sampai sekarang Om Biru masih sendiri!" gumam Ifraz seraya menatap langit.
****
Di rumah Daniel. Imelda sedang merengut, ia merasa tidak terima kalau Ifraz harus tinggal di rumah Biru.
"Kenapa, Mah?" tanya Daniel yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.
"Seperti yang mamah khawatirkan," jawab Imelda, dia bersedekap dada tak mau menatap anaknya, sedangkan Maya, wanita itu hanya diam saja.
Setelah lama tak bersuara, sekarang Maya pamit untuk ke kamar lebih dulu, di kamar, Maya yang memikirkan Ifraz itu ingin menanyakan kabar anaknya, tetapi ia tahan, tidak ingin menghubungi Biru, lalu, Maya berfikir akan meminta nomor ponsel Pia.
Sementara itu, di ruang keluarga, Imelda mengatakan kalau ini adalah akal-akalan Maya supaya dapat bertukar kabar dengan Biru.
Mendengar itu, Daniel merasa jengah, mau sampai kapan lah Imelda terus mencurigai Maya.
Daniel pun membela Maya.
"Mah, sudah belasan tahun, Maya setia, Daniel minta mamah berhenti mencurigai Maya."
Setelah mengatakan itu, Daniel pun bangun dari duduknya, ia ke kamar dan melihat Maya sedang menatap layar ponselnya.
"Kenapa? Kamu kangen sama dia? Hubungi, lah!" kata Daniel seraya mengusap dua lengan Maya dari belakang.
Maya melihat ke arah suaminya.
"Nggak mau angkat telepon dan membalas pesan!" jawab Maya.
"Kalau begitu hubungi Biru!" perintah Daniel, pria itu ikut duduk di sebelah Maya.
Maya menatap suaminya yang meminta Maya untuk menghubungi mantan suaminya.
Maya tersenyum lalu meletakkan ponselnya di atas nakas.
"Sudah malam, ayo kita istirahat!" kata Maya dan Daniel pun naik ke ranjang, tidur dengan Daniel memeluk Maya, sekarang, Daniel tak meminta lagi Maya untuk mengatakan kata cinta.
Pembuktian Maya selama ini sudah cukup, pikirnya.
Bersambung.
Yuk kak, jangan lupa like, gift, komen dan di favoritkan, ya!
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca^^