
Malam ini, Biru duduk sendirian di atas mobilnya, ia sedang berada di pantai.
Memeluk lututnya. Memikirkan yang sudah berlalu.
"Di mana kamu, May! Aku janji tidak akan mengganggumu setelah mendapatkan maaf dari mu!" lirih hatinya Biru.
Pria itu yang merasa kedinginan memilih untuk masuk ke mobil, tidak tau harus pergi kemana sekarang memejamkan mata.
****
Maya baru saja menimang bayinya, setelah tertidur sekarang Maya meletakkan bayinya ke ranjang.
"Selamat tidur sayang," ucap Maya, setelah itu mengecup seluruh wajah mungil anaknya tanpa sisa.
Maya memilih untuk mengistirahatkan badannya dengan duduk bersantai di sofa samping bawah jendela kamar itu.
Mengambil ponselnya dan membuka sosial medianya, tidak ada yang menarik perhatiannya di sana membuat Maya teringat dengan Biru. Wanita itu menatap nomor ponsel Biru.
"Aku tidak boleh, ya tidak boleh mengganggu kehidupan barunya, biar dia bahagia dengan pilihannya, aku hanya bisa membantu doa yang terbaik untuk dia!" gumam Maya, setelah itu Maya menyimpan kembali ponselnya memilih untuk membuat minuman hangat di dapur.
Kepala pelayan yang mengetahui itu melarang Maya untuk membuatnya sendiri.
"Maaf, Nyonya, apapun yang Nyonya inginkan katakan saja, kami akan menyiapkannya!"
"Tidak apa, aku bosan tidak melakukan apapun!" jawab Maya, wanita itu tersenyum pada kepala pelayan yang usianya lebih dewasa dirinya.
****
Keesokannya, Biru mendatangi rumah Dilan.
Dilan yang sedang menyiram tanaman itu segera meletakkan selang yang dipegangnya, membetulkan ikat rambutnya Dilan berjalan mendekati Biru yang berdiri di pintu pagar.
"Ada apa?" tanya Dilan seraya mengusap tangannya yang basah.
"Di mana Maya?" tanya Biru, pria itu tidak berbasa-basi lagi.
"Emang gue emaknya, kok lo tanya gue!"
"Kamu temannya, teman dekatnya, pasti tau di mana Maya!"
"Maaf, kalau pun gue tau gue nggak bisa kasih tau!" jawab Dilan seraya mengedikkan bahu.
Hhmmmm. Biru menarik nafas dalam seraya menggelengkan kepala.
Setelah itu pergi meninggalkan Dilan tanpa permisi.
"Kenapa tuh orang, lemes amat!" gumam Dilan, "emang kemana Maya? Kok aku nggak tau!" lanjutnya.
__ADS_1
Setelah itu, Dilan menghubungi Ayana.
"Ay, kamu tau nggak soal Maya?"
"Enggak, kenapa?"
"Tadi suaminya nyari-nyari ke sini, apa Maya kabur?" tanya Dilan, gadis bercelana pendek itu masuk ke rumahnya, duduk manis di sofa ruang tengah.
"Masa sih? Coba entar aku hubungi Maya," setelah mengatakan itu, Ayana memutus sambungan telepon itu.
Ayana mencoba menghubungi Maya dan nomornya sudah tidak aktif.
Ayana segera mengirim pesan pada Dilan yanga mengatakan kalau nomor ponsel Maya tidak aktif.
"Pasti ada apa-apa, kenapa Maya nggak bilang sama kita!" protes Dilan ada Ayana.
"Entah, nanti siang kamu sibuk nggak, kita cari Maya!" ajak Ayana.
"Enggak sibuk, aku ikut aja!" jawab Dilan.
****
Ketika cinta itu terbagi, semua rasa tak lagi sama. Seperti yang Maya dan Biru rasakan, tetapi saat ini Biru sangat menyesal dan begitu menyadari betapa berharganya Maya.
"Apakah kamu masih bisa memaafkan aku seperti dulu, May. Aku dulu sangat menyebalkan tetapi kamu selalu memaafkan, kamu bilang karena kamu adalah istriku," tangis Biru, pria itu menyantap nasi uduknya dengan berlinang air mata.
"Aku rindu kamu, May!" batin Biru, pria itu tak sanggup lagi untuk mengunyah makanan yang baru saja ia suapkan ke mulutnya.
"Aaaaaa!" teriak Biru seraya menjatuhkan kepalanya di setir kemudi.
Biru menyesal karena dulu tidak mengindahkan permintaan Maya. Sekarang Biru menyadari kalau seharusnya dirinya yang mengerti Maya bukan Maya yang harusnya mengerti Biru dan Hafizah.
"Aku memang bodoh!" tangis Biru.
Bukan hanya Biru yang menangis, tetapi Hafizah juga menangis, wanita itu menangis sendirian di rumah pemberian mantan suaminya itu.
"Ayah, maafkan Afi!" lirih Hafizah yang sedang berdiri di tepi jendela, wanita itu menghapus air matanya dan wajahnya terlihat pucat tidak seceria seperti biasanya.
Hafizah masih merindukan Biru, hatinya selalu memanggil namanya.
"Mas," lirih Hafizah seraya menundukkan kepala, dadanya terasa sesak.
Hafizah yang lemah itu memilih untuk berbaring di ranjang.
Wanita itu mengirim pesan pada Biru yang mengatakan kalau dirinya sedang sakit tetapi Biru tak membalas pesan itu.
****
__ADS_1
Biru yang sedang menangis itu merasakan ponselnya bergetar dan melihat ada pesan masuk, Biru berdecak saat melihat pesan itu tanpa membaca Biru langsung menghapus pesan tersebut dan segera memblokir nomor Hafizah.
Setelah itu, Biru ingin mencari tempat tinggal karena tidak mungkin baginya untuk terus menerus tidur di mobilnya.
Biru pergi ke ATM terlebih dulu, ingin menarik uang dan ternyata ATMnya sudah terblokir.
"Astaga, Mamah!" gerutu Biru, lelaki itu menggelengkan kepala.
"Tersisa villa dan mobil ini! Aku harus menjual salah satunya untuk tetap bertahan hidup!" ucapnya, pria itu keluar dari ATM dan segera pergi menjual mobilnya.
Setelah mendapatkan uang Biru mencari rumah kos-kosan dengan biaya murah. Tetapi Biru merasa kalau kos-kosan itu masih terlalu mahal baginya.
"Sebulan satu juta lima ratus, iya kalau aku dapat kerjaan dengan gaji yang lumayan. Kalau enggak, bisa habis sia-sia uang ku. Lalu Biru menggunakan uangnya sebagian untuk membeli motor bekas.
Sekarang Biru mencari rumah kontrakan dan Biru mendapatkannya.
" Ya ampun, ternyata begini rasanya jadi orang susah!" gumam Biru dalam hati saat melihat kontrakan yang sudah usang dan harganya lumayan murah yaitu satu juta perbulan.
Biru menarik nafas dalam. Membawa kopernya masuk ke rumah itu dan saat itu juga Biru teringat dengan ucapannya pada Hafizah dulu saat pertama kali menikahinya.
"Aku tidak bisa berada lama-lama di rumah ini! Sangat sempit dan engap!"
Biru melemparkan kopernya begitu saja lalu mengisi daya baterai ponselnya dan ternyata token listriknya habis.
Biru pergi untuk mengisi token dan membeli alas tidur.
****
Sementara Bram. Pria itu sedang menyajikan pesanan pelanggan dan ternyata pelanggannya itu mengenalinya.
"Bram," lirih tamu restoran tersebut, tamu itu adalah mantan pelanggan Bram yang sempat mencari-cari keberadaannya.
Bram hanya diam saja, pria itu meninggalkan meja tersebut tetapi wanita itu tidak mau diacuhkan, ia meraih lengan Bram.
"Kenapa lu kerja kaya gini? Kalau lu butuh uang bilang aja, gua bisa bantu!"
Bram hanya tersenyum mendengar kata uang karena yang ada di kepalanya saat ini sudah bukan lagi uang di atas segala-galanya.
"Maaf, bisa lepaskan tangan anda!"
"Oops! Maaf tampan, ini nomor ponsel gua, kalau lu butuh hubungi aja!" kata wanita itu seraya memberikan kartu namanya dan Bram menerima itu.
"Baik!" jawab Bram, pria itu meninggalkan wanita tersebut yang masih terus memperhatikan dengan terus tersenyum.
Lalu, Bram melihat ke arahnya, sebelum masuk ke pantry. Bram membuang kartu nama itu di tempat sampah dan Bram tersenyum saat melihat wajah datar wanita itu.
Bersambung.
__ADS_1
Aku rajin update nih, kalian juga harus rajin like ya 😌😌 komen dan dukungannya. Terimakasih 🤗