
Sekarang, keluarga kecil Hafizah sedang menikmati makan sore mereka bersama di meja makan.
"Ayah, kita harus ke rumah sakit, Biru lihat ayah semakin kurus, kalau ke rumah sakit kan nanti bisa dapat pengobatan menyeluruh. Bisa tau apa penyakitnya," usul Biru.
"Nggak usah, nak. Mungkin ini faktor umur juga, ayah baik-baik saja. Cuma satu pinta ayah. Tolong kamu jaga anak ayah baik-baik, kalau ayah sudah nggak ada tolong maafkan semua salah Afi!" jawab Bambang, pria itu terlihat sangat murung dan Hafizah menginjak kaki Bambang supaya tidak kebablasan dalam bicara.
"Ayah tidak nafsu makan, ayah pamit ke kamar dulu!" kata Bambang yang kemudian bangun dari duduknya.
Biru pun membantu Bambang untuk berdiri karena lelaki itu terlihat semakin tak berdaya, bagaimana tidak, pria tua yang mengenakan sarung itu sangat tertekan oleh anaknya sendiri.
"Terimakasih, ayah bisa sendiri!" kata Bambang seraya melepaskan tangan Biru.
Setelah itu, Biru dan Hafizah melanjutkan makan sore itu.
"Mas," lirih Hafizah.
"Hmm," jawab Biru, pria itu menatap lembut Hafizah yang berada di depannya.
"Yang ayah katakan, apa kamu akan selalu ada buat aku? Apa kamu akan memaafkan setiap kesalahan aku?"
"Iya, kamu tenang saja, seperti kamu menerima aku begitu juga dengan aku menerima kamu apa adanya."
Hafizah tersenyum mendengar itu dan berharap semoga Biru segera mendapatkan pekerjaan supaya tidak tinggal serumah lagi, wanita itu takut ketahuan apabila Biru terus menerus berada di rumah.
"Kenapa bengong? Cepat habisin makannya!" kata Biru dan Hafizah menganggukkan kepala, tersenyum manis pada Biru.
Selesai dengan makan, Hafizah membereskan semua perabotan kotor itu, mencuci piring di wastafel dan Biru sama sekali tidak melepaskan Hafizah, pria itu memeluknya dari belakang dan Biru selalu melakukan itu dulu dengan Maya sebelum dirinya bertemu Hafizah.
"Mas, aku mau naruh piring dulu," lirih Hafizah dan Biru yang sedang membayangkan Maya itu salah memanggil nama istri yang berada di di pelukannya itu.
"May, jalan tinggal jalan!" ucap Biru dan seketika Hafizah terdiam saat Biru salah memanggil namanya.
Hafizah meletakkan piring yang berada di tangannya dengan sedikit kasar membuat Biru sedikit terkejut.
"Kenapa?"
"Kenapa? Kamu masih tanya kenapa? Wanita itu sudah pergi meninggalkan kamu, kenapa kamu masih memanggil namanya?"
__ADS_1
"Kapan, aku tidak memanggil namanya!"
"Nggak usah bohong kamu, aku belum tuli ya, Mas!" ucap Hafizah seraya melepaskan tangan Biru dari pinggangnya.
Sekarang Hafizah meninggalkan Biru yang menatap kepergiannya.
"Memangnya tadi aku salah memanggil?" tanyanya pada diri sendiri. Biru pun segera mengejar Hafizah lalu Biru mendengar suara Hafizah yang menjerit memanggil ayahnya.
"Ayah!" jeritnya seraya menggerakkan bahu Bambang yang sudah tak bernyawa.
"Afi, ada apa?" tanya Biru yang baru masuk kamar Bambang.
"Aku mau mengingatkan ayah untuk meminum obat tetapi ayah tidak bergerak," tangis Hafizah, wanita itu memeluk Bambang.
"Ayah, ayah bangun ayah, Afi nggak mau sendiri, ayah kenapa pergi secepat ini," rengek Hafizah.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun," ucap Biru, pria itu berusaha menenangkan istrinya.
"Sudah, tenang. Ada aku yang akan selalu menemani kamu," ucap Biru seraya mengusap lengan Hafizah dan Hafizah tidak menanggapi itu, hatinya sedih dan sekarang tidak mau melepaskan Bambang dari pelukannya.
****
"Maaf sayang, aku harus berubah mulai saat ini, aku ingin memantaskan diri untuk mendapatkan bidadari!" ucapnya, pria itu menatap tak tega pada botol-botol yang ada di kardus, kardus itu ia gendong keluar dari apartemen dan segera Biru meminta pada petugas kebersihan untuk membuang itu.
Bisakah Bram menjadi lelaki lebih baik? Tidak ada salahnya ketika orang ingin berbuat baik, ingin membenahi diri, dia menyadari kesalahannya sendiri, berusaha menjadi lebih baik lagi dengan meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat. Salah itu ketika diri ini merasa paling benar dan suci. Lebih baik dari orang lain, karena sejatinya manusia itu sulit untuk melihat kekurangan diri sendiri.
Setelah membuang itu, sekarang Bram merasa lebih sedikit lega, entah mengapa mungkin itu salah satu berkah nikmat yang ia rasakan ketika meninggalkan minuman haram itu.
"Sekarang gua harus cari kerja, gua harus bisa, gua enggak boleh kaya gini terus!" batin Bram, pria itu bersemangat dan sekarang menyiapkan berkas lamaran pekerjaan.
"Kerja apa gua, ijazah terakhir SMA!" gumamnya.
"Lagian lu nakal, bukannya kuliah yang bener, malu lah kita udah keluar dari rumah Dady malah jadi gelandangan!" timpal Marisa, wanita itu berdiri di pintu menatap Bram yang sedang duduk di ranjang.
"Lu juga, kerjaan lu apa, lu ikut gua kabur cuma ngerepotin doang! Pulang sana!" jawab Bram seraya bangun dari duduknya, pria itu menutup pintu kamarnya.
"Gua nggak mau pulang, gua nggak mau serumah sama Siska!" teriak Marisa dari balik pintu.
__ADS_1
"Merepotkan!" gumam Bram seraya kembali duduk di tepi ranjang.
****
Di villa, Bambang yang sudah dimandikan dan dikafani itu segera disholati supaya tidak kemalaman untuk prosesi pemakamannya.
"Sayang, kamu harus kuat, sekarang hanya tersisa kita berdua untuk saling menguatkan dan jangan pernah meninggalkan aku walaupun aku sudah tidak kaya lagi."
"Iya, aku janji untuk itu!" kata Hafizah yang berada di dekapan Biru.
****
Satu minggu berlalu, sekarang Biru sedang bersiap untuk kembali ke Jakarta dan kali ini Biru meminta Hafizah untuk tetap di villa karena Biru tidak ingin melihat Hafizah kesusahannya mencari kerja di Jakarta.
"Iya, kamu semangat ya. Semangat cari kerja semoga dapat kerjaan yang sesuai dengan keinginan kamu!" ucap Hafizah seraya memakaikan dasi di leher Biru.
"Aku siapin sarapan dulu!" kata Hafizah yang baru saja selesai memasang dasi dan Biru mengecup keningnya.
Sekarang, Biru sedang mencari-cari jam tangannya. "Kemana jam aku?" tanyanya pada diri sendiri.
Pria itu mencari di setiap laci tapi masih tak menemukan. "Aku nggak bisa nggak pakai jam tangan!" gumamnya lalu, pria itu berfikir kalau jamnya bisa saja jatuh dan benar saja, Biru mecari ke kolong ranjang.
"Apa itu?" Biru segera mengambil paket yang tersimpan di sana.
"Paket kok ditaruh di bawah ranjang, katanya tas! Hmmm," gumam Biru.
"Tas seperti apa sih?" Penasaran dan sekarang mulai membuka itu.
"Apa ini?" tanyanya pada diri sendiri setelah membuka paket itu.
Pria itu merasa aneh dengan bantalan yang sedang dipegangnya.
Biru mencari tau nama benda itu di ponsel layar pintarnya.
Setelah mengetahui jawabannya pria itu terduduk di tepi ranjang, otaknya sudah berfikir kalau dirinya tah ditipu mentah-mentah.
Tetapi, Biru masih menepiskan kecurigaannya itu, pria itu berharap kalau apa yang dipikirkannya itu tidak benar.
__ADS_1
Bersambung.
Ayo ayo like, love dan votenya yuk.