
Ifraz memang kembali pulang, ia hanya memaafkan Maya dan Maya sekarang menjadi bahagia lagi, ia meminta pada Ifraz untuk meninggalkan Zenia tetapi itu membuat Ifraz merasa malas dengan Maya.
Berhari-hari sudah mereka lalui bersama, tetapi, Ifraz menjadi dingin pada Daniel dan Imelda yang mengekang Maya dan membuat dirinya harus mengenali Biru sebagai om.
Sekarang, sore hari, Maya sedang menunggu Ifraz dan Zenia di sebuah kafe, tidak lama kemudian yang ditunggu pun datang.
Maya berdiri dan mengulurkan tangan pada Zenia tetapi Zenia yang tidak ingin akrab dengan keluarga Ifraz itu mengabaikan uluran tangan Maya.
Ifraz melihat itu dan memilih seolah tak melihat, ia mengalihkan pembicaraan dan Maya menatap datar pada Zenia lalu tersenyum yang dipaksakan.
"Ifraz, wanita seperti inikah yang kamu harapkan?" tanya Maya dalam hati.
Ia juga berharap kalau Zenia akan berubah dan akan meminta pada Ifraz untuk membimbingnya.
Ifraz dan Zenia terlihat sangat mesra sampai tak melupakan keberadaan Maya.
Maya juga dapat melihat cinta Ifraz yang besar untuk Zenia.
Maya yang merasa menjadi nyamuk itu memilih untuk pergi ke toilet dan setelahnya langsung pergi menuju kantor suaminya.
Sesampainya di sana, Daniel sudah bersiap untuk pulang.
"Sayang, baru mau aku jemput!" kata Daniel seraya membawa Maya ke dalma pelukan.
Maya diam saja, ia tidak menjawab, karena sebenarnya ada yang mengganggu hatinya.
Lalu Daniel teringat dengan Maya yang sempat meminta izin untuk pergi bersama dengan Ifraz dan Zenia, Daniel mempertanyakan itu.
Maya menjawab dengan senyum.
"Kamu lelah, kan? Kita pulang aja, kasian Ken sendirian di rumah!" kata Maya dan Daniel pun menganggukkan kepala.
Sekarang, Daniel dan Maya berjalan bergandengan tangan keluar dari ruangan Daniel sampai ke parkiran.
****
Begitu juga dengan Biru, pria itu yang baru pulang dari kantornya merasa kecewa dan kesepian setelah Pia lebih sibuk dengan urusan kuliah dan tokonya, Ifraz yang menjauh darinya.
"Mah, hidupku ini sangat menyedihkan!" batin Biru, pria itu merindukan Murni dan sekarang memilih membelokkan mobilnya ke jalan arah Makam.
__ADS_1
hari sudah hampir gelap dan ternyata TPU sudah hampir tutup. Biru meminta waktu pada penjaga untuk menziarahi makan mamahnya.
Di sana, Biru menangis dan kembali berandai-andai apabila waktu dapat di putar kembali, sayangnya semua itu tidak akan pernah kembali.
Setelah menangis dan membaca doa untuk Murni, sekarang Biru memilih untuk pulang.
****
Di rumah Daniel, Maya menyiapkan air mandi untuk suaminya, ia menunggu suaminya dengan duduk di kursi meja rias menatap pantulan dirinya yang terlihat menyedihkan.
Sementara itu, Ifraz dan Zenia semakin mesra, sekarang Zenia mengajak Ifraz untuk menonton bioskop, di sana Zenia dengan sengaja meletakkan tangannya di paha Ifraz membuat pria itu menjadi salting.
Ifraz segera mengambil tangan Zenia dan segera menggenggamnya, Ifraz juga membawa Zenia untuk menyandar ke lengannya.
****
Di rumah Marisa, ia sedang menerima tamu yang datang kerumahnya untuk menjadi perawat Bram dan juga yang akan membantu Bram terapi dan Marisa segera membawa wanita yang mungkin seusia dengan Maya. Sekarang Marisa mengantar wanita itu ke rumah Brandon dan mengenalkannya pada Bram.
****
Selesai nonton bioskop, sekarang Ifraz mengantarkan Zenia pulang dan Ifraz langsung pamit karena hari sudah malam.
Sekarang Ifraz kembali mengendarai motornya, ia pulang ke rumah dan di sana ia melewati Daniel yang sedang duduk bersama dengan Maya di ruang tengah.
Daniel memanggilnya dan Ifraz seolah tidak mendengar.
Daniel yang sudah hampir habis kesabaran itu di tahan oleh Maya.
"Mas, sabar, aku ngga mau dia pergi lagi," kata Maya seraya menahan lengan Daniel yang bersiap berdiri.
Daniel hanya diam kalau itu sudah permintaan Maya.
"Mas, jangan kita balas dengan kekerasan, nanti dia akan memberontak!" kata Maya dan Daniel pun kembali duduk, menatap tajam Ifraz yang berjalan ke kamarnya.
Hari-hari Ifraz lalu seperti itu, hanya menganggap Maya, ia menganggap yang lain tidak ada, terutama Imelda yang sudah meminta Maya untuk memisahkannya dengan Biru.
Sekarang, Ifraz semakin dekat dengan Zenia, Zenia juga sudah terbiasa keluar masuk rumah Daniel meski di sana tidak ada yang menyukainya, Zenia tetap bertahan dan memaksakan diri berada di rumah itu.
Sekarang, Zenia yang baru saja ikut makan malam bersama dengan keluarga Ifraz itu pulang ke rumah Bram karena Marisa masih berada di sana.
__ADS_1
"Gue balik sendiri aja, naik taksi!" kata Zenia yang berdiri di depan pagar rumah Daniel.
"Gue nggak enak lah, kan tadi lo ke sini gue jemput!" kata Ifraz dan Zenia ternyata sudah memesan taksi.
"Nggak papa, lo santai aja!" kata Zenia seraya mengusap lengan Ifraz.
"Ya sudah, hati-hati!" kata Ifraz seraya melambaikan tangan pada Zenia.
Zenia pun membalas lambaian itu.
Tersenyum yang dipaksakan, entah apa yang membuat Zenia seperti itu.
Setelah beberapa menit perjalanan, sekarang Zenia sudah sampai di rumah Bram, di sana, terlihat Bram sudah mulai bisa berdiri dan melangkahkan kakinya untuk beberapa langkah.
"Wah, Om hebat, selamat ya, akhirnya om bisa jalan lagi," kata Zenia dan Bram pun tersenyum.
Setelah itu, Zenia pergi ke kamar mandi, di sana, ia melihat pantulan dirinya di cermin, membasuh wajahnya.
Masih terbayang dengan jelas, keluarga Ifraz semua sangat baik, walau Zenia sudah tidak bersikap baik tetapi mereka masih mau menerimanya.
Zenia juga dapat melihat ketulusan hati Maya.
"Nggak seharusnya gue permainin keluarga itu, nggak ada tanda-tanda mereka jahat!" batin Zenia.
Selesai dengan itu, Zenia keluar dari kamar mandi, ia melihat rumah Bram sangat sepi, ya, karena hanya Bram dan Marisa saat ini, sedangkan Brandon dan istrinya berada di villa, di usia lanjutnya Brandon lebih suka hidup di pedesaan dengan suasana yang menenangkan.
Sekarang, Zenia melihat Bram sedang duduk di kursi roda dan mendorongnya ke kamar, Zenia mengikuti pria itu dan sedangkan Bram tidak suka kalau ada yang masuk ke kamar itu selain Marisa dan pekerjanya yang akan membersihkan kamar.
"Ngapain kamu?" tanya Bram pada Zenia yang ikut masuk kamar.
"Ada yang ingin Zen tanyakan, om!"
"Apa itu, cepatlah dan keluarlah!" kata Bram seraya menatap tajam Zenia dan Zenia membalas tatapan itu dengan senyum kikuk.
Setelah itu, Zenia menatap seisi ruangan Bram yang terlihat rapih dan kamar itu sepertinya sudah di bersihkan dari jejak-jejak masalalunya.
Ya, Bram sudah menyimpan semua foto Maya dan Ifraz di gudang.
Bersambung.
__ADS_1
Emmm, kira-kira apa ya yang membuat Zenia menerobos kamar Bram.