Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Hatiku Berdebar!


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit, Biru langsung masuk ke kamarnya dan Pia hanya diam, ia memilih untuk masuk ke kamarnya sendiri, menghubungi Karena dan menceritakan semuanya.


Karen sempat tidak percaya karena Pia tidak terlihat seperti anak angkat.


"Gue serius, Ren!" kata Pia.


"Beneran?"


tanya Karena dari sambungan teleponnya.


"Hhmmm!" Pia menarik nafas dan sekarang yang sedang berdiri di depan kaca rias itu melihat Ifraz, membuat ia teringat dengan sahabatnya.


"Ren, udah dulu ya!" kata Pia dan Karena pun mengiyakan, tidak lupa meminta Pia untuk tetap semangat.


Setelah itu, Pia mengambil foto miliknya yang sedang duduk berdua di ayunan taman, Pia merobek foto itu menjadi dua bagian.


"Begini lebih bagus, lo sekarang bukan Ifraz yang gue kenal!" kata Pia, gadis itu menyimpan potongan foto itu di laci.


****


Di rumah sakit, Maya duduk diam menatap jendela dan Daniel mengatakan kalau Maya sudah boleh pulang. Ya, Maya meminta pulang karena merasa tidak betah berada di rumah sakit.


Daniel pun membantu Maya untuk mengganti baju dengan baju santainya.


Setelah selesai bersiap, sekarang Daniel dibantu oleh suster memindahkan Maya di kursi roda.


"Semoga lekas pulih, jaga kesehatan dan pola makannya ya, Bu," ucap suster itu dan Maya pun tersenyum, menganggukkan kepala.


Daniel yang menggendong tas berisi barang milik Maya itu mendorong kursi roda tersebut keluar dari ruangan.


Maya yang masih terlihat pucat itu masih dengan tanpa ekspresi, selalu merindukan Ifraz, Ifraz dan Ifraz.


"Bodoh kamu, kenapa kamu lebih memilih untuk percaya pada orang lain! Harusnya kamu tau kalau mereka itu jahat!" kata Maya dalam hati.


Maya memikirkan anaknya sampai tidak sadar kalau sekarang sudah sampai di rumah.


Maya di sambut oleh Kania yang sudah menunggunya.


"Mamah!" seru Kania dan Maya tersenyum, membuka tangannya dan Kania pun masuk ke dalam pelukan Maya.

__ADS_1


"Mah, kamar mamah udah rapih, itu Ken loh yang rapihin!" ucap Kania dengan bangganya dan Maya tersenyum, lalu memuji anaknya.


Maya juga membelai lembut pipi Kania dan sekarang Daniel mengajaknya untuk masuk karena cuaca di luar sedang kurang bersahabat.


****


Sore ini, Biru mengajak Pia untuk ziarah ke makam ibu kandungnya.


"Bu, maafin Pia, Pia baru bisa datang, mulai sekarang, Pia akan mendoakan ibu, walaupun Pia tidak mengenal ibu, tetapi Pia sayang sama ibu!" kata Pia seraya mengusap batu nisan ibunya.


Pia yang sedang berjongkok itu mendongakkan kepala menatap Biru yang berdiri di belakangnya


Setelah itu, Pia mengajak Biru untuk pulang dan Biru mengiyakan. Sebelum pulang, Biru mengajak Pia untuk makan di restoran dan setelah memberitahu Pia yang sebenarnya, sekarang Biru merasa kalau Pia menjadi pendiam.


"Pia, sudah ayah katakan, jangan berubah. Kamu tetap anak ayah!" kata Biru yang duduk di kursi depannya.


Pia menganggukkan kepala dan sekarang makanan yang di pesan sudah hadir.


Keduanya makan tanpa bersuara.


****


Zenia memanggil Ifraz dan yang dipanggil pun melihat ke arahnya.


"Jangan terlalu percaya sama Tante dan Om, walau bagaimana pun, mereka orang tua yang udah ngebesarin lo! Lo tau, gue udah lama hidup tanpa cinta, nyokap gue meninggal karena disiksa sama bokap, gue liat sendiri dengan kepala mata gue bukan mata tetangga! Jadi... lo itu beruntung, walaupun Daniel ayah tiri lo seenggaknya dia sayang, enggak ngebeda-bedain lo dan Ken!"


Ifraz diam untuk beberapa saat, sepertinya pria itu mulai mencerna ucapan Zenia.


"Gue merasa dibohongi dan itu selama belasan tahun!" jawab Ifraz kemudian.


"Mereka punya alasan, entah apapun itu, jangan siksa nyokap lo, gue tanpa nyokap gue kehilangan arah, dia satu-satunya hidup gue, setelah dia pergi gue jadi berandalan!" Zenia menceritakan semua pada Ifraz dan Ifraz merasa kalau hidup Zenia sangat berat.


Ifraz pun menganggukkan kepala. Apakah Ifraz akan menuruti Zenia?


"Pulang, lo harus minta maaf sama Tante!" kata Zenia dan Ifraz pun menganggukkan kepala, menatap mata Zenia, tersenyum, lalu Ifraz beralih menatap bibir tipis Zenia.


Sekarang, kedua anak muda itu sudah saling menautkan, Ifraz menyesap benda tipis yang sekarang menjadi candunya, dengan bersemangat Zenia membalas apa yang Ifraz lakukan. Keduanya menghentikan itu saat hampir kehabisan nafas, tersenyum bersama dan Ifraz mengusap bibir Zenia yang basah karena ulahnya.


"Terimakasih, Zen. Lo selalu mengerti gue!" ucap Ifraz dan Zenia tersenyum manis.

__ADS_1


"Udah seharusnya kan!" jawab Zenia dan sekarang Ifraz mengajak Zenia untuk masuk ke ke villa sewaan karena cuaca di pantai sedang tidak bagus.


Di dalam, Ifraz mengajak Zenia untuk mabar dan Zenia yang tidak terlalu menyukai game itu merasa bosan dan selalu kalah, sekali kalah Zenia harus mencium Ifraz sebanyak 10x.


"Males ah, masa gue kalah mulu!" gerutu Zenia seraya melepaskan ponselnya.


"Dih, ngambek. Kalau mau menang semangat dong!" kata Ifraz.


"Ya seenggaknya pura-pura kalah kek, ngalah kek sekali juga nggak papa!" kata Zenia dan Ifraz yang mendengar itu mengira kalau Zenia meminta untuk di cium.


Ifraz meletakkan ponselnya dan sekarang menatap Zenia yang cemberut.


"Apa?" tanya Zenia dan Ifraz semakin memajukan wajahnya.


"Minta dicium kan?" tanya Ifraz dan belum sempat menjawab Ifraz sudah merangkum wajah Zenia dan sekarang Ifraz mencium setiap inci wajah cantik kekasihnya.


"Astaga, kenapa gue berdebar!" kata Zenia dalam hati. Sekarang, Zenia mendorong Ifraz hingga apa yang sedang dilakukan olehnya itu terhenti.


Zenia bangun dan berlari, masuk ke kamarnya, meninggalkan Ifraz yang senyum-senyum sendiri, menatap kepergian Zenia.


Di balik pintu! Zenia berdiri, menyenderkan punggungnya di pintu.


"Gue berdebar, astaga, baru kali ini gue rasain yang kaya gini!" batin Zenia, ia tersenyum dan pipinya merona.


Lalu, Zenia kembali teringat dengan ucapan Marisa yang menyuruhnya untuk membuat Ifraz jatuh sejatuh-jatuhnya.


"Maafin gue, Ifraz. Dengan cara ini juga nanti lo kembali sama keluarga, lo! Gue udah terlanjur masuk ke permainan ini dan gue juga nggak tau kalau ternyata lo sangat polos dan mudah dibohongi, maafin gue, Faz, suatu hari nanti gue bakal kasih pengalaman berharga dalam hidup lo!" ucapnya pada diri sendiri.


****


Liburan keluarga telah usai, sekarang acara perpisahan di sekolah, Ifraz dan Zenia semakin lengket, Pia melihat itu dan sekarang memilih untuk tidak menghiraukan itu walau hatinya terasa sakit.


"Gue nggak akan ganggu kalian lagi, setelah ini gue akan menghilang dari kehidupan kalian!" batin Pia seraya menatap Ifraz dan Zenia.


Ifraz menyadari itu ada sedikit rasa tidak tega pada Pia, lalu Ifraz yang sedang menggandeng Zenia itu melepaskannya, pria itu mendekati Pia yang sedang berdiri di tengah keramaian, Ifraz membawa Pia keluar dari acara, entah apa yang akan Ifraz katakan pada gadis lugu itu.


Bersambung.


Jangan lupa klik like dan di favoritkan ya, masih ada vote gratisnya? Yuk di vote! Terimakasih atas segala bentuk dukungannya. Sampai jumpa di episode selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2