Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Gila?


__ADS_3

Kania bertanya pada Maya, "Mah, kenapa?"


Maya pun segera berhenti tersenyum lalu menggelengkan kepala.


Maya menjawab tidak apa-apa dan meminta Kania untuk cepat menghabiskan makanannya lalu segera pulang.


"Baik, Mah!"


"Anak nurut," puji Maya pada Kania seraya mengusap pucuk kepalanya.


Bila Maya tersenyum, sekarang Biru juga tersenyum, mengemudikan mobilnya dengan perasaan senang setelah melihat Maya.


****


Hari telah berlalu, sekarang para pendaki itu juga sudah kembali turun. Ifraz menggendong belakang Pia yang kelelahan dan Pia menyenderkan kepalanya di bahu Ifraz dengan nyaman.


Setelah sampai di pos Ifraz menurunkan Pia dan Pia menjadi senyum-senyum sendiri.


"Makasih," lirih Pia seraya merapikan jaketnya.


"Apa, nggak denger!" kata Ifraz yang sedang mengambil tasnya dari tangan Miko dan sebenarnya tadi yang menawarkan gendongan adalah Miko, tetapi Ifraz tidak menerima itu dan segera melemparkan tas miliknya pada Miko dan Ifraz menggendong Pia.


"Makasih!" teriak Pia di telinga Ifraz dan Ifraz masih bersikap biasa saja, lelaki itu terlalu dingin sehingga merasa gengsi untuk menunjukkan sedikit senyumnya untuk Pia.


Tetapi, walau seperti hanya seperti itu sudah membuat Pia merasa kalau Ifraz telah kembali, Pia makin bersemangat untuk mengembalikan Ifraz yang hangat.


Sekarang, Miko sedang mengendarai mobilnya ke penginapan, sesekali melirik Pia yang sedang duduk di bangku tengah, Pia terlihat senyum-senyum sendiri dan itu membuat Miko menyadari kalau Pia menyukai kakak kembarnya sendiri.


"Masa saingan gue abangnya!" batin Miko dengan kembali fokus menyetir sedangkan Ifraz tertidur di bangku belakang.


****


Di rumah, Biru merasa kesepian karena dua anaknya tidak ada, sekarang Biru menyetel kaset lama, menonton sendirian di kamarnya, apa yang Biru tonton? Tentunya bukan film biru, Biru seolah mengalami flashback di mana dirinya menyambut kelahiran putranya.


Ya, Biru sedang menonton itu, rekaman yang ia rekam saat menantikan kelahiran Ifraz.


Biru menangis dan masih terasa di tangannya saat ia menyentuh kaki mungil Ifraz yang masih merah.


Biru juga merekam Maya yang terlihat pucat setelah melahirkan, Maya tersenyum seraya memanggilnya, "Mas."

__ADS_1


Biru tak kuasa lagi untuk melanjutkan, ia segera mematikan layar monitor itu dan kembali menyimpan kaset itu.


"Bodoh!" pikir Biru, ia mengusap matanya yang basah, merindukan kebahagiaan yang telah ia rusak.


Sekarang, Biru menerima beberapa foto dari Pia, Biru merasa senang melihat anak-anaknya saling menjaga dan berharap kalau mereka berjodoh.


"Pia, ayah hanya bisa mendoakan kalian berjodoh dan semoga setelah kebersamaan kalian kali ini dapat membuat Ifraz kembali seperti dulu, walaupun itu sepertinya susah," batin Biru seraya menatap foto Pia yang sedang berada di puncak bersama dengan Ifraz dan juga rombongan lainnya.


****


Keesokan harinya, Pia dan Ifraz sudah sampai di rumah, keduanya merasa kalau seluruh badan mereka sakit dan meminta pada asistennya untuk memanggil tukang urut yang paling yahud.


Benar saja, saat matahari mulai naik, ibu urut sudah datang dan yang pertama mendapatkan sentuhan dari tangan ajaib Mbok Darmi adalah Pia.


Pia menikmati setiap sentuhan Mbok Darmi, setelah satu jam, Pia merasa kalau semua urat di tubuhnya mulai mengendor dan Pia merasa lega karena badannya mulai berangsur membaik (tidak sakit) lagi.


Sekarang giliran Ifraz, tetapi lelaki itu menolak dan Mbok Darmi pun tidak memaksa. Lalu, Ifraz mendengar kalau Biru memanggilnya, ia segera datang dan Biru meminta Ifraz untuk duduk.


Ifraz duduk di sofa ruang tengah dan Biru memerintahkan pada Ifraz untuk menghubungi Maya.


"Males," jawab Ifraz, setelah itu bangun dari duduknya, melangkahkan kaki dan langkah itu terhenti saat Biru mengatakan kalau Maya sangat merindukannya.


"Ibumu semakin kurus, hubungi dia, temui dia, sayangilah ibumu, dia tidak bersalah, dari awal dia hanya korban! Jangan menambah luka di hatinya!" kata Biru, kemudian Biru bangun dari duduknya dan pergi entah kemana.


****


"Zen!" lirih Ifraz, pria itu terpaku, kembali merasa sakit hatinya dan terlihat kalau Zen semakin cantik di mata Ifraz, tanpa Ifraz ketahui kalau Zenia sedang mengandung anaknya.


Seolah waktu telah berhenti, Ifraz sama sekali tak bergeming, ia menatap Zenia yang sedang berjalan ke arah rak susu dan memilih susu ibu hamil.


"Apa? Hamil? Apakah itu anakku?" tanya Ifraz pada diri sendiri.


Ifraz pun memberanikan untuk mendekat dan seketika menahan tangan Zenia yang sedang mengambil kotak susu.


"Lo hamil?" tanya Ifraz dan Zenia sangat terkejut.


Zenia menatap Ifraz dan memintanya untuk melepaskan tangannya.


"Jawab!" geram Ifraz, lalu Bram yang datang dengan membawa kopi di tangannya itu meminta Ifraz untuk melepaskan tangan Zenia.

__ADS_1


"Lepas!"


"Dadd!" Ifraz masih memanggilnya Daddy.


(Duuuh, bodoh banget si Ifraz ini, ayahnya sendiri masih dipanggil Om, sedangkan orang lain dipanggil Daddy!)


"Berhenti memanggilku Daddy!" kata Bram, ia melepaskan tangan Ifraz dari tangan Zenia.


"Dia hamil, anakku!" kata Ifraz dengan pedenya dan seketika banyak orang yang meliriknya.


Zenia menjadi malu dan menundukkan kepala, sementara Bram yang teringat dengan permintaan Zenia itu mengatakan kalau bayi yang di kandungannya itu adalah miliknya.


"Dia anakku, sudah jelas, sekarang kamu pergi!" kata Bram.


Mendengar itu membuat Ifraz mengira kalau Zenia wanita gampangan yang mau tidur dengan siapapun.


"Murahan!" kata Ifraz sebelum pergi meninggalkan Zenia yang menundukkan kepala, sementara Bram, ia mendekap Zenia, mengusap rambutnya dan Zenia menangis di pelukan Bram.


Ifraz membatalkan niatnya untuk berbelanja dan sekarang keluar dari mall dengan perasaan yang semakin hancur.


"Bangsad!" gerutu Ifraz yang sekarang sudah berada di atas motornya.


Ia mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah Maya, ia kembali ke rumah Biru dan berjalan dengan cepat sampai tak menyadari kalau Pia sedang membawa susu hangat di tangannya, Ifraz menabrak Pia dan tak memperdulikan Pia yang terkena tumpahan susu.


"Astaga!" teriak Pia, gadis itu ingin melempar gelas yang ada di tangannya untuk Ifraz.


Setelah itu, tidak lama kemudian terdengar suara gitar listrik Ifraz.


Pia menggedor pintu itu dan meminta pada Ifraz untuk tidak berisik.


"Berisik! Tau nggak sih lo, berisik!" teriak Pia dari pintu dan Ifraz tak menghiraukannya.


Pia mencabut colokan nya itu dan Ifraz menatap Pia yang juga menatapnya.


Sekarang, Ifraz menutup pintu itu dan membawa Pia ke ranjang.


Ifraz sudah berada di atas di Pia dan sekarang Ifraz mencium Pia dengan paksa.


Hah! Apa yang akan Ifraz lakukan?

__ADS_1


Bersambung.


Pembaca yang baik, jangan lupa like, komen dan dukungan berupa Vote/Giftnya, ya. Terimakasih bagi yang sudah membaca.


__ADS_2