Ketika Cinta Itu Terbagi

Ketika Cinta Itu Terbagi
Kania Merajuk


__ADS_3

Jangan lupa like ya guys 🤗


Selamat membaca.


Di sebuah cafe, Imelda pergi menemui Maya yang ternyata sudah menunggunya di sana.


"Ada apa?" tanya Imelda seraya menarik kursi, kemudian duduk.


"Ada yang ingin Maya sampaikan, Mah," jawab Maya seraya menatap Imelda.


"Apa itu, tumben dan sepertinya sangat penting?"


"Iya, Mah. Ini sangat penting dan ini mengenai anak mamah."


"Maksud kamu apa, kenapa dengan anak saya? Tolong jangan berbelit!"


"Mah, mamah tau selama ini Maya sudah berusaha menjadi yang mamah dan Daniel mau, tapi mamah tidak pernah puas, tidak pernah menghargai dan selalu curiga, selalu menuntut ini dan itu," ucap Maya, setelah mengatakan itu Maya mengambil jeda untuk bernafas dan merasa heran dari mana dirinya mendapatkan kekuatan dan keberanian itu.


Sementara Imelda merasa kalau Maya sudah berani kurang ajar padanya.


"Apa karena kamu sekarang sering bertemu dengan Biru lalu membuat kamu berani kurang ajar?" cibir Imelda seraya menatap tajam Maya.


"Ini nggak ada sangkut pautnya dengan Mas Biru, dia hanya masa laluku, kenapa mamah selalu membawa dia di setiap obrolan kita?" tanya Maya seraya menatap Imelda.


"Maya pikir selama ini Maya hidup dalam karma. Maya dikhianati Mas Biru karena telah melukai Daniel di masa lalu, sekarang Maya menderita karena telah dengan teganya meninggalkan Bram yang sedang terbaring di rumah sakit waktu itu, Maya rasa 15 tahun adalah waktu yang cukup bagi Maya untuk menjalani hukuman."


Mendengar itu Imelda menjadi naik darah, bagaimana tidak, ia menganggap kalau Maya berumah tangga dengan anaknya adalah sebuah kesalahan tepatnya adaah hukuman untuk Maya.


Imelda bangun dari duduknya dan menampar Maya dengan sangat keras.


PLAK!


Maya hanya diam, mengusap pipinya yang memerah karena tamparan itu. Maya juga tak menghiraukan tatapan orang-orang yang menatapnya.


Sekarang Maya bangun dari duduknya dan menatap Imelda yang sedang melototi dirinya.


"Keputusan ku sudah tepat, aku mengembalikan Daniel dengan cara biak-baik, aku tidak perlu lagi menyakiti kalian dan menyakiti diriku."


Setelah mengatakan itu Maya pergi meninggalkan Imelda yang terdiam.

__ADS_1


"Jala*ng itu menyakiti anakku lagi!" gumam Imelda seraya menatap kepergian Maya.


Imelda pergi menyusul Maya, berjalan dengan cepat, tangannya itu sudah sangat gatal ingin menarik rambut Maya dari belakang.


Tetapi, langkah Imelda terhenti saat daniel memotong jalan Imelda.


"Jangan halangi langkah mamah!" teriak Imelda dan segera Daniel membawa Imelda untuk pulang.


Di perjalanan, Imelda menyalahkan Daniel yang sudah mempercayai Maya dan menikahinya.


"Mah, sampai kapanpun daniel akan tetap mencintai Maya, walau nanti kami akan berpisah Daniel akan tetap mencintainya!" ucap daniel dengan nada sedikit tinggi dan ini adalah pertama kalinya bagi Daniel berbicara seperti itu dengan ibunya.


Imelda yang merasa kalau Daniel sedang kacau itu memilih untuk diam.


Masih diam....


Setelah merasa sedikit tenang, Daniel pun mengajak Imelda untuk berbicara baik-baik.


"Mah, dulu Daniel yang memaksa Maya untuk menerima Daniel kembali, walau Daniel tau kala itu yang ada di hatinya bukanlah Daniel, Daniel berfikir kalau Daniel adalah masa lalunya maka akan dengan mudah membuat Maya untuk mencintai Daniel lagi, tapi setelah Daniel merenung, selama ini Maya hanya sebatas melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Daniel menyadari apa yang membuat Maya tidak lagi bisa mencintai Daniel, itu semua karena kita, Mah. Kita menuntut Maya ini dan itu! Mamah terlalu takut Maya menyakitiku sampai kita lupa dengan perasaan Maya!"


Daniel mengusap air matanya dan Imelda mengusap punggung anaknya yang bergetar.


****


"Ken, malam-malam begini kenapa kamu di sini?" tanya Maya seraya memeluk Kania yang terlihat bersedih, Kania yang merasa kecewa degan Maya itu mendorong Maya sampai pelukan itu terlepas.


"Mah, apa mamah akan pergi tinggalin papah?" tanya Kania dengan nada tinggi.


"Maaf, Ken. Ini adalah urusan orang dewasa, Mamah juga tidak akan memaksa kamu akan ikut dengan siapa, karena kamu adalah milik kami dan akan selalu bersama kami walau nanti kita sudah tidak satu atap lagi!" jawab Maya seraya membelai lembut pipi Kania dan Kania menepiskan tangan Maya.


Kania mendapatkan jawaban yang bukan diinginkannya dan sekarang Kania pergi dari hotel.


Maya berteriak memanggil Kania, merasa khawatir karena hari sudah malam.


"Ken, sudah malam, menginaplah di sini!"


Kania mengabaikan teriakan Maya yang mengejarnya.


"Nggak usah khawatir sama aku, aku bisa beladiri!" batin Kania, gadis itu terus berlari dan sekarang gadis itu menyetop taksi.

__ADS_1


Maya kehilangan kania saat keluar dari hotel dan anaknya itu sudah tidak terlihat.


"Ken, maafkan mamah. Mamah yakin lama-lama akan terbiasa!"


Sementara Kania sedang menangis di taksi.


Kesempatan ini di ambil oleh sopir taksi yang baru saja menonton vidio biru dari layar ponslenya.


Sopir taksi itu membawa Kania ke tempat yang sepi, Kania menyadari itu dan segera meminta untuk berhenti, mobil itu berhenti tetapi bukan untuk membebaskan Kania.


Justru sopir tersebut mengunci mobil itu supaya Kania tidak dapat keluar.


Kania sudah berpikir yang macam-macam dan memang sopir itu ingin berniat yang tidak benar.


Tanpa sopir itu tau kalau Kania jago dalam ilmu beladiri, tetapi apakah Kania dapat melawan di dalam mobil?


Sopir itu mulai pindah ke bangku belakang dan Kania mengancam akan menghabisinya kalau berani menyentuh.


"Hahaa, kamu gadis kecil lemah seperti ini bisa melawanku? Aku lebih besar cantik, lagipula ini nikmat, nikmati saja!" kata sopir itu seraya membelai rambut hitam Kania.


Kania meninju rahang pria itu sampai sudut bibirnya berdarah dan pria itu tidak tinggal diam, pria tinggi besar itu sudah naik pitam dan ingin segera memberi pelajaran untuk Kania.


Kania yang sedang meloncat ke bangku depan itu di tarik rambutnya dari belakang.


"Aaaa!" teriak Kania yang sekarang sudah berada di pangkuan pria itu.


Kania menangis karena tangan pria itu berhasil menyentuh dadanya dan Kania segera memberi pelajaran dengan meninju burung sopir itu sampai pelukan pria sangar itu terlepas.


Kania segera meloncat ke bangku depan dan berhasil keluar, tidak tinggal diam membuat sopir itu mengejar Kania.


Kania melihat ke sekelilingnya sangat sepi, sesekali Kania melihat ke belakang dan pria itu masih mengejarnya dengan memegangi burungnya yang masih linu.


Lalu Kania menghentikan langkah kakinya saat melihat sosok yang ia kenal berada di belakang sopir.


Kania merasa lega karena orang itu adalah Biru.


"Om!" seru Kania dan sopir itu melihat ke belakang, seketika langsung mendapatkan tinju dari Biru.


Sekali tinju saja sudah membuat pria itu terkapar dan segera Biru menghubungi polisi.

__ADS_1


Kania pun selamat.


Bersambung.


__ADS_2